Arti Kata

Mengenal Apa Itu Hipomania, Kendala Psikologis yang Dialami Bharada E Terdakwa Kasus Brigadir J

Ahli psikologi klinis menyebut bahwa terdakwa kasus pembunuhan berencana Brigadir J sekaligus ajudan Ferdy Sambo, Bharada E cenderung hipomania.

Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ananda Putri Octaviani
YouTube KOMPASTV
Terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu (Bharada E) dalam sidang lanjutan perkara pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (26/12/2022). Dalam sidang tersebut, Bharada E disebut cenderung memiliki kendala psikologis hipomania dominan, apa itu? 

TRIBUNGORONTALO.COM - Richard Eliezer Pudihang Lumiu (Bharada E) disebut cenderung memiliki kendala psikologis yang disebut hipomania dominan.

Gejala Hipomania yang dialami Bharada E ini diungkapkan ahli psikologi dalam sidang perkara pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat (Brigadir J).

Apa Itu Hipomania?

Dilansir TribunGorontalo.com dari Cleveland Clinic, Hipomania adalah suatu kondisi di mana seseorang mengalami periode peningkatan yang tidak normal, perubahan ekstrem dalam suasana hati atau emosi, tingkat energi, atau tingkat aktivitas Anda.

Baca juga: Mengenal Apa Itu Tonic Immobility, Respons yang Berpotensi Kuat Dialami Putri Candrawathi

Tingkat energi, suasana hati, dan perilaku yang berenergi ini harus merupakan perubahan dari diri seseorang itu yang biasa dan dapat dilihat oleh orang lain.

Hypomania atau hipomania ialah gejala gangguan bipolar, tetapi juga bisa menjadi gejala kondisi kesehatan mental lainnya.

Pemicu Hipomania

- Situasi atau lingkungan yang sangat merangsang (misalnya banyak kebisingan, lampu terang, kerumunan besar)

- Perubahan besar dalam hidup (misalnya, perceraian, pernikahan, kehilangan pekerjaan)

- Kurang tidur

- Penggunaan zat, seperti narkoba atau alkohol.

Baca juga: Beda dengan Ferdy Sambo, Bharada E Pilih Tak Ajukan Eksepsi, Apa Itu Eksepsi?

Berapa lama episode hipomanik berlangsung?

Menurut kriteria hipomania, hipomania biasanya bertahan setidaknya empat hari.

Tapi itu bisa bertahan hingga beberapa bulan.

Baca juga: Apa Itu Putusan Sela? Bagian Sidang Kasus Brigadir J yang Nyatakan Eksepsi Ferdy Sambo Cs Ditolak

Apa yang terjadi setelah episode hipomanik?

Setelah episode hipomanik seseorang mungkin:

- Merasa senang atau malu dengan perilakunya sendiri.

- Merasa kewalahan dengan semua aktivitas yang telah disetujui untuk dilakukan.

- Hanya memiliki sedikit atau ingatan yang tidak jelas tentang apa yang terjadi selama episode manik.

- Merasa sangat lelah dan butuh tidur.

- Merasa tertekan (jika hipomania adalah bagian dari gangguan bipolar).

Baca juga: Apa Itu Verstek? Putusan yang Diyakini Deolipa Yumara Jadi Tiket untuk Jadi Pengacara Bharada E Lagi

Gejala Hipomania

Gejala hipomanik bervariasi dari orang ke orang, antara lain:

- Memiliki tingkat aktivitas atau energi yang sangat tinggi.

- Merasa sangat bahagia, bersemangat.

- Tidak tidur atau hanya tidur beberapa jam tetapi masih merasa istirahat.

- Memiliki harga diri yang melambung, mengira dirinya tak terkalahkan.

- Menjadi lebih banyak bicara dari biasanya. Berbicara begitu banyak dan begitu cepat sehingga orang lain tidak dapat menyela.

- Memiliki pemikiran yang berpacu, atau memiliki banyak pemikiran tentang banyak topik pada saat yang bersamaan (disebut "pelarian ide").

- Mudah teralihkan oleh hal-hal yang tidak penting atau tidak berhubungan.

- Terobsesi dan sepenuhnya terserap dalam aktivitas yang difokuskan.

- Menampilkan gerakan tanpa tujuan, seperti mondar-mandir di sekitar rumah atau kantor atau gelisah saat duduk.

- Menunjukkan perilaku impulsif yang dapat mengarah pada pilihan buruk, seperti berbelanja, berhubungan badan yang sembrono, atau investasi bisnis yang asal-asalan.

Baca juga: Apa Itu GSR? Di Kasus Brigadir J Disebut Coba Dihilangkan Ferdy Sambo dengan Perintahkan Cuci Baju

Penyebab Hipomania

Para ilmuwan tidak sepenuhnya yakin apa yang menyebabkan hipomania.

Namun, ada beberapa faktor yang dianggap berkontribusi.

Penyebab hipomania berbeda dari orang ke orang, yakni:

- Sejarah keluarga.

- Ketidakseimbangan kimia di otak.

- Efek samping obat (seperti beberapa antidepresan), alkohol atau narkoba.

- Perubahan signifikan dalam hidup, seperti perceraian, pindah rumah, atau kematian orang yang dicintai.

- Situasi kehidupan yang sulit, seperti trauma atau pelecehan, atau masalah dengan tempat tinggal, uang, atau kesepian.

- Tingkat stres yang tinggi dan ketidakmampuan untuk mengelolanya.

- Kurang tidur atau perubahan pola tidur.

- Sebagai gejala masalah kesehatan mental termasuk siklotimia, gangguan afektif musiman, psikosis postpartum, gangguan skizoafektif atau kondisi fisik atau neurologis lainnya seperti cedera otak, tumor otak, stroke, demensia, lupus, atau ensefalitis.

Baca juga: Apa Itu Saksi Mahkota? Istilah yang Disematkan ke Bharada E, Siap Kejutkan Persidangan Ferdy Sambo

Kondisi Psikologis Bharada E

Terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu (Bharada E) dan Ahli Psikologi Klinis Liza Marielly Djaprie dalam sidang lanjutan perkara pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (26/12/2022).
Terdakwa Richard Eliezer Pudihang Lumiu (Bharada E) dan Ahli Psikologi Klinis Liza Marielly Djaprie dalam sidang lanjutan perkara pembunuhan berencana Nofriansyah Yosua Hutabarat atau Brigadir J di Pengadilan Negeri Jakarta Selatan pada Senin (26/12/2022). (YouTube KOMPASTV)

Ahli Psikologi Klinis Liza Marielly Djaprie menyebut Bharada E memiliki gejala yang mengarah pada kendala psikologis, hipomania dominan.

Hal itu diungkapkan Liza saat hadir sebagai saksi ahli yang meringankan terdakwa Bharada E dalam sidang kasus pembunuhan berencana Brigadir J di Pengadilan Negeri (PN) Jakarta Selatan, Senin (26/12/2022).

Liza terlebih dahulu memaparkan hasil tes terkait kecerdasan psikologis Bharada E.

Baca juga: Ahli Ungkap Hasil Tes Poligraf Ferdy Sambo dan Istrinya Terindikasi Berbohong, Apa Itu Poligraf?

"Kecerdasan Richard itu berfungsi rata-rata," sebut Liza di sidang PN Jakarta Selatan, Senin, seperti dilansir TribunGorontalo.com dari kanal YouTube KOMPASTV.

"Berfungsi dengan baik dalam arti bahwa dia mampu sebenarnya untuk mengolah informasi yang diberikan, dia tidak ada kesulitan untuk memahami instruksi dan perintah, dan kemudian dia juga tidak ada kesulitan dalam berinteraksi sosial," sambungnya.

Namun, kata Liza, karakter Bharada E yang sejak kecil cenderung patuh dan mencari damai dengan menghindari konflik, justru kerapkali membuat masalah tak bisa terselesaikan.

Baca juga: Apa Itu Visum et Repertum, Bukti Kuat yang Tak Dimilki Putri Candrawathi di Kasus Pelecehan Seksual

"Tapi dari kecil dia punya kecenderungan untuk patuh dan avoidance conflict, menghindari konflik, cenderung mencari damai, yang memang seringkali menyebabkan itu tidak menyelesaikan masalah," ugkap Liza.

"Tapi kemudian karena hubungan yang cukup baik dengan orangtua, biasanya kondisi-kondisi tersebut terurai karena dia banyak berdiskusi dengan orangtuanya, itu satu. Yang kedua, dari sisi keteguhan spiritualnya dia, dalam sisi agama, dan itu terlihat sekali berulang kali ada," jelasnya.

Hingga kemudian, Liza menyatakan bahwa dari hasil test psikologis atau MMPI, Bharada E memiliki kecenderungan hipomania dominan.

Baca juga: Para Hakim Penyidang Ferdy Sambo dkk Tak Ditempatkan di Safe House, Apa Itu Safe House?

"Selain itu, profil klinis yang didapatkan melalui asesmen MMPI juga memperlihatkan bahwa dalam beberapa waktu terakhir ini, Richard memiliki gejala yang menjurus ke kendala psikologis tertentu," terang Liza.

"Di mana profil klinis ini menunjukkan ia memiliki kecenderungan hipomania dominan," imbuhnya.

Liza menjelaskan kondisi Bharada E yang cenderung memiliki hipomania dominan tersebut.

"Karena ada emosi yang secara mudahnya kita katakan flip, dari takut yang luar biasa, dia kemudian flip berpindah ke spektrum yang lain menjadi sangat bersemangat dan berenergi untuk kemudian melakukan sesuatu," ujar Liza.

Baca juga: Apa Itu Dakwaan Kumulatif? Dakwaan Khusus untuk Ferdy Sambo yang Jadi Tersangka di 2 Kasus Yoshua

"Tapi tentu saja karena masalahnya belum selesai, hipomania ini sebenarnya adalah topeng yang di bawahnya adalah kecemasan," imbuhnya.

"Secara umum dia mampu untuk terbuka pada gagasan baru, kecenderungan analisa dan deduktifnya juga baik, tapi pada beberapa kondisi yang seperti tadi dikatakan, dia punya kecenderungan untuk patuh pada lingkungan, sehingga dia bisa melupakan sisi analisa dan deduktifnya ini, kurang lebih demikian." tandasnya.

Diberitakan sebelumnya, Brigadir J tewas ditembak di rumah dinas eks Kadiv Propam Polri Ferdy Sambo di Kompleks Polri Duren Tiga, Jakarta Selatan pada Jumat (8/7/2022).

Baca juga: Apa Itu P21? Kode dari Kejaksaan untuk Nyatakan Berkas Perkara Brigadir J dan Ferdy Sambo Lengkap

Peristiwa penembakan yang menewaskan Brigadir J itu lalu dinyatakan sebagai kasus pembunuhan berencana yang menjerat 5 orang pelaku antara lain:

- Ferdy Sambo;

- Putri Candrawathi istri Ferdy Sambo;

- Bharada E ajudan Ferdy Sambo;

- Ricky Rizal Wibowo (Bripka RR) ajudan Ferdy Sambo; dan

- Kuat Maruf, sopir kelurga Ferdy Sambo-Putri Candrawathi.

Kelimanya kini didakwa dengan Pasal 340 KUHP tentang pembunuhan berencana dengan ancaman hukuman mati atau penjara seumur hidup atau maksimal 20 tahun.

(TribunGorontalo.com/Nina Yuniar)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved