Arti Kata
Kemenkes Tetapkan KLB Polio Susul Kasus di Aceh, Apa Itu Polio? Kenali Gejala dan Bahayanya
Kemenkes resmi tetapkan status KLB Polio susul temuan kasus di Pidie, Aceh, apa itu Polio? Simak bahaya Polio dan pentingnya vaksinasi Polio.
Penulis: Nina Yuniar | Editor: Ananda Putri Octaviani
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/VAKSIN-POLIO.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Kementerian Kesehatan (Kemenkes) resmi menetapkan status Kejadian Luar Biasa (KLB) Polio.
Penetapan status KLB Polio ini merupakan respons Kemenkes terhadap satu kasus Polio yang ditemukan di Kabupaten Pidie, Aceh.
Menyusul hal ini, Ikatan Dokter Anak Indonesia (IDAI) bahkan mengungkapkan kegeramannya pada orangtua yang keberatan anaknya diberi vaksin Polio.
Apa Itu Polio?
Dilansir TribunGorontalo.com dari laman Centers for Disease Control and Prevention (CDC), Polio atau poliomielitis adalah penyakit yang melumpuhkan dan mengancam jiwa akibat virus polio.
Virus Polio menyebar dari orang ke orang dan dapat menginfeksi sumsum tulang belakang seseorang, serta menyebabkan kelumpuhan atau keadaan tidak dapat menggerakkan bagian tubuh.
Baca juga: Apa Itu Etilen Glikol? Senyawa Kimia di Obat Sirup yang Diduga Sebabkan Gagal Ginjal Akut Anak
Gejala Polio
Kebanyakan orang yang terinfeksi virus Polio tidak akan memiliki gejala yang terlihat.
Sekitar 1 dari 4 orang (atau 25 dari 100 orang) dengan infeksi virus Polio akan memiliki gejala seperti flu yang dapat meliputi:
- Sakit tenggorokan
- Demam
- Kelelahan
- Mual
- Sakit kepala
- Sakit perut
Gejala ini biasanya berlangsung 2 sampai 5 hari, kemudian hilang dengan sendirinya.
Sebagian kecil orang dengan infeksi virus Polio akan mengembangkan gejala lain yang lebih serius hingga memengaruhi otak dan sumsum tulang belakang, antara lain seperti:
- Meningitis (infeksi pada selaput sumsum tulang belakang dan/atau otak) terjadi pada sekitar 1–5 dari 100 orang dengan infeksi virus polio, tergantung jenis virusnya
- Kelumpuhan ataupun kelemahan pada lengan, kaki, atau keduanya terjadi pada sekitar 1 dari 200 orang hingga 1 dari 2000 orang, tergantung jenis virusnya.
Baca juga: Apa Itu Fomepizole? Obat Penawar Gagal Ginjal Akut yang Bakal Dibagikan Pemerintah Gratis
Bahaya Polio
Kelumpuhan merupakan gejala paling parah yang terkait dengan virus Polio karena dapat menyebabkan kecacatan permanen dan kematian.
Antara 2 dan 10 dari 100 orang yang mengalami kelumpuhan akibat infeksi virus Polio meninggal karena virus mempengaruhi otot yang membantu mereka bernapas.
Bahkan anak-anak yang tampaknya pulih sepenuhnya dapat mengalami nyeri otot, kelemahan, atau kelumpuhan baru saat dewasa, 15 hingga 40 tahun kemudian.
Baca juga: Apa Itu Gagal Ginjal Akut? Penyakit yang Secara Misterius Serang Anak-anak di Indonesia
Situasi itu disebut sindrom Pasca-Polio.
Perhatikan bahwa "Poliomielitis" (atau singkatnya "Polio") didefinisikan sebagai penyakit lumpuh.
Jadi hanya orang dengan infeksi lumpuh yang dianggap mengidap penyakit tersebut.
Penularan Polio
Poliovirus sangat menular dan menyebar melalui kontak orang ke orang.
Baca juga: Warga Korea Selatan Banyak yang Ikut Program CPR Pasca Tragedi Halloween Itaewon, Apa Itu CPR?
Virus Polio hidup di tenggorokan dan usus orang yang terinfeksi.
Virus Polio dapat mencemari makanan dan air dalam kondisi tidak sehat.
Poliovirus hanya menginfeksi manusia dan masuk ke dalam tubuh melalui mulut.
Virus Polio menyebar melalui:
- Kontak dengan kotoran (kotoran) orang yang terinfeksi
- Tetesan dari bersin atau batuk dari orang yang terinfeksi (kurang umum)
Baca juga: Jokowi Bentuk TGIPF untuk Tragedi Kanjuruhan dan Tunjuk Mahfud MD Jadi Ketua, Apa Itu TGIPF?
Anda dapat terinfeksi virus Polio jika:
- Anda telah mengambil potongan-potongan kecil kotoran di tangan lalu menyentuh mulut.
- Anda memasukkan benda-benda seperti mainan ke dalam mulut yang terkontaminasi tinja.
Orang yang terinfeksi dapat menyebarkan virus ke orang lain segera sebelum dan hingga 2 minggu setelah gejala muncul.
Virus dapat hidup di usus orang yang terinfeksi selama berminggu-minggu.
Itu dapat mencemari makanan dan air dalam kondisi tidak sehat.
Orang yang tidak memiliki gejala masih dapat menularkan virus ke orang lain dan membuat mereka sakit.
Baca juga: Apa Itu CN? Jenis Gas Air Mata yang Sering Digunakan Aparat Kepolisian untuk Bubarkan Kerusuhan
Pencegahan Polio
Ada dua jenis vaksin yang dapat mencegah Polio, yakni:
- Vaksin virus Polio inaktif (IPV) diberikan sebagai suntikan di kaki atau lengan, tergantung pada usia pasien.
Hanya IPV yang telah digunakan di Amerika Serikat sejak tahun 2000.
- Vaksin virus Polio oral (OPV) masih digunakan di sebagian besar dunia.
Vaksin Polio melindungi anak-anak dengan menyiapkan tubuh mereka untuk melawan virus Polio.
Hampir semua anak (lebih dari 99 persen) yang mendapatkan semua dosis vaksin Polio inaktif yang direkomendasikan akan terlindungi dari Polio.
Selain itu, juga sangat penting untuk mempraktikkan kebersihan tangan yang baik dan sering mencuci tangan dengan sabun dan air.
Perhatikan bahwa pembersih tangan berbahan dasar alkohol tidak membunuh virus Polio.
Baca juga: KTT G20 Setujui Pandemic Fund Senilai Rp 481 Triliun yang Diusulkan Jokowi, Apa Itu Pandemic Fund?
Penanganan Polio
Tidak ada obat untuk Polio lumpuh dan tidak ada pengobatan khusus.
Terapi fisik atau okupasi dapat membantu mengatasi kelemahan lengan atau tungkai yang disebabkan oleh Polio dan dapat meningkatkan hasil jangka panjang, terutama jika diterapkan di awal perjalanan penyakit.
Penyedia layanan kesehatan harus mempertimbangkan untuk berkonsultasi dengan ahli neurologi dan penyakit menular guna mendiskusikan perawatan tertentu berdasarkan kasus per kasus.
Jika Anda merasa Anda atau seseorang dalam keluarga Anda memiliki gejala Polio, segera hubungi penyedia layanan kesehatan Anda atau pergi ke ruang gawat darurat.
Baca juga: Apa Itu Just Energy Transition Partnership? Hasil KTT G20 yang Ambigu karena Perpres 112 Tahun 2022
Orangtua Halangi Anak Divaksin Polio, IDAI Geram
Dilansir TribunGorontalo.com dari Kompas.com, Ketua IDAI dr Piprim Basarah Yanuarso geram terhadap ibu-ibu yang menghalang-halangi anaknya untuk disuntik vaksin Polio.
Pasalnya, jika seorang anak sudah terkena Polio, maka anak itu bisa lumpuh seumur hidup.
"Kalau Polio, lumpuh seumur hidup. Anak itu susah mau jadi pemain bola. Ya kan? Susah jadi atlet sprinter. Kita bisa bayangkan bagaimana sedihnya seorang anak yang lumpuh seperti itu," kata Piprim ketika ditemui di Hotel Shangri-La, Jakarta Pusat, Minggu (20/11/2022).
Baca juga: IDI Meminta Dokter Gorontalo Mewaspadai Gejala Cacar Monyet pada Pasien
"Jadi, jadi orangtua enggak boleh egois. Karena perilaku orang tua yang menghalang-halangi anaknya vaksin itu yang jadi korban anaknya. Dia merusak masa depan anaknya," lanjutnya.
Piprim lantas meminta masyarakat agar sadar bahwa sebenarnya efek dari vaksin jauh lebih tidak berbahaya dari penyakitnya.
Piprim berharap para orangtua tidak galau apakah memberikan buah hatinya vaksin atau tidak.
Seharusnya, yang perlu lebih dikhawatirkan adalah penyakitnya.
"Ini kita kan enggak boleh gagal fokus. Enggak boleh keliru memilih prioritas hidup." kata Piprim.
Baca juga: Apa Itu Omicron XBB? Subvarian Baru Covid-19 yang Sudah Masuk ke Indonesia, Disertai Gejala Pasien
"Masa kita lebih galau sama vaksinnya, padahal efek sampingnya mungkin hanya demam sedikit, itu pun enggak semua demam, mungkin agak bengkak-bengkak, merah-merah sedikit," sambungnya.
Piprim juga berharap masyarakat mau melakukan imunisasi demi mencegah penyakit Polio.
"Supaya mereka concern dengan penyakitnya dan mereka mau melakukan vaksinasi," tutur Piprim.
Diketahui, satu kasus polio yang ditemukan di Kabupaten Pidie, Aceh membuat Kemenkes resmi menetapkan status KLB Polio.
Baca juga: Apa Itu Telemedisin? Layanan dari Kemenkes untuk Pasien Covid-19 yang Isoman
Meskipun hanya ditemukan satu kasus, tetapi Kemenkes memandang penetapan status KLB Polio ini perlu dilakukan
Pasalnya, sejak tahun 2014, Indonesia mendapatkan sertifikat eradikasi Polio (Indonesia bebas Polio).
"Karena Indonesia sudah nyatakan eradikasi tapi ternyata ada (muncul) virus polio liar apalagi virus (polio) tipe 2 yang dianggap sudah enggak ada lagi," ungkao Direktur Jenderal Pencegahan dan Pengendalian Penyakit (P2P) Maxi Rein Rondonuwu dalam jumpa pers di Jakarta, Sabtu (19/11/2022).
Adapun dalam kasus Polio di Aceh ini, Maxi mengatakan bahwa seorang anak berusia 7 tahun yang menjadi korbannya.
Ternyata, anak penderita Polio itu belum menerima vaksinasi apapun sehingga Imunisasi Dasar Lengkap (IDL) tidak terpenuhi.
(TribunGorontalo.com/Nina Yuniar) (Kompas.com/Adhyasta Dirgantara)
Sebagian artikel ini telah tayang di Kompas.com dengan judul "IDAI Marahi Orangtua yang Halangi Anak Divaksin Polio: Bayangkan Kesedihan Anakmu Lumpuh Seumur Hidup"