Berita Gorontalo
Pengemudi Bentor Akui Simpang Lima Telaga Makin Padat, Flyover Dinilai Bisa Jadi Jalan Keluar
Rencana pembangunan flyover di kawasan Simpang Lima Kota Gorontalo–Telaga mulai menuai respons dari warga, terutama mereka yang setiap
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/RENCANA-FLYOVER-Kepadatan-kendaraan-di-Simpang-Lima-Telaga.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Rencana pembangunan flyover di kawasan Simpang Lima Kota Gorontalo–Telaga mulai menuai respons dari warga, terutama mereka yang setiap hari bergulat dengan kemacetan di Jembatan Telaga.
Para pengemudi bentor, yang menjadi saksi langsung kepadatan arus kendaraan saban pagi dan sore, turut menyuarakan pendapat.
Dua di antaranya, Sofyan Harun dan Karam Masalata, pengemudi bentor asal Desa Hulawa, Telaga, mengaku sudah sangat hafal ritme lalu lintas di kawasan tersebut.
Hampir setiap hari mereka mangkal di sekitar jembatan, mengamati pertemuan arus kendaraan dari Kota Gorontalo dan Kabupaten Gorontalo yang kerap menumpuk di satu titik.
Baca juga: Bupati Lampung Tengah Ardito Diduga Terima Fee Proyek Sejak Menjabat, Dananya Tutupi Utang Pilkada
Rencana pembangunan flyover yang sempat mencuat dalam rapat paripurna DPRD Provinsi Gorontalo membuat keduanya penasaran.
Awalnya, mereka mengaku bingung membayangkan bentuk dan cara kerja flyover itu. Namun setelah mendapat penjelasan sederhana, sikap mereka berubah.
“Kalau untuk mengurangi kemacetan, saya setuju,” ujar Sofyan, Jumat (12/12/2025).
Menurutnya, puncak kemacetan biasanya terjadi pada sore hari ketika arus pulang kantor memadati jembatan. Antrean panjang sering kali melebar hingga ke pertigaan di depan.
Pada pagi hari situasinya memang lebih ringan, meski sesekali terjadi kepadatan. Upaya polisi mengalihkan arus melalui jalur selatan dinilai belum cukup mengatasi masalah.
Sofyan menegaskan, penyebab utama kemacetan bukan semata kendaraan besar, tetapi volume kendaraan yang bertemu di satu titik pada waktu yang sama.
“Kendaraan dari berbagai arah berkumpul di Simpang Lima. Jadi mau tidak mau tersendat,” ujarnya.
Senada dengan Sofyan, Karam Masalata menilai Jembatan Telaga adalah jalur vital yang tak mungkin ditinggalkan warga.
Alternatif jalan memang ada, tetapi jaraknya memutar dan jarang diminati.
“Ini jembatan utama. Kalau pun ada jalan lain, orang malas mutar,” ungkapnya.
Ia menilai kehadiran flyover bisa membantu mengurai kemacetan tanpa memaksa pengendara mencari jalur lain.
| 5 Karyawan Tambang Pani Diduga Curi Material Mengandung Emas, 10 Kg Dibawa Pulang Kos |
|
|---|
| Jumlah Polisi Bersertifikat Tilang di Gorontalo Masih Terbatas, Polda Datangkan Tim Uji ke Daerah |
|
|---|
| Khutbah Berbasis Sains, Kadis Kesehatan Provinsi Gorontalo Uraikan Manfaat Medis dari Perbuatan Baik |
|
|---|
| Sampah Liar Cemari Akses Menuju RSUD Toto Gorontalo, Papan Larangan Tak Digubris |
|
|---|
| Kakuhu jadi Tersangka Usai Hina-hina Rektor Universitas Muhamadiyah Gorontalo di Medsos |
|
|---|