Banjir Sumatera

Warga Sibolga Sumatera Curhat usai Viral Jarah, Mengaku Keluarga Kelaparan

Warga Sibolga yang melakukan penjarahan di sejumlah toko mengungkapkan alasannya. 

Editor: Wawan Akuba
Tribunnews.com
FOTO UDARA -- Kondisi permukiman warga Sibolga. 

Pria itu menjelaskan bahwa barang yang diambil hanya untuk bertahan hidup keluarganya. 

Ia berjanji ketika kondisi tempat tinggalnya telah pulih, akan membayar barang-barang jarahannya. 

"Tadi saya mengambil mie Sedap ada tiga, saya dapat sisa-sisa ada juga air mineral saya ambil, ada juga snack. Saya sekali lagi meminta maaf atas kekhilafan saya, sekali lagi saya meminta maaf."

"Insya Allah jika sudah membaik, saya sudah kembali lagi aktivitas, saya pasti kembali ke Toko Alfamart saya akan membayar semuanya. Tadi saya ambil 3 sudah saya masak untuk anak saya," jelasnya.

Minta Prabowo ubah status bencana

Sementara itu, konten kreator, Ferry Irwandi, ikut angkat bicara soal bencana banjir dan longsor yang melanda tiga Provinsi di Pulau Sumatera yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh. 

Dalam pernyataannya, Ferry menegaskan bahwa suara masyarakat Sumatera kini semakin keras meminta agar pemerintah pusat menaikkan status menjadi bencana nasional. 

Menurutnya, bencana ini tidak hanya soal kerusakan fisik atau korban jiwa tetapi juga mengenai rasa keadilan. 

"Banyak sekali orang-orang Sumatera yang komentar, "Sumatera itu masih Indonesia enggak sih?" "Indonesia enggak cuma Jawa" dan lain sebagainya," katanya seperti dikutip dari YouTube @ferryirwandi. 

Perasaan tersebut muncul karena masyarakat luar Jawa, khususnya Sumatera telah merasakan adanya disparitas pembangunan.

"Karena mungkin orang yang tidak pernah lahir besar dan tumbuh di daerah luar non Jawa tidak pernah mengalami perasaan ketidakadilan seperti itu. Dan suka atau tidak, setuju atau tidak, perasaan itu ada. Gua bisa confirm karena gua orang Sumatera tulen dan melihat bagaimana disparitas itu nyata, bagaimana akses pendidikan itu sulit, transportasi sulit, fasilitas umum sulit, sementara kita lihat di Jawa orang hidup dengan segala gemerlap dan kelengkapan," jelasnya. 

Ferry menekankan agar Presiden Prabowo Subianto menetapkan status bencana di Sumatera menjadi bencana nasional. 

Menurutnya, status tersebut penting karena penanganan akan beralih dari daerah ke pusat sehingga respons kebencanaan bisa lebih masif, cepat dan terkoordinasi. 

"Karena kita tahu ketika itu ditetapkan jadi bencana nasional, maka penanganan sepenuhnya di pemerintahan pusat dengan kemampuan fleksibilitas dan kewenangan yang jauh lebih besar sehingga tindakan cepat bisa dilakukan walaupun itu punya cost-nya juga temen-temen menetapkan suatu bencana menjadi bencana nasional itu punya PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan," katanya. 

Ferry mengakui keputusan menaikkan statusmenjadi bencana nasional memiliki konsekuensi pada sisi fiskal nasional. 

Mulai dari perubahan prioritas program sampai potensi tekanan pada anggaran negara. 

Akan tetapi, hal itu tidak sebanding dengan pentingnya penyelamatan korban dan pemulihan wilayah yang terdampak bencana. 

(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Selasa, 24 Februari 2026 (6 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:33
Subuh 04:43
Zhuhr 12:04
‘Ashr 15:19
Maghrib 18:07
‘Isya’ 19:16

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved