Politik Nasional
Bajak Kader NasDem, PSI Coba Dijegal ke Senayan dengan Usulan Surya Paloh 7 Persen Ambang Batas
Isu kenaikan ambang batas parlemen menjadi 7 persen kembali menghangat setelah disampaikan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/NASDEM-Surya-Paloh-berbicara-saat-Partai-NasDem-menggelar-buka-puasa.jpg)
Ringkasan Berita:
- Usulan kenaikan ambang batas parlemen menjadi 7 persen dinilai memiliki dampak besar terhadap komposisi DPR.
- Direktur IPR Iwan Setiawan menyebut partai-partai yang sedang berkembang seperti PSI berpotensi paling terdampak.
- Dinamika perpindahan sejumlah elite Nasdem ke PSI disebut menjadi bagian dari konteks politik di balik wacana tersebut.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Isu kenaikan ambang batas parlemen menjadi 7 persen kembali menghangat setelah disampaikan Ketua Umum Partai Nasdem, Surya Paloh.
Gagasan tersebut tidak hanya diperdebatkan dalam konteks penyederhanaan partai politik, tetapi juga dibaca sebagai bagian dari dinamika persaingan antarpartai.
Direktur Indonesia Political Review (IPR), Iwan Setiawan, menilai pernyataan Surya Paloh tidak bisa dilepaskan dari situasi politik yang berkembang saat ini.
Ia menegaskan, pembahasan ambang batas bukan sekadar soal efektivitas parlemen.
Baca juga: Breaking News: 7 Anggota KPID Gorontalo Periode 2026–2029 Dilantik Gubernur
“Konteks politiknya tidak sesederhana meningkatkan kualitas demokrasi atau membuat pemerintahan lebih efektif,” ujar Iwan, Minggu (22/2/2025).
Menurut dia, usulan menaikkan parliamentary threshold menjadi 7 persen justru berpotensi menyulitkan partai-partai yang sedang bertumbuh.
“Saya melihat arah pernyataan ini menyasar partai-partai baru yang sedang berkembang dan punya ambisi menantang partai besar, seperti PSI,” katanya.
Iwan menjelaskan, apabila angka ambang batas benar-benar dinaikkan hingga 7 persen, konsekuensinya akan terasa langsung dalam komposisi DPR.
Partai yang tidak mampu menembus batas tersebut otomatis tidak mendapatkan kursi, sehingga peluang representasi di parlemen menjadi semakin terbatas.
Dalam situasi itu, Partai Solidaritas Indonesia (PSI) dinilai menjadi salah satu yang menghadapi tantangan paling besar.
PSI yang kini dipimpin Kaesang Pangarep tengah memperkuat struktur organisasi dan konsolidasi politiknya.
Baca juga: Hasil Autopsi Bocah yang Diduga Dianiaya Ibu Tiri, Dokter Temukan Pembengkakan Paru-paru
“Dengan ambang batas setinggi itu, jalan PSI menuju Senayan akan semakin berat,” ucap Iwan.
Ia juga mengaitkan wacana tersebut dengan hubungan Nasdem dan PSI yang dinilai memanas dalam beberapa waktu terakhir.
Perpindahan sejumlah kader dan elite Nasdem ke PSI disebut menjadi faktor yang mempertegas rivalitas kedua partai.