Banjir Sumatera
Warga Sibolga Sumatera Curhat usai Viral Jarah, Mengaku Keluarga Kelaparan
Warga Sibolga yang melakukan penjarahan di sejumlah toko mengungkapkan alasannya.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/FOTO-UDARA-Kondisi-permukiman-warga-Sibolga.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM -- Warga Sibolga yang melakukan penjarahan di sejumlah toko mengungkapkan alasannya.
Viral pengakuan mengejutkan itu setelah sebelumnya beredar video penjarahan tersebut di media sosial (medsos).
Sebagai informasi, sejumlah lokasi strategis menjadi lokasi penjarahan.
Sejumlah toko logistik di Kota Sibolga hingga Tapanuli tengah menjadi sasaran penjarahan warga.
Rupanya, warga ini mengaku lima hari terisolasi tanpa listrik, tanpa jaringan komunikasi, dan tanpa aliran logistik, hingga Sabtu (29/11/2025).
Karena itu, penjarahan dilakukan sebagai rangkaian dari penjarahan di berbagai ritel modern di Sibolga dan Tapteng.
Kota yang luluh lantak diterjang banjir bandang dan longsor sejak 24–25 November menyebabkan ribuan warga kehilangan rumah, akses jalan terputus, dan pasokan pangan tidak dapat masuk selama berhari-hari.
Sementara bantuan dari pemerintah, baru bisa dikirim sejak Jumat (28/11/2025), bantuan logistik dari Medan telah diberangkatkan menuju Tapteng–Sibolga menggunakan pesawat Hercules.
Baca juga: Pernyataan Kepala BNPB Tuai Kritik, LSM Aceh Sebut Tak Punya Empati di Tengah 303 Korban Tewas
Namun, hingga malam ketika penjarahan terjadi di berbagai titik, bantuan tersebut belum sampai ke tangan masyarakat.
Penjarahan adalah tindakan mengambil atau merampas barang milik orang lain secara paksa dan massal, biasanya terjadi saat kerusuhan, bencana, atau situasi tidak terkendali. Tindakan ini merupakan kejahatan karena merugikan pemilik dan melanggar hukum.
Dikutip Tribunlampung.co.id dari TribunJakarta.com, viral di media sosial, pengakuan seorang warga yang terdampak banjir dan longsor di Sibolga, Sumatera Utara.
Ia meminta maaf secara terbuka karena telah ikut menjarah sebuah minimarket di tengah kondisi darurat.
Dalam rekaman video yang beredar luas di media sosial, pria itu mengaku mengambil beberapa barang seperti mie instan, air mineral dan snack.
Ia terpaksa menjarah karena keluarganya hampir tidak makan.
"Kepada pemilik Alfamart sebelumnya saya minta maaf, karena saya juga orang salah satu yang menjarah toko Alfamart tersebut. Saya sebenarnya tidak ada niat untuk berbuat itu, cuman karena keterbatasan makanan yang kami miliki, kami juga terjebak banjir, kami juga tidak ada uang untuk membeli, tidak ada bantuan sama sekali, akhirnya saya ikut mengambil juga," katanya seperti dikutip dari Instagram @folkkonoha yang tayang pada Minggu (30/11/2025).
Pria itu menjelaskan bahwa barang yang diambil hanya untuk bertahan hidup keluarganya.
Ia berjanji ketika kondisi tempat tinggalnya telah pulih, akan membayar barang-barang jarahannya.
"Tadi saya mengambil mie Sedap ada tiga, saya dapat sisa-sisa ada juga air mineral saya ambil, ada juga snack. Saya sekali lagi meminta maaf atas kekhilafan saya, sekali lagi saya meminta maaf."
"Insya Allah jika sudah membaik, saya sudah kembali lagi aktivitas, saya pasti kembali ke Toko Alfamart saya akan membayar semuanya. Tadi saya ambil 3 sudah saya masak untuk anak saya," jelasnya.
Minta Prabowo ubah status bencana
Sementara itu, konten kreator, Ferry Irwandi, ikut angkat bicara soal bencana banjir dan longsor yang melanda tiga Provinsi di Pulau Sumatera yakni Sumatera Utara, Sumatera Barat dan Aceh.
Dalam pernyataannya, Ferry menegaskan bahwa suara masyarakat Sumatera kini semakin keras meminta agar pemerintah pusat menaikkan status menjadi bencana nasional.
Menurutnya, bencana ini tidak hanya soal kerusakan fisik atau korban jiwa tetapi juga mengenai rasa keadilan.
"Banyak sekali orang-orang Sumatera yang komentar, "Sumatera itu masih Indonesia enggak sih?" "Indonesia enggak cuma Jawa" dan lain sebagainya," katanya seperti dikutip dari YouTube @ferryirwandi.
Perasaan tersebut muncul karena masyarakat luar Jawa, khususnya Sumatera telah merasakan adanya disparitas pembangunan.
"Karena mungkin orang yang tidak pernah lahir besar dan tumbuh di daerah luar non Jawa tidak pernah mengalami perasaan ketidakadilan seperti itu. Dan suka atau tidak, setuju atau tidak, perasaan itu ada. Gua bisa confirm karena gua orang Sumatera tulen dan melihat bagaimana disparitas itu nyata, bagaimana akses pendidikan itu sulit, transportasi sulit, fasilitas umum sulit, sementara kita lihat di Jawa orang hidup dengan segala gemerlap dan kelengkapan," jelasnya.
Ferry menekankan agar Presiden Prabowo Subianto menetapkan status bencana di Sumatera menjadi bencana nasional.
Menurutnya, status tersebut penting karena penanganan akan beralih dari daerah ke pusat sehingga respons kebencanaan bisa lebih masif, cepat dan terkoordinasi.
"Karena kita tahu ketika itu ditetapkan jadi bencana nasional, maka penanganan sepenuhnya di pemerintahan pusat dengan kemampuan fleksibilitas dan kewenangan yang jauh lebih besar sehingga tindakan cepat bisa dilakukan walaupun itu punya cost-nya juga temen-temen menetapkan suatu bencana menjadi bencana nasional itu punya PR (pekerjaan rumah) yang harus diselesaikan," katanya.
Ferry mengakui keputusan menaikkan statusmenjadi bencana nasional memiliki konsekuensi pada sisi fiskal nasional.
Mulai dari perubahan prioritas program sampai potensi tekanan pada anggaran negara.
Akan tetapi, hal itu tidak sebanding dengan pentingnya penyelamatan korban dan pemulihan wilayah yang terdampak bencana.
(*)
| Organisasi Mahasiswa Gorontalo Kompak Galang Dana untuk Korban Banjir Sumatera |
|
|---|
| Banjir dan Longsor Parah, Gubernur Aceh Buka Pintu Bantuan Asing |
|
|---|
| Aceh, Sumut, dan Sumbar Ajukan Pembangunan Huntara, BNPB Lakukan Verifikasi Lokasi |
|
|---|
| Anggota DPR RI Sindiri terkait Donasi Rp 10 Miliar, Minta Komdigi Jangan Kalah Viral |
|
|---|
| Kemendagri Sebut Bupati Aceh Selatan Mirwan Tak Berizin Umrah di Tengah Bencana, Bakal Kena Sanksi |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.