Senin, 23 Maret 2026

Berita Internasional

Ultimatum Trump Dibalas Keras, Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz

Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Iran mengancam akan menutup total Strait of Hormuz jika Amerika Serikat

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Ultimatum Trump Dibalas Keras, Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz
TribunGorontalo.com
PERANG -- Ketegangan antara Iran dan Amerika kembali memanas. Presiden Amerika, Donald Trump ancam bombardir situs energi Iran jika Selat Hormuz tetap ditutup. Iran kembali mengancam akan membombardir seluruh pangkalan AS jika melakukannya. 

Macron juga menegaskan dukungan Prancis dalam melindungi wilayah udara Arab Saudi dari serangan rudal dan drone Iran.

Uni Eropa Dorong Jalur Diplomasi

Upaya meredakan konflik juga dilakukan Uni Eropa.

Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas melakukan komunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.

Selain itu, pembicaraan juga dilakukan dengan sejumlah negara seperti Turki, Qatar, dan Korea Selatan.

Fokus utama pembahasan adalah perang di Timur Tengah, serangan terhadap infrastruktur energi, serta urgensi membuka kembali Selat Hormuz.

Uni Eropa memperingatkan bahwa ancaman terhadap infrastruktur sipil dapat berdampak pada jutaan orang di kawasan dan sekitarnya.

India Mulai Cari Alternatif Minyak

Dampak konflik juga terasa hingga Asia. Perusahaan energi milik negara India, Hindustan Petroleum, mulai beralih dari minyak Timur Tengah ke pasokan Afrika Barat.

Langkah ini diambil karena pasokan dari kawasan Timur Tengah terganggu akibat konflik dan melonjaknya harga minyak.

India yang sebelumnya bergantung lebih dari 45 persen pada minyak Timur Tengah kini terpaksa mencari sumber alternatif demi menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.

Dunia di Ambang Krisis

Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya Strait of Hormuz bagi stabilitas global.

Jika jalur tersebut benar-benar ditutup dalam waktu lama, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga ekonomi dunia secara keseluruhan.

Dengan ancaman militer, lonjakan harga energi, dan upaya diplomasi yang masih berlangsung, dunia kini berada di ambang krisis yang lebih besar.(*)

Halaman 2/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved