Berita Internasional
Padahal Tak Ikut Perang di Iran, Tapi India Justru Jadi Korban Terbesar saat Selat Hormuz Ditutup
India bukan pihak yang terlibat langsung dalam konflik yang kian meluas antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/INDIA-Dampak-paling-buruk-dialami-India-saat-selat-Hormuz-ditutup.jpg)
Ringkasan Berita:
- Penutupan Strait of Hormuz akibat konflik Iran berpotensi menghantam India, meski negara itu tidak terlibat langsung dalam perang.
- Dampak terbesar bukan hanya pada impor minyak, tetapi juga pasokan pupuk yang berujung pada kenaikan harga pangan.
- Jika harga makanan naik signifikan, jutaan warga India berisiko jatuh ke dalam kemiskinan dan memperparah krisis sosial.
TRIBUNGORONTALO.COM -- India bukan pihak yang terlibat langsung dalam konflik yang kian meluas antara Iran dan poros Amerika Serikat–Israel.
Jet tempurnya tidak menyerang Teheran, dan kapal perangnya tidak berada di garis depan.
Namun di antara negara-negara ekonomi besar dunia, justru India disebut sebagai pihak yang paling berisiko mengalami dampak besar jika Strait of Hormuz atau Selat Hormuz benar-benar ditutup dalam waktu lama.
Selama ini, banyak yang mengira Amerika Serikat, China, atau negara-negara Teluk sebagai korban utama jika jalur vital tersebut terganggu. Namun anggapan itu dinilai keliru.
Baca juga: Geger! Iran Klaim Tembak Jet Siluman F-35, AS Masih Selidiki
Dampak paling serius justru diperkirakan akan menghantam India, bukan hanya dari sisi impor minyak, tetapi juga pada hal yang lebih mendasar: ketahanan pangan.
Ketergantungan Tinggi pada Jalur Vital Dunia
Selat Hormuz merupakan jalur pengiriman minyak paling penting di dunia, dengan sekitar sepertiga pasokan minyak global melewati kawasan ini. Bagi India, yang merupakan importir minyak terbesar ketiga di dunia, ketergantungan terhadap jalur ini sangat tinggi.
Sekitar 90 persen kebutuhan minyak mentah India berasal dari impor. Meski telah melakukan diversifikasi sumber energi, hampir setengah dari impor tersebut, sekitar 2,5 juta barel per hari, masih melewati Selat Hormuz.
Pemerintah India memang menyatakan telah meningkatkan pasokan dari luar jalur tersebut serta memiliki cadangan strategis yang cukup untuk sekitar delapan minggu.
Namun langkah ini hanya menjadi solusi jangka pendek. Jika penutupan berlangsung lama, persoalan utama bukan lagi ketersediaan minyak, melainkan dampak berantai yang lebih luas.
Ancaman Nyata: Pupuk dan Produksi Pangan
Kerentanan terbesar India justru terletak pada rantai pasokan pupuk. Konflik di Asia Barat berpotensi langsung mengganggu pasokan bahan kimia penting untuk pertanian, yang menjadi tulang punggung produksi pangan nasional.
India mengimpor lebih dari 9 juta ton urea setiap tahun, dengan sekitar setengahnya berasal dari Timur Tengah, khususnya Oman dan Arab Saudi. Untuk pupuk jenis DAP (diammonium phosphate), Arab Saudi menyumbang lebih dari 40 persen impor India.
Sementara untuk potash, India hampir sepenuhnya bergantung pada impor karena tidak memiliki cadangan dalam negeri yang memadai.
Masalah semakin kompleks karena produksi pupuk domestik juga bergantung pada gas alam.
Qatar sebagai pemasok utama LNG bagi India berperan penting dalam menjaga produksi urea tetap berjalan.