Berita Internasional
Ultimatum Trump Dibalas Keras, Iran Ancam Tutup Total Selat Hormuz
Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Iran mengancam akan menutup total Strait of Hormuz jika Amerika Serikat
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERANG-Ketegangan-antara-Iran-dan-Amerika-kembali-memanas.jpg)
Ringkasan Berita:
- Iran mengancam akan menutup total Strait of Hormuz jika fasilitas energinya diserang oleh AS.
- Blokade jalur vital ini telah menghentikan pengiriman minyak dan memicu lonjakan harga global.
- Dunia kini mendorong deeskalasi karena konflik berpotensi berkembang menjadi krisis energi besar.
TRIBUNGORONTALO.COM — Ketegangan di Timur Tengah mencapai titik kritis setelah Iran mengancam akan menutup total Strait of Hormuz jika Amerika Serikat benar-benar menyerang fasilitas pembangkit listriknya.
Pernyataan itu disampaikan oleh Garda Revolusi Iran, menyusul ultimatum keras dari Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang memberi waktu 48 jam kepada Teheran untuk membuka kembali jalur pelayaran strategis tersebut.
Selat Hormuz sendiri merupakan jalur vital yang dilalui sekitar seperlima pasokan minyak dan gas alam cair (LNG) dunia.
Ancaman Balasan Iran
Iran menegaskan bahwa jika infrastruktur energinya diserang, maka konsekuensinya akan jauh lebih besar.
Presiden Iran Masoud Pezeshkian menyatakan bahwa Selat Hormuz tetap terbuka, tetapi tidak untuk pihak yang dianggap melanggar kedaulatan negaranya.
Baca juga: Trump Ancam Iran Hancur Total, AS Siapkan Serangan Darat dengan Kerahkan 4.500 Marinir
Sementara itu, Ketua Parlemen Iran Mohammad Bagher Ghalibaf memperingatkan bahwa fasilitas energi di kawasan akan menjadi target sah dan bisa dihancurkan tanpa bisa dipulihkan jika Iran diserang.
Garda Revolusi bahkan menegaskan, Selat Hormuz akan ditutup sepenuhnya dan tidak akan dibuka kembali sampai fasilitas listrik Iran yang rusak selesai diperbaiki.
Dampak Langsung: Pengiriman Minyak Terhenti
Situasi ini langsung berdampak pada lalu lintas tanker minyak.
Pengiriman melalui Strait of Hormuz praktis terhenti akibat blokade de facto yang dilakukan Iran.
Akibatnya, harga minyak dunia melonjak tajam dan pasar global mengalami tekanan besar.
Lonjakan ini bahkan mendekati rekor tertinggi sebelumnya, menandakan betapa sensitifnya pasar energi terhadap gangguan di kawasan tersebut.
Seruan Dunia untuk Menahan Diri
Di tengah eskalasi, Presiden Prancis Emmanuel Macron menyerukan semua pihak untuk menahan diri.
Setelah berdiskusi dengan Putra Mahkota Arab Saudi Mohammed bin Salman, Macron menilai situasi saat ini sangat berbahaya dan membutuhkan langkah deeskalasi segera.
Ia mendorong adanya penghentian sementara serangan terhadap infrastruktur energi dan fasilitas sipil, serta menekankan pentingnya menjaga kebebasan navigasi di Selat Hormuz.
Macron juga menegaskan dukungan Prancis dalam melindungi wilayah udara Arab Saudi dari serangan rudal dan drone Iran.
Uni Eropa Dorong Jalur Diplomasi
Upaya meredakan konflik juga dilakukan Uni Eropa.
Kepala kebijakan luar negeri Uni Eropa Kaja Kallas melakukan komunikasi langsung dengan Menteri Luar Negeri Iran Abbas Araqchi.
Selain itu, pembicaraan juga dilakukan dengan sejumlah negara seperti Turki, Qatar, dan Korea Selatan.
Fokus utama pembahasan adalah perang di Timur Tengah, serangan terhadap infrastruktur energi, serta urgensi membuka kembali Selat Hormuz.
Uni Eropa memperingatkan bahwa ancaman terhadap infrastruktur sipil dapat berdampak pada jutaan orang di kawasan dan sekitarnya.
India Mulai Cari Alternatif Minyak
Dampak konflik juga terasa hingga Asia. Perusahaan energi milik negara India, Hindustan Petroleum, mulai beralih dari minyak Timur Tengah ke pasokan Afrika Barat.
Langkah ini diambil karena pasokan dari kawasan Timur Tengah terganggu akibat konflik dan melonjaknya harga minyak.
India yang sebelumnya bergantung lebih dari 45 persen pada minyak Timur Tengah kini terpaksa mencari sumber alternatif demi menjaga stabilitas pasokan dalam negeri.
Dunia di Ambang Krisis
Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya Strait of Hormuz bagi stabilitas global.
Jika jalur tersebut benar-benar ditutup dalam waktu lama, dampaknya tidak hanya dirasakan oleh negara-negara di Timur Tengah, tetapi juga ekonomi dunia secara keseluruhan.
Dengan ancaman militer, lonjakan harga energi, dan upaya diplomasi yang masih berlangsung, dunia kini berada di ambang krisis yang lebih besar.(*)
| Trump Ancam Iran Hancur Total, AS Siapkan Serangan Darat dengan Kerahkan 4.500 Marinir |
|
|---|
| Iran Janjikan Pasokan Minyak untuk Sri Lanka di Tengah Krisis Global |
|
|---|
| Misteri Kota Rudal Bawah Tanah Iran: Dibom Berkali-kali, Tetap Aktif |
|
|---|
| Serangan Iran Picu Kerusakan Besar di Tel Aviv Selatan, 84 Orang Terluka |
|
|---|
| Ultimatum 48 Jam Trump Dibalas Ancaman Iran, Infrastruktur AS di Timur Tengah Terancam |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.