Berita Internasional

Apa Penyebab Panas Ekstrem di Australia dan Dampaknya bagi Warga?

Fenomena ini menjadi gelombang panas besar kedua dalam sebulan, menyapu negara bagian New South Wales, Victoria, dan Australia Selatan

Editor: Wawan Akuba
Thinkstockphotos.com
FOTO STOK -- Australia tengah menghadapi gelombang panas ekstrem kedua dalam sebulan yang berpotensi mendorong suhu hingga 49 derajat Celsius d 

Ringkasan Berita:
  • Australia tengah menghadapi gelombang panas ekstrem kedua dalam sebulan yang berpotensi mendorong suhu hingga 49 derajat Celsius di sejumlah wilayah. 
  • Fenomena ini dipicu oleh sistem tekanan tinggi stagnan, minimnya hujan, serta diperparah dampak perubahan iklim. 
  • Kondisi tersebut meningkatkan risiko kebakaran hutan, ancaman kesehatan, serta tekanan besar pada pasokan listrik dan lingkungan.

 

TRIBUNGORONTALO.COM, Internasional -- Australia kembali menghadapi gelombang panas ekstrem.

Cuaca ini berpotensi memecahkan rekor suhu tertinggi di sejumlah wilayah.

Fenomena ini menjadi gelombang panas besar kedua dalam sebulan, menyapu negara bagian New South Wales, Victoria, dan Australia Selatan, sekaligus meningkatkan ancaman kebakaran hutan dan tekanan pada sistem kelistrikan.

Biro Meteorologi Australia (BoM) mencatat suhu di beberapa wilayah mulai mendekati rekor pada 26 Januari.

Baca juga: Oknum TNI Ngamuk di Rutan Polda Gorontalo, Ternyata Sepupu Tahanan Moh Amin Ramadan

Diperkirakan cuaca ini akan mencapai puncaknya pada 27 Januari, dengan temperatur maksimal di sejumlah daerah bisa menyentuh 49 derajat Celsius.

Meteorolog senior BoM, Dean Narramore, menyebut kondisi cuaca ini sebagai situasi berbahaya yang perlu diwaspadai secara serius.

“Ini adalah cuaca yang sangat berbahaya di wilayah tenggara Australia. Kombinasi panas ekstrem, udara kering, dan angin kencang membuat kebakaran yang muncul berpotensi menjadi tidak terkendali,” ujarnya.

Mengapa Gelombang Panas Ini Terjadi?

Menurut analisis BoM, gelombang panas ini dipicu oleh sistem tekanan tinggi yang stagnan di wilayah tenggara Australia.

Sistem tersebut berfungsi seperti “penutup”, menjebak udara panas dan mencegah masuknya massa udara dingin dari Samudra Selatan.

Kondisi tersebut diperparah oleh:

  • Curah hujan yang sangat minim dalam beberapa bulan terakhir
  • Kelembapan tanah yang rendah, membuat vegetasi mudah terbakar
  • Angin kencang, yang mempercepat penyebaran panas dan api
  • Para ahli cuaca menilai pola ini konsisten dengan tren perubahan iklim, di mana gelombang panas kini terjadi lebih sering, lebih lama, dan lebih intens dibandingkan dekade sebelumnya.

Narramore bahkan menyebut situasi saat ini sebagai gelombang panas terpanjang di Australia tenggara sejak kebakaran Black Saturday 2009.

Ancaman Kebakaran dan Dampak Nyata

Gelombang panas ekstrem ini secara langsung meningkatkan risiko kebakaran hutan.

Dalam beberapa pekan terakhir, Australia telah mengalami sejumlah kebakaran, sebagian di antaranya masih aktif hingga kini.

Otoritas setempat memperingatkan bahwa tingkat bahaya kebakaran di beberapa wilayah Australia Selatan dan Victoria dapat meningkat ke level “ekstrem”, bahkan berpotensi katastrofik jika kondisi memburuk.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved