Sabtu, 21 Maret 2026

Berita International

Dokter di China Tanam Hati Babi yang Dimodifikasi Genetik ke Tubuh Pasien Manusia

Untuk pertama kalinya dalam sejarah medis, tim ahli bedah di China berhasil melakukan transplantasi sebagian hati yang diambil dari babi hasil

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Dokter di China Tanam Hati Babi yang Dimodifikasi Genetik ke Tubuh Pasien Manusia
TribunGorontalo.com
TRANSPALANTASI -- Langkah berani dokter di China mencetak sejarah baru dunia medis. Untuk pertama kalinya, sebagian hati dari babi hasil rekayasa genetik berhasil ditanamkan ke tubuh manusia dan berfungsi normal selama lebih dari sebulan. Prosedur ini disebut para ahli sebagai tonggak awal “era baru transplantasi hati”, membuka harapan baru bagi jutaan pasien gagal organ di seluruh dunia. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Untuk pertama kalinya dalam sejarah medis, tim ahli bedah di China berhasil melakukan transplantasi sebagian hati yang diambil dari babi hasil rekayasa genetika ke tubuh manusia.

Keberhasilan ini dilaporkan dalam The Journal of Hepatology pada Kamis (9/10/2025) dan disebut sebagai tonggak bersejarah dalam dunia kedokteran.

Prosedur tersebut dilakukan terhadap seorang pasien pria berusia 71 tahun yang menderita kanker hati stadium lanjut.

Dokter mengangkat lobus kanan hati pasien yang sudah ditumbuhi tumor sebesar buah jeruk bali, kemudian mencangkokkan sebagian hati babi pada lobus kiri hati pasien.

Baca juga: Harga BBM Nonsubsidi Naik per Oktober 2025, Pertamina Umumkan Daftar Lengkap di Tiap Daerah

Menakjubkannya, hati babi hasil rekayasa genetik itu berfungsi dengan baik menghasilkan empedu serta memproduksi faktor pembekuan darah.

Tubuh pasien tidak menolak organ tersebut, sehingga lobus hati aslinya memiliki waktu untuk tumbuh kembali.

Namun, setelah 38 hari, hati babi tersebut akhirnya diangkat karena muncul komplikasi.

Meski demikian, pasien mampu bertahan lebih dari lima bulan setelah operasi, hingga akhirnya meninggal dunia akibat penyakit dasarnya yang sudah parah.

Dalam laporan penelitian, dijelaskan bahwa pasien tersebut tidak memenuhi syarat untuk menerima donor hati manusia di China karena memiliki kanker lanjut serta sirosis akibat hepatitis B.

Dalam komentar yang menyertai studi ini, Dr. Heiner Wedemeyer—co-editor The Journal of Hepatology, menyebut operasi tersebut sebagai “terobosan” dan “tonggak sejarah klinis.”

Ia menegaskan bahwa meskipun ini baru satu kasus, langkah itu menandai dimulainya era baru dalam bidang transplantasi hati.

Sementara itu, Dr. Heidi Yeh, ahli bedah transplantasi sekaligus profesor di Harvard Medical School, menyebut langkah tim China tersebut sangat berani.

“Ini perkembangan penting. Mereka menanam hati babi pada manusia selama sebulan, dan pasiennya baik-baik saja,” ujarnya.

Langkah ambisius ini menunjukkan betapa cepat dan agresifnya kemajuan riset medis di China, terutama dalam penggunaan organ babi hasil modifikasi genetik untuk mengatasi kekurangan organ donor manusia.

Para peneliti di negeri itu kini juga fokus mengembangkan transplantasi ginjal dari babi untuk membantu lebih dari 1,2 juta penderita gagal ginjal di China.

Belum lama ini, tim dokter di China juga melaporkan keberhasilan lain, seorang perempuan berusia 69 tahun bertahan hidup lebih dari enam bulan dengan ginjal babi hasil rekayasa genetik. 

Bahkan, ada pula laporan transplantasi paru babi pada pasien yang dinyatakan mati otak, sesuatu yang belum pernah dilakukan di negara lain.

Masalah penyakit hati di China sendiri menjadi krisis kesehatan nasional.

Setiap tahun lebih dari 300 ribu orang di negeri itu mengalami gagal hati, sementara jumlah donor manusia sangat terbatas, pada tahun 2022, hanya sekitar 6.000 transplantasi hati dari manusia yang berhasil dilakukan.

Peneliti utama studi ini, Dr. Beicheng Sun dari Universitas Kedokteran Anhui, mengatakan bahwa sejak awal tujuan timnya bukan untuk menjadikan hati babi itu permanen di tubuh pasien.

“Saya memang tidak ingin hati babi itu berada di tubuh manusia terlalu lama. Tujuannya hanya sebagai jembatan sementara agar hati pasien bisa pulih atau sampai ada donor manusia yang cocok,” ujar Sun.

Ia menambahkan, jika transplantasi hati dari hewan bisa berfungsi sementara, dokter akan punya cukup waktu, satu hingga tiga bulan, untuk menemukan donor manusia.

“Ini menunjukkan potensi besar untuk membantu regenerasi hati,” katanya.

Di sisi lain, para ahli di Amerika Serikat sejauh ini lebih berhati-hati.

Mereka memang telah menanamkan jantung dan ginjal babi ke beberapa pasien, namun masih enggan melakukan transplantasi hati karena kompleksitasnya tinggi. 

Sebagai alternatif, ilmuwan AS sedang mengembangkan metode “dialisis hati,” yakni mengalirkan darah pasien melalui hati babi yang dimodifikasi di luar tubuh untuk membantu detoksifikasi sementara.

Metode ini sudah disetujui oleh Food and Drug Administration (FDA) untuk uji klinis bagi pasien gagal hati kronis dengan kondisi kritis, dan diharapkan segera dimulai dalam waktu dekat.

(*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved