Berita International

China Pamer Target Iklim Baru, Xi Sindir Trump di Panggung PBB

China memimpin sejumlah negara dalam mengumumkan rencana baru penanganan krisis iklim pada Rabu (24/9/2025).

Editor: Wawan Akuba
Kolase
KOLASE DOnald Trump, Presiden RI d 

TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – China memimpin sejumlah negara dalam mengumumkan rencana baru penanganan krisis iklim pada Rabu (24/9/2025).

Dalam pernyataannya, Presiden Xi Jinping melontarkan sindiran halus terhadap sikap anti-iklim Presiden Amerika Serikat Donald Trump yang sehari sebelumnya menolak sains perubahan iklim di forum Sidang Umum PBB.

Dalam Climate Leaders Summit yang dipimpin Sekretaris Jenderal PBB Antonio Guterres, Xi Jinping menyampaikan langsung lewat siaran video dari Beijing bahwa pada 2035, China akan memangkas emisi gas rumah kaca hingga 7–10 persen dari puncaknya.

Tak hanya itu, Xi juga mengumumkan rencana meningkatkan kapasitas tenaga angin dan surya hingga enam kali lipat dari level 2020 dalam 10 tahun ke depan. Dengan begitu, porsi energi non-fosil dalam konsumsi domestik ditargetkan melampaui 30 persen.

Langkah ini menandai pertama kalinya China, negara dengan emisi terbesar di dunia,  berjanji untuk benar-benar memangkas emisi, bukan sekadar memperlambat pertumbuhannya. Meski begitu, target ini masih dianggap lebih rendah dari ekspektasi banyak pihak.

Sindiran Xi ke AS

Xi juga mendesak negara-negara maju mengambil tanggung jawab lebih besar. Tanpa menyebut langsung Amerika Serikat, ia menyinggung negara tersebut yang keluar dari komitmen Perjanjian Paris.

“Transformasi hijau dan rendah karbon adalah tren zaman ini. Meski ada negara yang melawan arus, komunitas internasional harus tetap berada di jalur yang benar, menjaga keyakinan, aksi konsisten, dan upaya yang tidak berkurang,” kata Xi.

Sehari sebelumnya, Presiden Trump menyebut perubahan iklim sebagai “tipu muslihat” (con job) dalam pidato di Sidang Umum PBB. Ia bahkan menyebut ilmuwan “bodoh” serta mengkritik Uni Eropa dan China karena mendukung teknologi energi bersih.

Trump juga memerintahkan penarikan kedua Amerika Serikat dari Perjanjian Paris yang sudah berlaku selama 10 tahun.

Padahal, perjanjian itu bertujuan membatasi kenaikan suhu global agar tidak melampaui 1,5 derajat Celsius. AS sendiri merupakan penghasil emisi terbesar dalam sejarah dan kini berada di urutan kedua setelah China.

Ian Bremmer, ilmuwan politik dari Belfer Center, menilai sikap Trump justru memberi ruang bagi China untuk memimpin pasar energi masa depan.

“Trump ingin energi fosil, dan AS memang negara petro-state yang kuat. Tapi membiarkan China menjadi electro-state dominan justru berlawanan dengan ambisi Make America Great Again — setidaknya jika kita peduli masa depan,” ujarnya.

Ekspektasi dan Kritik

Banyak pihak berharap China memanfaatkan momen mundurnya AS untuk mengumumkan target pemangkasan lebih besar, minimal 30 persen agar sejalan dengan komitmen nol emisi bersih 2060.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Rabu, 25 Februari 2026 (7 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:33
Subuh 04:43
Zhuhr 12:04
‘Ashr 15:18
Maghrib 18:07
‘Isya’ 19:16

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved