Orang Hanyut di Gorontalo
Identitas Lansia Ditemukan Meninggal usai Hanyut di Sungai Paguyaman Gorontalo
Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Gorontalo, mengungkap identitas wanita usia lanjut (lansia) yang hanyut di Sungai Desa Balate
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Proses-evakuasi-korban-hanyut-di-Sungai-Paguyaman.jpg)
Kasus hanyutnya lansia ini kembali mengingatkan publik pada kerentanan Sungai Paguyaman saat musim penghujan tiba.
Tragedi Nita Tajiru ini menambah daftar panjang insiden di Sungai Paguyaman pada tahun 2026. Hal ini memicu ingatan publik pada kejadian serupa yang terjadi di awal tahun.
Baca juga: Sosok Sumitra Isini Korban Hanyut di Gorontalo, Dikenal Baik dan Pendiam
Tepat dua bulan sebelum insiden Nita Tajiru, Sungai Paguyaman juga sempat menjadi sorotan nasional akibat hilangnya seorang ibu dan anak.
Berbeda dengan kasus Nita Tajiru yang berhasil ditemukan dalam hitungan hari, kasus sebelumnya memberikan akhir yang lebih pilu bagi keluarga korban.
Pada Januari 2026, operasi SAR terhadap Sumitra Isini (26) dan anaknya Akbar Diangi (9) terpaksa ditutup tanpa hasil setelah tujuh hari pencarian intensif.
Kontras dengan penemuan jasad Nita Tajiru, keberadaan Sumitra dan Akbar hingga kini masih menjadi misteri setelah mereka terlepas pegangan saat menyeberangi sungai.
Halidin La Bidu menjelaskan bahwa penutupan operasi pada kasus Januari lalu disebabkan oleh nihilnya tanda-tanda keberadaan korban setelah area luas disisir.
"Arus Sungai Paguyaman memiliki karakteristik yang sulit diprediksi, terutama saat curah hujan tinggi di hulu," ujar Halidin dalam evaluasi penutupan operasi. (*)