Senin, 16 Maret 2026

Orang Hanyut di Gorontalo

Identitas Lansia Ditemukan Meninggal usai Hanyut di Sungai Paguyaman Gorontalo

Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Gorontalo, mengungkap identitas wanita usia lanjut (lansia) yang hanyut di Sungai Desa Balate

Tayang:
Penulis: Herjianto Tangahu | Editor: Fadri Kidjab
zoom-inlihat foto Identitas Lansia Ditemukan Meninggal usai Hanyut di Sungai Paguyaman Gorontalo
TribunGorontalo.com
ORANG HANYUT — Proses evakuasi korban hanyut di Sungai Paguyaman, Boalemo, Gorontalo. Tim SAR mengungkap identitas korban. (Sumber: handover) 
Ringkasan Berita:
  • Warga Desa Balate Jaya, Kabupaten Boalemo, dilaporkan hilang terseret arus Sungai Paguyaman pada Senin (2/3/2026) sore
  • KPP Gorontalo menerima laporan pada Selasa (3/3/2026) dan segera mengerahkan tim gabungan untuk menyisir sungai yang arusnya sedang meluap drastis
  • Jasad korban ditemukan dalam kondisi meninggal dunia pada Selasa pagi pukul 09.22 Wita

 

TRIBUNGORONTALO.COM – Kantor Pencarian dan Pertolongan (KPP) Gorontalo, mengungkap identitas wanita usia lanjut (lansia) yang hanyut di Sungai Desa Balate Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo.

Berdasarkan data resmi, korban bernama Nita Tajiru. Ia telah menginjak usia 80 tahun.

Nita merupakan warga Dusun Bukit Harapan, Desa Balate Jaya. Ia dilaporkan hilang terseret arus saat kondisi cuaca di wilayah Paguyaman sedang ekstrem.

Penemuan jasad Nita Tajiru mengakhiri spekulasi dan kekhawatiran warga yang sejak awal pekan melakukan penyisiran mandiri sebelum bantuan profesional tiba.

Operasi pencarian ini secara resmi ditutup oleh otoritas terkait setelah jenazah korban berhasil dievakuasi dari sungai. Penutupan operasi dilakukan dengan penuh rasa duka oleh tim gabungan.

Kepala Seksi Operasi KPP Gorontalo, Halidin La Bidu, memberikan keterangan mendalam mengenai kronologi kejadian yang menimpa lansia malang tersebut.

"(Ditemukan) masih di sungai, sekitar pukul 09.22 Wita," ujar Halidin.

Kronologi kejadian

PENCARIAN KORBAN -- Proses evakuasi korban terseret arus Sungai Paguyaman di Desa Balate Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Selasa (4/3/2026). Korban ditemukan Tim SAR Gabungan dalam kondisi meninggal dunia.
EVAKUASI KORBAN -- Proses evakuasi korban terseret arus Sungai Paguyaman di Desa Balate Jaya, Kecamatan Paguyaman, Kabupaten Boalemo, Selasa (4/3/2026). Korban ditemukan Tim SAR Gabungan dalam kondisi meninggal dunia. (TribunGorontalo.com/TIM SAR)

Peristiwa ini bermula pada Senin (2/3/2026) pagi. Seperti hari-hari biasanya, Nita Tajiru berangkat menuju kebun miliknya untuk beraktivitas.

Pada pukul 05.30 Wita, Nita melangkahkan kaki menuju kebun didampingi oleh istrinya.

Kebun mereka terletak di Dusun Bukit Harapan, area yang cukup jauh dari pemukiman warga. Jaraknya diperkirakan sekitar 3 kilometer dari kediaman mereka.

Pasangan lansia ini menghabiskan waktu berjam-jam di kebun hingga siang hari tiba. Namun, ketenangan mereka terusik oleh perubahan cuaca yang mendadak.

Sekira pukul 14.30 Wita, langit di atas Paguyaman menggelap. Hujan dengan intensitas deras mengguyur wilayah tersebut tanpa ampun.

Menyadari bahaya cuaca buruk, Nita dan istrinya memutuskan untuk segera bergegas pulang guna menghindari badai yang lebih besar.

Namun, dalam perjalanan pulang yang penuh rintangan tersebut, sebuah keputusan krusial diambil. Nita memilih jalur yang berbeda.

Perpisahan jalan di tengah hutan dan hujan lebat ini menjadi momen terakhir keluarga melihat Nita dalam kondisi bernyawa.

Sesampainya di rumah, istri Nita mulai merasa cemas. Ia menyadari bahwa debit air sungai yang melintasi area kebun dan belakang rumah mereka telah meningkat drastis (meluap).

Kecurigaan bahwa suaminya terjebak atau terseret arus mulai muncul. Warga setempat pun segera bergerak melakukan pencarian mandiri hingga larut malam.

Sampai pukul 23.30 Wita, pencarian manual oleh warga tidak membuahkan hasil. Sosok Nita seolah hilang ditelan gelapnya malam dan derasnya Sungai Paguyaman.

Laporan resmi baru masuk ke meja KPP Gorontalo pada Selasa (3/3/2026) pukul 10.30 Wita. Tim Rescue segera menyiapkan peralatan untuk operasi penyelamatan.

Hanya berselang 20 menit setelah laporan diterima, tim diberangkatkan ke lokasi kejadian. Medan yang ditempuh cukup jauh, yakni sekitar 59 kilometer dari arah kantor KPP.

Setibanya di lokasi pada pukul 13.30 Wita, tim SAR langsung melakukan koordinasi dengan BPBD Boalemo, Babinsa, dan masyarakat setempat.

Operasi penyisiran dilakukan di sepanjang bantaran sungai. Kendala utama yang dihadapi tim adalah arus sungai yang sangat kuat akibat sisa hujan deras.

Derasnya arus ini sempat mengkhawatirkan tim, mengingat usia korban yang sudah lanjut sehingga kemungkinan bertahan hidup di air sangat kecil.

Beruntung, sinergi antara Tim Rescue, Komcad, Menwa, dan keluarga korban membuahkan hasil pada hari berikutnya.

Jasad Nita Tajiru akhirnya ditemukan pada Selasa pagi pukul 09.22 Wita. Kondisinya sudah tidak bernyawa saat pertama kali terlihat oleh tim pencari.

Lokasi penemuan jasad ini tergolong sangat jauh dari titik awal korban dilaporkan hilang. Hal ini membuktikan betapa kuatnya arus Sungai Paguyaman saat itu.

Jasad lansia tersebut ditemukan sekitar 23,3 kilometer dari lokasi terakhir (LKP). Tubuhnya terbawa arus hingga melintasi batas desa lainnya.

Penemuan ini membawa duka mendalam bagi keluarga, namun sekaligus memberikan kepastian atas nasib Nita Tajiru yang sempat terombang-ambing dalam ketidakpastian.

Kasus hanyutnya lansia ini kembali mengingatkan publik pada kerentanan Sungai Paguyaman saat musim penghujan tiba.

Tragedi Nita Tajiru ini menambah daftar panjang insiden di Sungai Paguyaman pada tahun 2026. Hal ini memicu ingatan publik pada kejadian serupa yang terjadi di awal tahun.

Baca juga: Sosok Sumitra Isini Korban Hanyut di Gorontalo, Dikenal Baik dan Pendiam

PENCARIAN -- Tim SAR melakukan penyisiran Sungai Paguyaman demi mencari ibu dan anak yang hanyut.
PENCARIAN KORBAN -- Tim SAR melakukan penyisiran Sungai Paguyaman demi mencari ibu dan anak yang hanyut. (Handover)

Tepat dua bulan sebelum insiden Nita Tajiru, Sungai Paguyaman juga sempat menjadi sorotan nasional akibat hilangnya seorang ibu dan anak.

Berbeda dengan kasus Nita Tajiru yang berhasil ditemukan dalam hitungan hari, kasus sebelumnya memberikan akhir yang lebih pilu bagi keluarga korban.

Pada Januari 2026, operasi SAR terhadap Sumitra Isini (26) dan anaknya Akbar Diangi (9) terpaksa ditutup tanpa hasil setelah tujuh hari pencarian intensif.

Kontras dengan penemuan jasad Nita Tajiru, keberadaan Sumitra dan Akbar hingga kini masih menjadi misteri setelah mereka terlepas pegangan saat menyeberangi sungai.

Halidin La Bidu menjelaskan bahwa penutupan operasi pada kasus Januari lalu disebabkan oleh nihilnya tanda-tanda keberadaan korban setelah area luas disisir.

"Arus Sungai Paguyaman memiliki karakteristik yang sulit diprediksi, terutama saat curah hujan tinggi di hulu," ujar Halidin dalam evaluasi penutupan operasi. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Senin, 16 Maret 2026 (26 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:03
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved