Berita Internasional
China–Taiwan Makin Tegang: Saling Klaim Soal Sejarah, Status Negara Jadi Sumber Perseteruan
Hubungan antara China dan Taiwan kembali memanas, kali ini bukan lewat senjata, tapi lewat perang kata-kata.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERANG-NARASI-Perebutan-Taiwan-bukan-hanya-soal-klaim-wilayah.jpg)
Rebutan Narasi Sejarah
Konflik antara China dan Taiwan bukan hanya soal politik dan militer, tapi juga soal siapa yang berhak atas sejarah. Tahun ini, China akan menggelar parade militer untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.
Menariknya, Beijing mengundang para veteran yang dulunya bertempur untuk Republik Tiongkok, yang kini menjadi Taiwan.
Namun Taiwan keberatan. Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, mengatakan bahwa China sedang mencoba memutarbalikkan sejarah.
"Yang memimpin perang melawan Jepang adalah Republik Tiongkok, bukan Republik Rakyat Tiongkok. Ini fakta yang tak terbantahkan," tegasnya.
Mengapa Dunia Peduli?
Taiwan punya posisi strategis, baik secara geografis maupun ekonomi. Pulau ini adalah produsen utama chip semikonduktor, komponen penting dalam berbagai teknologi global.
Jika konflik antara China dan Taiwan berubah menjadi perang terbuka, dampaknya bisa meluas ke kawasan Asia dan bahkan dunia. (*)