Jumat, 13 Maret 2026

Berita Internasional

China–Taiwan Makin Tegang: Saling Klaim Soal Sejarah, Status Negara Jadi Sumber Perseteruan

Hubungan antara China dan Taiwan kembali memanas, kali ini bukan lewat senjata, tapi lewat perang kata-kata.

Tayang:
Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto China–Taiwan Makin Tegang: Saling Klaim Soal Sejarah, Status Negara Jadi Sumber Perseteruan
TribunGorontalo.com
PERANG NARASI -- Perebutan Taiwan bukan hanya soal klaim wilayah, tapi juga soal sejarah, identitas, dan masa depan dua entitas yang dulunya satu negara, tapi kini berada di jalan berbeda. Selama kedua belah pihak saling keras kepala, dunia harus terus waspada terhadap potensi konflik yang lebih besar. 

TRIBUNGORONTALO.COM – Hubungan antara China dan Taiwan kembali memanas, kali ini bukan lewat senjata, tapi lewat perang kata-kata.

Kedua pihak saling klaim versi sejarah masing-masing, terutama soal siapa yang sebenarnya punya hak atas Taiwan.

Beijing semakin kesal dengan Presiden Taiwan, Lai Ching-te, yang dalam dua pidatonya baru-baru ini menegaskan bahwa Taiwan adalah negara yang sah.

Dalam serangkaian pidato bertema "Mempersatukan Negara", Lai mengatakan bahwa China tidak punya dasar hukum maupun sejarah untuk mengklaim Taiwan.

"Taiwan tentu saja negara. Masa depan kami hanya bisa ditentukan oleh rakyat Taiwan melalui cara demokratis," ujar Lai, Selasa malam (24/6/2025).

Lai juga menekankan bahwa Republik Tiongkok (nama resmi Taiwan) sudah berdiri selama lebih dari satu abad, jauh lebih tua dibanding Republik Rakyat Tiongkok yang baru berdiri setelah kemenangan Partai Komunis tahun 1949.

"Republik Tiongkok sudah berusia 113 tahun. Republik Rakyat Tiongkok? Baru sekitar 70 tahun. Jelas sekali perbedaannya," tegas Lai.

China Balas: “Taiwan Itu Sudah Bagian dari Kami!”

Tak tinggal diam, pemerintah China langsung merespons lewat juru bicara Kantor Urusan Taiwan, Zhu Fenglian. Menurutnya, pidato Lai hanyalah provokasi yang akan dijawab dengan tindakan tegas.

"Fakta sejarahnya jelas: rakyat di kedua sisi Selat Taiwan adalah bagian dari satu Tiongkok. Itu tak pernah berubah," kata Zhu.

Ketika ditanya soal latihan militer China di sekitar Taiwan yang dianggap sebagai persiapan invasi, Zhu menjawab: "Taiwan adalah bagian dari China. Jadi tidak ada istilah 'invasi'."

Latihan Militer China Terus Berlangsung

Selama beberapa tahun terakhir, China rutin menggelar latihan militer besar-besaran di sekitar Taiwan.

Bahkan menurut Kementerian Pertahanan Taiwan, jet tempur dan kapal perang China hampir setiap hari melintasi wilayah dekat pulau itu.

Situasi ini membuat banyak pihak khawatir, terutama karena China tidak pernah menutup kemungkinan mengambil Taiwan dengan kekuatan militer jika dianggap perlu.

Rebutan Narasi Sejarah

Konflik antara China dan Taiwan bukan hanya soal politik dan militer, tapi juga soal siapa yang berhak atas sejarah. Tahun ini, China akan menggelar parade militer untuk memperingati 80 tahun berakhirnya Perang Dunia II.

Menariknya, Beijing mengundang para veteran yang dulunya bertempur untuk Republik Tiongkok, yang kini menjadi Taiwan.

Namun Taiwan keberatan. Menteri Pertahanan Taiwan, Wellington Koo, mengatakan bahwa China sedang mencoba memutarbalikkan sejarah.

"Yang memimpin perang melawan Jepang adalah Republik Tiongkok, bukan Republik Rakyat Tiongkok. Ini fakta yang tak terbantahkan," tegasnya.
Mengapa Dunia Peduli?

Taiwan punya posisi strategis, baik secara geografis maupun ekonomi. Pulau ini adalah produsen utama chip semikonduktor, komponen penting dalam berbagai teknologi global.

Jika konflik antara China dan Taiwan berubah menjadi perang terbuka, dampaknya bisa meluas ke kawasan Asia dan bahkan dunia. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved