Gempa Myanmar
Korban Gempa Myanmar Tembus 1.000 Jiwa, Upaya Pencarian Terus Dilakukan
Korban-korban teridentifikasi setelah tim penyelamat menemukan lebih banyak jenazah di antara reruntuhan bangunan yang ambruk.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TIM-PENYELAMAT-Gempa-Myanmar-menyisakan-reruntuhan.jpg)
Saat gempa terjadi, sebuah gedung pencakar langit setinggi 33 lantai yang sedang dibangun oleh perusahaan asal Tiongkok untuk pemerintah Thailand runtuh dalam hitungan detik, menciptakan awan debu raksasa dan kepanikan massal.
Tim penyelamat terus bekerja keras menggunakan alat berat untuk mencari korban, meski harapan menemukan mereka dalam keadaan selamat semakin menipis.
Doa dan Harapan Keluarga Korban
Naruemol Thonglek, seorang wanita berusia 45 tahun, menangis saat menunggu kabar dari pasangannya yang berasal dari Myanmar, bersama lima temannya yang bekerja di proyek tersebut.
"Saya berdoa mereka selamat, tapi saat melihat reruntuhan ini, saya bertanya-tanya di mana mereka? Apakah mereka masih hidup?" katanya sambil terisak.
Waenphet Panta juga masih menanti kabar putrinya, Kanlayanee, yang terakhir kali menelepon satu jam sebelum gempa terjadi.
"Saya hanya bisa berdoa semoga dia selamat dan sudah berada di rumah sakit," katanya.
Bantuan Internasional Mulai Berdatangan
Pemerintah Myanmar mengakui kebutuhan mendesak akan pasokan darah di daerah yang paling terdampak.
Baca juga: Ayah Tega Habisi Nyawa Anak Kandung, Motifnya Bikin Geram!
Meskipun Myanmar sebelumnya kerap enggan menerima bantuan asing, kali ini Min Aung Hlaing menyatakan kesiapan negaranya untuk menerima dukungan dari luar.
Bantuan pun mulai berdatangan. Tim penyelamat dari provinsi Yunnan, Tiongkok, tiba di Yangon pada Sabtu pagi dengan membawa peralatan pendeteksi gempa, drone, dan berbagai perlengkapan lainnya.
Sementara itu, Rusia mengirimkan dua pesawat yang membawa 120 personel penyelamat serta bantuan logistik.
India juga mengirim tim pencarian dan penyelamatan serta tenaga medis, sedangkan Malaysia akan mengirimkan 50 relawan pada Minggu untuk membantu proses evakuasi dan distribusi bantuan di wilayah terdampak.
Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) mengalokasikan dana darurat sebesar 5 juta dolar AS untuk memulai upaya bantuan kemanusiaan.
Sementara itu, mantan Presiden AS Donald Trump pada Jumat lalu menyatakan bahwa Amerika Serikat akan turut membantu.