Berita Nasional
USAID Hentikan Pendanaan, Sejumlah Program Vital di Indonesia Terancam
Badan bantuan yang didirikan oleh Presiden John F. Kennedy pada 1961 ini bertugas mengelola dana donor untuk berbagai negara, khususnya dalam pengemba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Kantor-USAID.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM - Selama 64 tahun, USAID telah berperan dalam mendukung pembangunan di Indonesia.
Badan bantuan yang didirikan oleh Presiden John F. Kennedy pada 1961 ini bertugas mengelola dana donor untuk berbagai negara, khususnya dalam pengembangan sosial dan ekonomi.
Namun, keputusan terbaru pemerintahan Donald Trump untuk menghentikan operasi USAID telah menimbulkan kekhawatiran besar terhadap berbagai program vital di Indonesia.
Menurut laporan, USAID setiap tahunnya mengalokasikan dana ratusan miliar dolar untuk berbagai proyek di seluruh dunia.
Tahun 2023 mencatat rekor pengeluaran tertinggi USAID sebesar 72 miliar dolar AS yang sebagian besar dialokasikan ke Ukraina.
Indonesia juga merupakan salah satu negara penerima bantuan USAID, dengan dana sebesar 153,5 juta dolar AS pada 2024, meningkat dari 151,6 juta dolar AS pada 2023, sebagaimana dilaporkan Magdalene berdasarkan data Good Stats.
Dampak Penghentian Dana USAID di Indonesia
Penghentian pendanaan USAID yang diumumkan oleh Elon Musk, kepala Department of Government Efficiency (DOGE), dan disetujui oleh Donald Trump, mulai berlaku pada 7 Februari 2025.
Semua pegawai USAID yang tidak bekerja di sektor esensial diberhentikan sementara, sementara pegawai AS yang bekerja di luar negeri diwajibkan kembali ke Amerika dalam waktu 30 hari.
Keputusan ini memunculkan kekhawatiran terhadap program-program penting yang selama ini didanai USAID, seperti sektor kesehatan, akses air bersih dan sanitasi, respons bencana, serta tata kelola pemerintahan.
1. Program Kesehatan Terancam Terhenti
Salah satu program unggulan USAID di sektor kesehatan adalah USAID BEBAS TB, yang diluncurkan pada Juli 2023 dengan anggaran lima tahun sebesar 70 juta dolar AS.
Program ini berfokus pada deteksi, diagnosis, pengobatan, dan pencegahan tuberkulosis (TB) di empat provinsi dengan tingkat prevalensi tinggi: Sumatera Utara, Jawa Barat, Jawa Tengah, dan Jawa Timur.
Jika pendanaan dihentikan, ribuan pasien TB terancam kehilangan akses pengobatan.
USAID juga menjadi kontributor utama dalam penanganan HIV/AIDS di Indonesia melalui Global Fund di bawah skema US President’s Emergency Plan for AIDS Relief (PEPFAR).
| Resmi Disahkan! UU PPRT Pastikan PRT Dapat BPJS, Ini 14 Hak yang Wajib Dipenuhi |
|
|---|
| Gas LPG Nonsubsidi Tembus Rp 228 Ribu hingga Gorontalo Ikut Terdampak, Berikut Harga Terbaru |
|
|---|
| Baru Tiba dari Jakarta, Kader Golkar Malut Meninggal Ditikam di Bandara |
|
|---|
| Temuan Menkes! 10 Persen Orang Kaya Ternyata Terima Bantuan BPJS |
|
|---|
| Status Hutang di SLIK OJK Diubah, Dihapus Hanya Dalam 3 Hari Setelah Lunas |
|
|---|