Berita Nasional
Listrik dari Urin Manusia? Terobosan Baru Energi Terbarukan hingga Harapan untuk Wilayah Terpencil
Upaya mencari sumber energi baru terbarukan (EBT) kembali mencatat kemajuan. Tim peneliti dari McGill University, Kanada, berhasil menghasilkan
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/262023_tes-urine_Polisi-Pohuwato_.jpg)
Ringkasan Berita:
- Tim peneliti McGill University di Kanada berhasil menghasilkan listrik dari urin manusia menggunakan teknologi sel bahan bakar mikroba (MFC).
- Studi menunjukkan konsentrasi urin 50–75 persen menghasilkan daya paling tinggi sekaligus membantu penguraian polutan.
- Inovasi ini berpotensi mendukung energi terbarukan, sanitasi berkelanjutan, dan solusi listrik bagi wilayah tanpa akses jaringan.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Upaya mencari sumber energi baru terbarukan (EBT) kembali mencatat kemajuan. Tim peneliti dari McGill University, Kanada, berhasil menghasilkan listrik dari urin manusia menggunakan teknologi sel bahan bakar mikroba (microbial fuel cell/MFC).
Inovasi ini tak hanya menjanjikan pembangkit listrik alternatif, tetapi juga menawarkan pendekatan baru dalam pengelolaan limbah dan sanitasi berkelanjutan.
Peneliti utama, Vijaya Raghavan, menjelaskan bahwa konsentrasi urin berpengaruh signifikan terhadap kinerja sistem.
“Meski MFC diketahui mampu membersihkan air limbah dan menghasilkan listrik, dampak spesifik dari berbagai konsentrasi urin terhadap fungsi elektrokimia, efisiensi penghilangan polutan, dan perilaku komunitas mikroba masih belum sepenuhnya dipahami,” ujar Raghavan, dikutip Rabu (18/2/2026).
Ia menambahkan, penelitian timnya secara sistematis mengkaji bagaimana variasi proporsi urin memengaruhi mikroba dan energi yang dihasilkan.
Bagaimana Urin Bisa Jadi Listrik?
Teknologi MFC memanfaatkan bakteri alami untuk menguraikan limbah organik. Dalam proses metabolisme tersebut, mikroorganisme melepaskan elektron yang kemudian ditangkap sebagai arus listrik.
Dalam studi yang dipublikasikan di jurnal Results in Chemistry, tim peneliti menguji empat sel bahan bakar mikroba dua ruang dengan campuran air limbah sintetis dan urin pada konsentrasi 20 persen, 50 persen, dan 75 persen.
Selama dua pekan, mereka memantau produksi listrik, efisiensi penghilangan polutan, serta aktivitas elektrokimia.
Baca juga: Makan atau Minum karena Lupa Saat Puasa, Batal atau Tetap Sah? Ini Penjelasannya
Hasilnya menunjukkan bahwa campuran dengan kadar urin 50–75 persen menghasilkan listrik paling tinggi.
“Urin mengandung ion esensial dan senyawa organik yang mendukung aktivitas mikroba secara cepat sehingga meningkatkan pembangkitan daya dan penguraian polutan,” jelas Raghavan.
Peneliti juga mencatat perubahan komposisi mikroba dalam sel. Bakteri Sediminibacterium mendominasi pada konsentrasi sedang, sementara Comamonas lebih dominan pada kadar tinggi. Pergeseran komunitas mikroba ini memengaruhi efisiensi produksi listrik karena masing-masing spesies memiliki mekanisme transfer elektron yang berbeda.
Solusi untuk Wilayah Minim Listrik
Temuan ini membuka peluang pemanfaatan MFC di wilayah pedesaan, pusat bantuan bencana, maupun komunitas yang belum memiliki akses jaringan listrik. Selain menghasilkan energi, sistem ini sekaligus membantu pengolahan limbah secara lebih ramah lingkungan.
Tak hanya itu, MFC juga berpotensi menjadi biosensor berbiaya rendah. Karena sinyal listrik yang dihasilkan berubah sesuai tingkat polusi, teknologi ini dapat digunakan untuk memantau kualitas air limbah tanpa memerlukan peralatan laboratorium yang kompleks.
Bagi Raghavan, inovasi ini merupakan langkah menuju ekonomi sirkular—konsep yang memandang limbah sebagai sumber daya.