Sabtu, 14 Maret 2026

Update Kabar Dunia

Amerika Berencana Izinkan Ukraina Serang Rusia Pakai Rudal Jarak Jauh

Sebelumnya, AS secara konsisten enggan memberikan izin atau memasok senjata yang bisa digunakan Ukraina untuk menyerang jauh ke wilayah Rusia, karena

Tayang:
Penulis: Redaksi | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Amerika Berencana Izinkan Ukraina Serang Rusia Pakai Rudal Jarak Jauh
Getty
Pemandangan lokasi bangunan tempat tinggal bertingkat yang rusak pasca dugaan serangan pesawat tak berawak Ukraina di Ramenskoe, di luar Moskow, wilayah Moskow, Rusia, pada 10 September 2024. 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Presiden Amerika Serikat (AS) Joe Biden memperlihatkan gelagat mencabut aturan penggunaan senjata jarak jauh oleh Ukraina

Sebelumnya, AS secara konsisten enggan memberikan izin atau memasok senjata yang bisa digunakan Ukraina untuk menyerang jauh ke wilayah Rusia, karena khawatir konflik semakin memanas.

Beberapa sekutu Ukraina memang telah memasok senjata semacam itu, namun negara-negara pemberi senjata memberlakukan batasan ketat tentang kapan dan bagaimana senjata tersebut dapat digunakan.

Ketika ditanya apakah AS akan mencabut pembatasan tersebut, Biden menjawab bahwa pemerintahannya sedang membahas hal itu saat ini.

Sebelumnya pada hari yang sama, Menteri Luar Negeri AS Antony Blinken juga mengisyaratkan kemungkinan adanya perubahan sikap AS dalam memberikan izin penggunaan rudal jarak jauh oleh Ukraina terhadap Rusia.

Dalam wawancara dengan Sky News, Blinken mengatakan bahwa pihaknya tidak pernah menutup kemungkinan.

"Namun, ketika kami memberikan izin, kami ingin memastikan itu dilakukan dengan cara yang bisa mempercepat tujuan yang ingin dicapai oleh Ukraina,” kata dia. 

Menurut laporan Reuters, sumber anonim menyatakan bahwa AS sedang merumuskan kesepakatan untuk memberikan kebutuhan senjata yang diperlukan Ukraina dalam perjuangannya melawan Rusia.

Namun, kesepakatan tersebut membutuhkan waktu beberapa bulan untuk menyelesaikan seluruh masalah terkait pengiriman senjata tersebut.

Presiden Ukraina Volodymyr Zelenskyy, dalam pidato hariannya, menegaskan bahwa prioritas utama Ukraina adalah mencapai perdamaian yang adil.

"Setiap rudal, drone, dan tindakan bermusuhan, serta setiap upaya untuk memperpanjang dan memperburuk perang ini, pasti akan mendapatkan respons dari dunia," kata Zelenskyy.

Ia juga menambahkan bahwa Ukraina akan memastikan persatuan dunia. "tidak peduli betapa sulitnya," kata dia. 

Sementara itu, militer Rusia mengklaim telah menghancurkan 144 drone udara Ukraina yang diluncurkan dalam serangan semalam yang menargetkan wilayah di barat Rusia.

Pertahanan udara Rusia menembak jatuh 20 drone di wilayah Moskow, di mana Gubernur Andrey Vorobyov mengatakan bahwa drone tersebut merusak gedung apartemen dan rumah di Lyubertsy dan Ramenskoye, menyebabkan satu orang tewas dan tiga lainnya terluka.

Sebagian besar intercept terjadi di wilayah Bryansk, dekat perbatasan Rusia-Ukraina, namun pejabat setempat melaporkan tidak ada kerusakan atau korban setelah 72 drone berhasil ditembak jatuh.

Pertahanan udara Rusia juga menjatuhkan drone Ukraina di wilayah Kursk, Tula, Belgorod, Kaluga, Voronezh, Lipetsk, dan Oryol, dengan sebagian besar gubernur setempat melaporkan tidak ada korban di wilayah mereka.

Serangan udara Rusia terbaru di Ukraina termasuk menggunakan drone untuk menargetkan wilayah Kyiv, yang telah berulang kali diserang sepanjang bulan ini.

Kepala Administrasi Militer Kyiv, Serhiy Popko, mengatakan bahwa alarm udara berbunyi selama dua jam pada hari Selasa, namun semua drone Rusia berhasil ditembak jatuh oleh pertahanan udara Ukraina.

Angkatan Udara Ukraina mengklaim telah menembak jatuh 38 dari 46 drone yang digunakan Rusia dalam serangan malam tersebut.

Intercept dilakukan di wilayah Cherkasy, Chernihiv, Dnipropetrovsk, Kharkiv, Kherson, Kirovohrad, Kyiv, Mykolaiv, Odesa, Poltava, Sumy, Vinnytsia, dan Zaporizhzhia.

Sementara itu, Kementerian Luar Negeri Ukraina pada hari Senin memanggil kuasa usaha Iran, Shahriar Amouzegar, untuk memprotes kemungkinan pasokan rudal balistik dari Teheran ke Rusia.

Ukraina memberikan peringatan keras bahwa jika pengiriman rudal tersebut terbukti benar, akan ada konsekuensi yang menghancurkan dan tidak dapat diperbaiki bagi hubungan bilateral kedua negara.

Pekan lalu, Gedung Putih mengungkapkan kekhawatirannya terhadap laporan berita Barat yang belum dikonfirmasi mengenai transfer rudal dari Iran ke Rusia.

Laporan tersebut menunjukkan bahwa pengiriman tersebut mungkin telah terjadi atau akan segera dilakukan.

The Wall Street Journal melaporkan bahwa para pejabat AS dan Eropa tanpa nama baru-baru ini menyimpulkan bahwa Iran telah mengirim rudal balistik ke Rusia, yang jika benar, ini merupakan langkah pertama dalam kemitraan militer yang semakin erat antara kedua negara anti-Barat tersebut.

Kremlin membantah laporan tersebut, sementara pejabat Iran juga membantah telah memasok rudal ke Rusia. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved