Jumat, 6 Maret 2026

Human Interest Story

Perjuangan Atun Patamani, Dari Pengusaha Kios Hingga Pedagang Sayur di Pasar Tilamuta Gorontalo

Selama lima tahun terakhir, Atun telah menjadi sosok yang akrab di pasar ini, namun perjalanan hidupnya sebagai pedagang sayur tidaklah mudah dan penu

Tayang: | Diperbarui:
Penulis: Nawir Islim | Editor: Wawan Akuba
zoom-inlihat foto Perjuangan Atun Patamani, Dari Pengusaha Kios Hingga Pedagang Sayur di Pasar Tilamuta Gorontalo
FOTO: Nawir Islim, TribunGorontalo.com
Atun Patamani, Adu Nasib Dengan Berjualan Sayur Di Pasar Tradisional Tilamuta Gorontalo 

TRIBUNGORONTALO.COM, Boalemo – Di sudut Pasar Tradisional Tilamuta, Kabupaten Boalemo, Provinsi Gorontalo, seorang wanita bernama Atun Patamani (50) menjalani hari-harinya sebagai pedagang sayur dan rempah-rempah.

Selama lima tahun terakhir, Atun telah menjadi sosok yang akrab di pasar ini, namun perjalanan hidupnya sebagai pedagang sayur tidaklah mudah dan penuh tantangan.

Sebelum terjun ke dunia jual beli sayur, Atun adalah seorang pengusaha kios yang menjual barang-barang harian di depan rumahnya.

Namun, bisnis tersebut tidak memberikan hasil yang memadai, sehingga Atun memutuskan untuk mencoba peruntungan di pasar tradisional.

"Sebelumnya saya penjual barang harian di kios depan rumah saya, tapi karena tidak membawakan hasil yang pasti, saya berinisiatif untuk berjualan sayur di pasar," ungkap Atun kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (4/9/2024).

Atun menceritakan bagaimana ia memulai usaha barunya di pasar Tilamuta.

"Saat itu teman saya menawarkan salah satu lapak di pasar, tapi saya harus memilih antara menjual ikan atau sayur. Setelah mempertimbangkan, saya lebih memilih sayuran," ujarnya.

Awal mula berjualan di pasar tidaklah mudah. Atun harus berjuang keras untuk menarik perhatian konsumen.

"Banyak sekali masa sulit, pernah ada suatu waktu saya sangat sulit mendapatkan pembeli, mungkin karena saya belum terbiasa berteriak dan menawarkan dagangan," ceritanya.

Namun, dengan tekad yang kuat, Atun berhasil melewati masa-masa sulit tersebut. Ia berusaha konsisten dalam menawarkan barang dagangannya, dan seiring waktu, pelanggan mulai berdatangan. "Dengan berjalannya waktu, tentu sudah banyak yang membeli," jelasnya.

Meski demikian, Atun sempat merasakan keraguan ketika beralih profesi menjadi pedagang sayur.

Ia menyadari bahwa sayuran memiliki masa kadaluwarsa, dan risiko tidak laku selalu menghantui. 

"Awalnya memang ragu, karena sayur ini ada masa kadaluarsanya. Kalau tidak laku, maka habislah sudah," katanya.

Namun, Atun belajar dari para pedagang lain bagaimana memilih sayuran terbaik dan menjaga kualitas dagangannya. Kini, ia merasa lebih mahir dalam menjalani profesinya.

"Alhamdulillah, saya cukup mahir dalam memilih sayur terbaik," tambahnya.

Di akhir percakapan, Atun mengungkapkan harapannya agar usahanya tetap berjalan lancar tanpa hambatan.

"Karena sudah menjadi pekerjaan tetap, saya sangat mengharapkan kelancaran usaha saya hingga nanti saya tidak berjualan lagi," tutupnya dengan penuh harap. (*)

Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved