Human Interest Story
Cerita Nelayan Tilamuta Gorontalo, Tahan 18 Jam di Laut Demi Tangkapan Ikan Berlimpah
Para nelayan di Tilamuta biasanya turun ke laut pada jam 11.00 WITA dan melakukan perjalanan selama 4-5 jam menuju spot ikan yang banyak.
Penulis: Nawir Islim | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1852024Rahmat-Memi-Daima-seorang-nelayan.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Boalemo -- Rahmat Memi Daima, 34 tahun, nelayan Desa Pentadu Timur, Tilamuta, Boalemo, telah menekuni profesinya sejak tahun 2000.
Perjalanannya menjadi nelayan dimulai saat masih di bangku SD.
Kala itu, dia menanti ikan di pesisir pelabuhan dari para nelayan dan kemudian menjualnya.
Penghasilan yang lumayan membuatnya memutuskan untuk meninggalkan bangku sekolah.
Para nelayan di Tilamuta biasanya turun ke laut pada jam 11.00 WITA dan melakukan perjalanan selama 4-5 jam menuju spot ikan yang banyak.
Baca juga: Bosan Bekerja Kantoran, Pria Gorontalo Ini Pilih Jadi Tukang Kayu yang Sukses
Bagi perahu rakit, perjalanan bisa mencapai enam jam.
Sesampainya di spot, mereka langsung menebarkan jala.
Proses penangkapannya tidak mudah, terutama jika hasil tangkapan mencapai empat ton.
Butuh waktu lama untuk mengangkatnya, mengeluarkannya dari jala, dan mengatur kembali peralatan, totalnya hingga enam jam.
Proses penangkapan ikan di laut bisa memakan waktu hingga 18 jam.
Bagi Rahmat dan para nelayan lainnya, ini sudah menjadi hal yang biasa dan merupakan tanggung jawab mereka.
Pekerjaan nelayan memang sulit, tapi demi keluarga di rumah, Rahmat harus bekerja keras.
Ombak besar menjadi kendala utama.
Baca juga: Mentan Andi Amran Diundang Panen Raya Padi di Pohuwato, Bupati Saipul Antar Langsung Undangan
Kapal-kapal kecil tidak bisa turun melaut dan mereka harus menumpang di kapal yang lebih besar untuk mendapatkan penghasilan.
Cakalang, Oci, dan lajang merupakan jenis ikan yang selalu didapatkan para nelayan.