Kabar Pohuwato
Menikmati Indahnya Toleransi dan Buah Naga Desa Banuroja Pohuwato
Memasuki Desa Banuroja, pengunjung akan disuguhkan pemandangan indah Pura, rumah ibadah umat Hindu.
Penulis: Rahman Halid | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/1722024_Rumah-ibadah-umat-Hindu.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Desa Banuroja di Kabupaten Pohuwato, Gorontalo, bukan hanya dikenal sebagai kampung Pancasila, tetapi juga menjadi destinasi wisata kebhinekaan.
Memasuki Desa Banuroja, pengunjung akan disuguhkan pemandangan indah Pura, rumah ibadah umat Hindu.
Keindahan arsitektur Pura dengan berbagai patung estetik dan ukiran yang rumit menjadikannya objek foto yang sempurna untuk dibagikan kepada teman dan keluarga.
Baca juga: Pedagang Pelabuhan Pelindo Gorontalo Diusir: Kasihan Karyawan, Anaknya Kuliah Masih 2 Tahun Lagi
Di desa ini, pengunjung juga akan disuguhkan pemandangan unik: buah naga yang tumbuh di halaman rumah hampir setiap warga.
Tak heran, Desa Banuroja kini dikenal sebagai penghasil buah naga dan alpukat terbanyak di Pohuwato.
Nirman Dama, warga Desa Banuroja, mengatakan bahwa banyak wisatawan yang berkunjung ke desa ini untuk melihat Pura dan merasakan suasana toleransi yang kental.
"Wisatawan ingin melihat Pura dan belajar tentang fungsinya. Mereka juga kagum dengan toleransi yang terjalin di Desa Banuroja," kata Nirman.
Keramahan warga Desa Banuroja juga menjadi daya tarik tersendiri. Tak jarang, wisatawan yang datang dijamu dengan buah-buahan segar, seperti buah naga dan lemon.
Desa Banuroja menawarkan wisata yang berbeda, perpaduan keindahan arsitektur, toleransi yang menyejukkan, dan keramahan penduduk yang memikat.
Baca juga: Masyarakat Gorontalo Sangat Menanti Barongsai di Cap Go Meh Nanti
Desa ini adalah contoh nyata bahwa keberagaman dapat hidup berdampingan dengan harmonis.
Pada 2020 lalu, Desa Banuroja yang berlokasi di Kabupaten Pohuwato sebagai Desa Binaan Universitas Negeri Gorontalo mendapat kehormatan, dengan menjadi lokasi Deklarasi Forum Pemuka Masyarakat Cinta Desa (FORPEACE).
Deklarasi Forpeace dilakukan oleh Menteri Desa Pembangunan Daerah Tertinggal (Mendes PDTT) Abdul Halim Iskandar, yang disaksikan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Terorisme (BNPT) Komjen Pol. Boy Rafli Amar, Wakil Kepala Badan Pembinaan Ideologi Pancasila (BPIP) Hariyono, Bupati Pohuwato Syarif Mbuinga, Rektor Universitas Negeri Gorontalo Eduart Wolok.
Mendes PDTT dalam sambutannya mengatakan bahwa kehadiran Desa Banuroja merupakan suatu hal yang luar biasa.
Desa Banuroja singkatan dari Bali, Nusa Tenggara, Gorontalo, dan Jawa, Betul-betul mengidentifikasi diri sebagai orang Indonesia.
Baca juga: Penghitungan Suara Pemilu di Tilongkabila Gorontalo Tertunda, Saksi Parpol Tuduh PPK Curang
"Beginilah Indonesia yang kita harapkan dimasa-masa yang akan datang. Indonesia yang damai, penuh toleransi, saling menghargai, dan kalimat yang paling gampang adalah Indonesia yang penuh kemanusiaan. Saya yakin Indonesia yang damai dan tentram akan segera terwujud dimulai dari Desa Banuroja," ungkap Mendes PDTT saat itu.
Kelebihan yang dimiliki Desa Banuroja kata Mendes PDTT, akan ia bawa dan disampaikan ke Desa lain di Indonesia untuk dapat ditiru, sebagai upaya untuk mencapai target pembangunan yang berkelanjutan atau Sustainable Development Goals (SDGs).
Sementara itu Rektor UNG Eduart Wolok, menuturkan, Forum Pemuka Masyarakat Cinta Desa (FORPEACE), dilakukan untuk menjadikan para pemuka masyarakat cinta terhadap Desa.
"Forum ini diharapkan dapat menjadi wadah untuk bisa memperkuat rasa kepedulian dan cinta tentang perkembangan Desa. Dengan besarnya cinta dan kepedulian tersebut diharapkan dapat memperkuat pembangunan Desa," pungkasnya
Silsilah Nama dan Asal Usul Banuroja
Nama Desa Banuroja merupakan akronim dari 5 daerah yang ada di Indonesia.
Di antaranya ada Bali, Nusa Tenggara Barat, Toraja, Gorontalo dan Jawa kelima.
Untuk saat ini desa ini dihuni oleh 12 suku di Indonesia.
Di antaranya ada suku Bali, Jawa, Lombok, Gorontalo, Minahasa, Sunda, Bugis, Flores dan Toraja, Batak, Ambon dan Sangihe,
Rony Handri Koyansow, Kepala Desa Banuroja menjelaskan, kebergaman agama dan suku yang ada di Desa Banuroja karna arus transmigrasi warga.
Perjalanan itu pada 1980-an di mana masyarakat dari pulau Jawa harus berpindah tempat ke Sulawesi.
"Di Jaman Orde baru diterapkan mode arus transmigrasi warga, akhirnya banyak yang berdatangan dan bermukim di desa ini," jelasnya.
Lanjut Rony, total keseluruhan warga di Desa Banuroja mencapai 1.117 jiwa, yang terbagi dengan beberapa etnis suku dan agama
"Ada Bali 459 jiwa, Lombok 300 jiwa, Jawa 293 jiwa, Minahasa 28 jiwa, Flores 3 jiwa, Toraja 2 jiwa, Batak 11 jiwa), Bugis 8 jiwa, Ambon 10 jiwa, dan Sangihe 3 jiwa," pungkasnya.
Dari jumlah itu, paling banyak berprofesi sebagai petani dan memiliki kebun masing-masing.
"Banuroja juga terkenal dengan buahnya, ada buah Naga, Lemon dan Alpukat. Sehingga banyak warga di desa ini yang menggeluti profesi sebagai petani buah," tutupnya (*)
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.