Curhat Warga
Pedagang Pelabuhan Pelindo Gorontalo Diusir: Kasihan Karyawan, Anaknya Kuliah Masih 2 Tahun Lagi
Indriyani Lalu, seorang pedagang yang telah berjualan sejak tahun 2018, meneteskan air mata saat memikirkan nasibnya dan karyawannya.
Penulis: Andika Machmud | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Yusran-Botutihe-penjual-di-pondok-bakso-mie-ayam.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Rencana penggusuran pedagang oleh pihak Pelabuhan Pelindo Gorontalo membawa duka dan kekhawatiran.
Indriyani Lalu, seorang pedagang yang telah berjualan sejak tahun 2018, meneteskan air mata saat memikirkan nasibnya dan karyawannya.
"Sampai saat ini belum tahu akan kemana," ungkap Indriyani kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (17/2/2024).
Baca juga: Caleg Bone Bolango Mengamuk di Kantor Camat, Menuding PPK Curangi Formulir C1
Keberlangsungan hidup dan tanggung jawabnya terhadap karyawan menjadi beban pikirannya.
Ia berharap Pelindo mempertimbangkan kembali keputusannya dan memberikan solusi yang terbaik bagi para pedagang.
"Apalagi di sini itu kan saya sudah memperkerjakan orang lain, kasihan dia bisa kena dampaknya," katanya.
Pedagang lainnya, Yusran Botutihe, juga merasakan kesedihan yang sama.
Ia telah berusaha menata lapaknya agar tidak mengganggu kelancaran aktivitas di pelabuhan, bahkan ia memasang lampu untuk menerangi jalan di sekitarnya.
Baca juga: Masyarakat Gorontalo Sangat Menanti Barongsai di Cap Go Meh Nanti
"Dari awal saya sudah timbun tanah agar ada tempat motor untuk parkir, karena pikiran saya agar kenderaan tidak terganggu," ungkap Yusran.
Yusran memikirkan tanggung jawabnya terhadap karyawannya yang memiliki anak yang sedang berkuliah.
Ia berharap Pelindo memberikan toleransi dan solusi yang adil bagi para pedagang.
"Kalo misalnya kenderaan, kita bisa tata. Parkir kita bisa atur. Tapi bagaimana kita sudah tidak bisa jualan lagi disini," tutupnya.
Baca juga: Sosok Bripda Yusran Lameo, Polisi di Gorontalo Tetap Pilih Jaga TPS Kendati Rumahnya Terbakar
Penggusuran para pedagang ini memicu pertanyaan tentang solusi bagi mata pencaharian mereka.
Di satu sisi, Pelindo ingin menertibkan kawasan pelabuhan, namun di sisi lain, para pedagang juga memiliki hak untuk mencari nafkah.
Pemerintah perlu turun tangan untuk menjembatani kedua belah pihak dan mencari solusi yang terbaik.(*)