Konflik Rusia vs Ukraina

Presiden Putin Disesatkan hingga Ancaman Kudeta, Begini Menurut Analisis Barat

Penguasa Kremlin sedang menghadapi ujian besar usai melancarkan invasi atau operasi militer ke Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin dinilai disesat.

Editor: Lodie Tombeg
bbc/kompas.com
Operasi militer Rusia di Ukraina. 

Berperang dengan anggota NATO adalah tindakan berbahaya dan berisiko. Sebab sebagaimana diatur dalam Pasal 5 Piagam NATO, serangan terhadap satu anggota dianggap sebagai serangan kepada semua anggota.

Bagaimanapun, Putin bisa mengambil risiko itu jika dia merasa bahwa itu adalah satu-satunya cara untuk menyelamatkan kekuasaannya. Jika Putin menghadapi kekalahan di Ukraina, dia bisa tergoda untuk mengeskalasi konflik.

Dari invasi ke Ukraina, kita sekarang tahu bahwa Putin siap melanggar norma-norma internasional. Logika serupa bisa diterapkan pada penggunaan senjata nuklir.

Pekan ini Putin menyiagakan satuan tugas nuklir Rusia pada taraf siaga tertinggi. Sebagian besar analis meragukan bahwa penggunaan senjata nuklir bisa terjadi dalam waktu dekat. Namun, itu adalah pengingat bahwa doktrin Rusia membolehkan penggunaan senjata taktis nuklir di medan pertempuran. 

"Sekarang senjata yang bicara, namun jalur dialog mesti harus tetap terbuka," kata Sekjen PBB, Antonio Guterres. Dialog jelas masih berlangsung.

Presiden Prancis, Emmanuel Macron, telah berbincang dengan Putin melalui telepon. Kemudian, para pejabat Ukraina dan Rusia telah bertemu untuk berunding di perbatasan Belarus.

Mereka mungkin tidak mencapai banyak kemajuan. Namun, dengan menyepakati pembicaraan, Putin setidaknya menerima kemungkinan negosiasi gencatan senjata.

Pertanyaan kuncinya, apakah Barat bisa menyediakan "off ramp"—istilah yang dipakai para diplomat dengan meminjam sebutan bagi jalur keluar dari jalan tol di Amerika Serikat.

Para diplomat menegaskan bahwa penting bagi Putin untuk mengetahui apa yang diperlukan agar rangkaian sanksi dari negara-negara Barat bisa dicabut sehingga dia tidak kehilangan muka.

Pertimbangkan kemungkinan ini. Perang berakibat buruk bagi Rusia. Rangkaian sanksi mulai membuat resah Moskwa. Aksi protes mulai berkembang dan kantong-kantong jenazah serdadu berdatangan.

Putin lantas bertanya-tanya apakah invasi yang dilakukan sebanding dengan hasil negatif yang dia alami. Dia bisa menilai bahwa melanjutkan perang mungkin menimbulkan ancaman lebih besar terhadap kekuasannya ketimbang rasa malu mengakhiri invasi.

China turut campur, mendesak Moskwa agar berkompromi sembari memperingatkan bahwa Beijing tidak akan menbeli minyak dan gas Rusia jika konflik tidak diredakan. Putin kemudian mulai mencari jalan keluar.

Di sisi lain, pemerintah Ukraina melihat kehancuran negara mereka dan menyimpulkan kompromi politik lebih baik ketimbang kehilangan nyawa dalam jumlah besar. Para diplomat berinteraksi dan menghasilkan kesepakatan. Ukraina, katakanlah menerima kedaulatan Rusia atas Crimea dan beberapa bagian wilayah Donbas.

Sebagai gantinya, Putin menerima kemerdekaan Ukraina dan hak mereka memperdalam hubungan dengan Eropa. Ini boleh jadi kemungkinan yang tipis. Tapi bukan hal yang mustahil skenario semacam itu bisa terwujud di tengah konflik berdarah.

Putin disingkirkan Lalu bagaimana dengan nasib Vladimir Putin? Ketika melancarkan invasi, dia menyatakan: "Kami siap menghadapi hasil apapun". Tapi bagaimana jika hasilnya adalah dia kehilangan kekuasaan? Mungkin ini sama sekali tidak terpikirkan. Namun, dunia telah berubah dalam beberapa hari terakhir dan hal itu juga tidak pernah terlintas dalam benak kita.

Sumber: Kompas.com
Halaman 3/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved