Konflik Rusia vs Ukraina

Presiden Putin Disesatkan hingga Ancaman Kudeta, Begini Menurut Analisis Barat

Penguasa Kremlin sedang menghadapi ujian besar usai melancarkan invasi atau operasi militer ke Ukraina. Presiden Rusia Vladimir Putin dinilai disesat.

Editor: Lodie Tombeg
bbc/kompas.com
Operasi militer Rusia di Ukraina. 

Di tengah sengitnya invasi Rusia ke Ukraina, sulit menatap ke depan. Berita dari medan pertempuran, meja diplomasi, serta kedukaan keluarga korban tewas dan para pengungsi datang bergelombang. Karena itu, mari duduk dengan tenang dan membahas apa saja kemungkinan yang bakal terjadi di Ukraina.

Apa saja skenario yang sedang ditinjau para politisi dan perencana militer? Berikut lima kemungkinannya.

Perang singkat Dalam skenario ini, Rusia menggencarkan operasi militernya. Akan ada gempuran artileri dan serangan membabi buta di seantero Ukraina. Angkatan Udara Rusia—yang sejauh ini kurang terdengar memainkan peranan—akan melancarkan serangan udara mematikan. Serangan siber besar-besaran juga melanda Ukraina, menargetkan sejumlah infrastruktur kunci di Ukraina. Pasokan energi dan jaringan komunikasi diputus.

Ribuan warga sipil tewas. Meskipun sudah melakukan perlawanan dengan gigih, pasukan Ukraina kalah dan Kyiv jatuh ke tangan Rusia dalam beberapa hari. Pemerintah Ukraina kemudian diganti dengan rezim boneka pro-Rusia.

Presiden Volodymyr Zelensky bisa dibunuh atau kabur ke bagian barat Ukraina atau luar negeri untuk membentuk pemerintahan terasing. Presiden Putin mendeklarasikan kemenangan dan menarik pasukannya, namun menyisakan beberapa unit untuk mempertahankan kendali atas Ukraina. Ribuan warga Ukraina berbondong-bondong mengungsi ke Barat.

Belarus menjadi negara yang tunduk pada Rusia. Kemungkinan ini tidak mustahil, tapi bakal tergantung pada beberapa faktor: Pasukan Rusia menguasai kawasan-kawasan kunci, lebih banyak personel yang dikerahkan, dan semangat tempur pasukan Ukraina memudar. Putin mungkin bisa mengubah pemerintahan di Kyiv serta mengakhiri upaya Ukraina bergabung ke kekuatan Barat.

Meski demikian, pemerintahan pro-Rusia bakal tidak sah dan rentan mengalami pemberontakan. Kondisi itu bakal tidak stabil dan kemungkinan konflik pecah lagi akan tinggi. Baca juga: Apa Itu Zona Larangan Terbang dan Kenapa Ditolak NATO di Ukraina Perang berkepanjangan Kuat kemungkinan konflik ini akan berkepanjangan.

Mungkin pasukan Rusia akan terhambat, daya juangnya menurun, logistik buruk, dan kepemimpinan yang tidak becus. Mungkin perlu waktu lebih panjang bagi pasukan Rusia untuk merebut Kyiv karena banyak petempur bergerilya.

Pengepungan untuk waktu yang lama kemudian bisa terjadi. Hal ini mengingatkan kita pada upaya Rusia nan brutal dan lama untuk merebut serta menghancurkan Grozny, ibu kota Chechnya, pada 1990-an. Milisi Chechnya saat pendudukan Rusia di Grozny.

Kendati ketika pasukan Rusia berhasil menembus sejumlah kota di Ukraina, ada kemungkinan mereka sulit mempertahankan kendali. Mungkin Rusia tidak mampu mengerahkan jumlah pasukan yang cukup untuk ditempatkan di negara yang sedemikian luas.

Pasukan Ukraina lantas berubah menjadi pasukan pemberontak yang efektif, punya daya juang tinggi, serta mendapat sokongan masyarakat.

Adapun negara-negara Barat terus menyediakan senjata dan amunisi. Setelah beberapa tahun, mungkin dengan kepemimpinan yang baru di Moskwa, pasukan Rusia akhirnya meninggalkan Ukraina dengan berdarah-darah seperti ketika hengkang dari Afghanistan pada 1989—satu dekade setelah bertempur melawan mujahidin.

Presiden Putin bisa saja bertekad mengambil alih bekas wilayah mendiang Uni Soviet dengan mengirim pasukan ke Moldova dan Georgia yang bukan anggota NATO.

Atau bisa saja terjadi salah perhitungan dan eskalasi. Putin dapat menyatakan pasokan persenjataan dari Barat kepada pasukan Ukraina sebagai tindakan agresi sehngga dia melakukan pembalasan.

Dia juga dapat mengancam untuk mengirim pasukan ke negara-negara Balkan—yang merupakan anggota NATO—seperti Lituania untuk menciptakan koridor darat dengan wilayah pesisir Rusia, Kaliningrad. Alun-alun di depan Balai Kota Kharkiv hancur akibat gempuran artileri Rusia.

Sumber: Kompas.com
Halaman 2/4
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved