Hikmah Ramadan 2026
Hikmah Ramadan: Kekuatan Salat Lail Ramadan
Salat tahajjud menyimpan kekuatan spiritual luar biasa. Di keheningan malam, kedekatan hamba dengan Tuhan terasa lebih dalam dan penuh makna.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Menteri-Agama-RI-Nasaruddin-Umar-melakukan-sesi-wawancara.jpg)
Dalam sejarah Islam, prestasi puncak banyak terjadi di malam hari, seperti awal turunnyanya Alquran, Isra’ Mi’raj dan Lailatul Qadr.
Malam hari seolah-olah jarak antara hamba dengan Tuhan begitu dekat.
Dimalam hari yang aktif lebih domeinan ialah enerji batin sehingga lebih mudah kita untuk khusyuk.
Mungkin itulah sebabnya mengapa shalat, baik fardhu maupun sunnat, lebih banyak disyari’atkan di malam hari, seperti shalat Magrib, Isya, Tarwih, Lail, Tahajjud, Witir, Fajr, Subuh, dan salat-salat sunnat lainnya.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Kembali ke Fitrah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Sedangkan di siang hari hanya ada salat dhuhur dan ashar.
Salat tahajjud dilakukan ketika semua orang asyik dengan tidurnya, sementara ada segelintir hamba-Nya tersungkur di atas sajadah di tengah kesunyian malam.
Antara yang menyembah dan yang disembah terjalin begitu akrab.
Terkadang terasa antara sang pencinta dan Yang Dicintai larut dalam kehangatan cinta.
Sesekali air mata haru kerinduan membasahi sajadah.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Silaturahim oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Sekonyong-konyong kadang terdengar bisikan: “Wahai pemilik jiwa yang haru, kembalilah kepangkuan Tuhanmu dengan rida dan diridai-Nya. Bergabunglah dengan para kekasihku yang lain, masuk ke dalam surga-Ku” (Q.S. al-Fajr/89:27:30).
Hati siapa yang tak akan luluh, jiwa mana yang takkah hanyut mendengar panggilan mesra dari Sang Pencinta?
Perjumpaan dua sosok yang saling mencintai dikeheningan malam yang sepi akan melahirkan power yang luar biasa.
Baca juga: Hikmah Ramadan: I’tikaf oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Kegemerlapan dunia menjadi redup, ambisi menjadi tumpul, keangkuhan menjadi sirna. Neraka sudah tidak membakar, surga tidak diperlukan, doa sudah selesai.
Ambillah semuanya! Aku cukup dengan Tuhanku. Akupun sudah lenyap.
Yang ada hanya Dia (La maujud illa Allah). (*)