Hikmah Ramadan 2026
Hikmah Ramadan: Mukasyafah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Mukasyafah menjadi bonus spiritual bagi hamba yang mendekat kepada Allah dengan ketaatan dan keikhlasan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nasaruddin-Umar-asgdga.jpg)
Oleh Menteri Agama Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA
TRIBUNGORONTALO.COM -- Jika seseorang telah berupaya sedemikian rupa mendekatkan diri sedekat-dekatnya kepada Allah SWT, terutama selama di dalam bulan suci Ramadan, maka tidak mustahil yang bersangkutan Allah SWT akan memberinya bonus sesuai ketetapan Allah SWT.
Di antara bonus yang paling diharapkan setiap salik (pencari Tuhan) ialah mukasyafah.
Secara literal mukasyafah berarti penyingkapan, yaitu penyingkapan dan penampakan sesuatu yang abstrak dan terselubung (mahjub).
Dalam bahasa tasawuf, mukasyafah dihubungkan dengan orang yang memiliki kemampuan untuk menyingkap rahasia dan misteri alam gaib, baik alam gaib relatif maupun alam gaib mutlak.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Kekuatan Basmalah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Alam gaib tidak sama bagi setiap orang. Tipis tidaknya atau transparansi alam gaib tidak sama bagi setiap orang.
Semakin tinggi ketaatan dan keikhlasan seseorang semakin besar peluang untuk mencapai tingkat mukasyafah.
Sebaliknya semakin rendah tingkat ketaatan dan keikhlasan seseorang semakin tebal pula penutup (hijab) yang menghalang untuk mencapai mukasyafah.
Hal-hal yang bisa menghijab seseorang untuk mencapai mukasyafah ialah dosa dan maksiat.
Sungguhpun orang tidak berdosa dan bermaksiat dan telah melakukan ibadah dan berbagai ketaatan individu dan sosial, tetap tidak ada jaminan dapat mencapai mukasyafah.
Pencapaian mukasyafah sangat ditentukan oleh keridhaan Allah SWT.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Kekuatan Salat Lail Ramadan
Orang yang mencapai mukasyafah memiliki banyak keutamaan.
Selain mampu memahami sejumlah rahasia Allah SWT, juga biasanya diberi kemampuan untuk melakukan sesuatu yang “luar biasa” (khariq li al-‘adah) yang tidak bisa dilakukan orang-orang biasa.
Perbuatan “luar biasa” itu biasa disebut dengan karamah.