Hikmah Ramadan 2026
Hikmah Ramadan: Kekuatan Doa Ramadan
Doa merupakan puncak ibadah, seperti dikatakan Nabi dalam hadisnya: Al-Du’a’ mukhul ‘ibadah (Doa adalah jantung ibadah).
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nasaruddin-Umar-jfhvjfcv.jpg)
Oleh Menteri Agama Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA
TRIBUNGORONTALO.COM — Jarak antara Tuhan dan hamba-Nya di bulan Ramadan lebih dekat, sehingga tidak heran jika doa di bulan Ramadan lebih maqbul daripada di luarnya.
Doa itu sendiri merupakan puncak ibadah, seperti dikatakan Nabi dalam hadisnya: Al-Du’a’ mukhul ‘ibadah (Doa adalah jantung ibadah).
Harapan kita kepada doa, selain untuk memperoleh harapan dari Allah SWT juga sekaligus sebagai ibadah.
Doa adalah bukti dan sekaligus pernyataan kelemahan diri kita kepada-Nya.
Orang yang malas berdoa menunjukkan keangkuhannya sebagai hamba, seolah-olah ia tidak membutuhkan bantuan Tuhan.
Orang yang arif selalu berdoa, meskipun tujuan utamanya bukan apa yang didoakan tetapi sebagai wujud ketergantungan dirinya kepada Tuhannya.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Mukasyafah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Seorang arif berdoa lebih banyak menyatakan munajat ketimbang permohonannya.
Munajat ialah pernyataan kelemahan diri di hadapan Tuhannya Yang Maha Agung dan Maha Sempurna.
Ia selalu merasa malu berdoa untuk hal-hal yang bersifat kebutuhan biologis.
Ia juga selalu khawatir jangan sampai doanya didekte oleh hawa nafsu.
Unsur terpenting di dalam doanya ialah permohonan agar Tuhan mau menerima kehadiran dirinya dan mau “merangkul” dirinya.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Kekuatan Basmalah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Itulah sebabnya, panjang doa para arifin sesungguhnya bukan doa tetapi munajat, yaitu pengagungan Diri Tuhan dan penghinaan dirinya sebagai hamba.
Ia sangat berhati-hati jika doanya makbul, karena boleh jadi sebuah doa diterima tetapi berarti penolakan dirinya terhadap-Nya.