Senin, 16 Maret 2026

Hikmah Ramadan 2026

Hikmah Ramadan: Kekuatan Salat Lail Ramadan

Salat tahajjud menyimpan kekuatan spiritual luar biasa. Di keheningan malam, kedekatan hamba dengan Tuhan terasa lebih dalam dan penuh makna.

Tayang:
Editor: Tita Rumondor
zoom-inlihat foto Hikmah Ramadan: Kekuatan Salat Lail Ramadan
Tribunnews.com
HIKMAH RAMADAN - Menteri Agama RI Nasaruddin Umar melakukan sesi wawancara khusus dengan Direktur Pemberitaan Tribun Network Febby Mahendra Putra di Sutdio Tribun Network, Jalan Palmerah Selatan, Jakarta Pusat, Selasa (28/1/2025). Salat tahajjud menyimpan kekuatan spiritual luar biasa. Di keheningan malam, kedekatan hamba dengan Tuhan terasa lebih dalam dan penuh makna. 

Oleh Menteri Agama  Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA


TRIBUNGORONTALO.COM — Salah satu kekuatan Ramadan ialah keuatan salat lail atau biasa disebut salat tahajjud.

Kekuatan salat lail itu luar biasa. Salat lail adalah salat yang dilakukan lewat tengah malam.

Salat tahajjud tidak perlu diragukan kemuliaannya. Nabi pernah bersabda, seandainya aku tidak khawatir itu diwajibkan oleh Allah SWT di kemudian hari maka aku akan menganjurkan umatku untuk selalu shalat taajjud.

Jangankan salat tahajjud, salat-salat lain yang dilakukan di malam hari itu juga amat penting artinya.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Keutamaan Shalawat

Malam hari adalah waktu paling baik untuk melaksanakan salat, karena sepertinya jarak antara Tuhan dengan hamba tersa lebih dekat di malam hari.

Mungkin itulah sebabnya mengapa umumnya salat disyariatkan di malam hari, seperti salat magrib, Isya, tarwih, lail, tahajjud, witir, fajr, dan subuh.

Di siang hari hanya ada salat dhuhur dan ashar dan di pagi hari ada dhuha.

Di dalam Alquran Allah menjanjikan suatu tempat khusus yang amat terpuji bagi para hamba yang rajin tahajjud. “Dan pada sebagian malam lakukanlah salat tahajjud (sebagai suatu ibadah) tambahan bagimu; mudah-mudahan Allah Tuhanmu mengangkatmu ke tempat yang terpuji”. (Q.S. al-Isra’/17:79).

Baca juga: Hikmah Ramadan: Menjemput Lailatul Qadr

Imam Syafi’ yang terkenal dengan shalat malamnya pernah memberikan salahsatu kiat mencapai keberhasilannya ialah dengan banyak begadang melakukan ibadah dan mujahadah di malam hari.

Ia pernah membuat suatu pernyataan yang diabadikan di dalam kitab al-Mahfudhat, yaitu: Man thalabal ula syahiral layali (Barangsiapa yang menuntut ketinggian martabat di sisih Tuhan hendaklah banyak berjaga di malam hari).

Imam Syafi’ terkenal dengan shalat tahajjudnya.

Ia memperoleh banyak inspirasi cerdas di malam hari. 

Pengarang buku-buku yang berjilid-jilid ini menyelesaikan banyak bukunya di malam hari.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Sahabat Spiritual al-Shuhbah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Para shufi banyak sekali mengaku banyak sekali memberikan pengakuan kalau dirinya memperoleh prestasi spiritual di malam hari.

Dalam sejarah Islam, prestasi puncak banyak terjadi di malam hari, seperti awal turunnyanya Alquran, Isra’ Mi’raj dan Lailatul Qadr.

Malam hari seolah-olah jarak antara hamba dengan Tuhan begitu dekat.

Dimalam hari yang aktif lebih domeinan ialah enerji batin sehingga lebih mudah kita untuk khusyuk.

Mungkin itulah sebabnya mengapa shalat, baik fardhu maupun sunnat, lebih banyak disyari’atkan di malam hari, seperti shalat Magrib, Isya, Tarwih, Lail, Tahajjud, Witir, Fajr, Subuh, dan salat-salat sunnat lainnya.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Kembali ke Fitrah Oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Sedangkan di siang hari hanya ada salat dhuhur dan ashar.

Salat tahajjud dilakukan ketika semua orang asyik dengan tidurnya, sementara ada segelintir hamba-Nya tersungkur di atas sajadah di tengah kesunyian malam.

Antara yang menyembah dan yang disembah terjalin begitu akrab.

Terkadang terasa antara sang pencinta dan Yang Dicintai larut dalam kehangatan cinta.

Sesekali air mata haru kerinduan membasahi sajadah.

Baca juga: Hikmah Ramadan: Silaturahim oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Sekonyong-konyong kadang terdengar bisikan: “Wahai pemilik jiwa yang haru, kembalilah kepangkuan Tuhanmu dengan rida dan diridai-Nya. Bergabunglah dengan para kekasihku yang lain, masuk ke dalam surga-Ku” (Q.S. al-Fajr/89:27:30).

Hati siapa yang tak akan luluh, jiwa mana yang takkah hanyut mendengar panggilan mesra dari Sang Pencinta?

Perjumpaan dua sosok yang saling mencintai dikeheningan malam yang sepi akan melahirkan power yang luar biasa.

Baca juga: Hikmah Ramadan: I’tikaf oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar

Kegemerlapan dunia menjadi redup, ambisi menjadi tumpul, keangkuhan menjadi sirna. Neraka sudah tidak membakar, surga tidak diperlukan, doa sudah selesai.

Ambillah semuanya! Aku cukup dengan Tuhanku. Akupun sudah lenyap.

Yang ada hanya Dia (La maujud illa Allah). (*)

Sumber: Tribunnews.com
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Jadwal Imsakiyah
Senin, 16 Maret 2026 (26 Ramadan 1447 H)
Kota Gorontalo
Imsak 04:29
Subuh 04:39
Zhuhr 12:00
‘Ashr 15:03
Maghrib 18:03
‘Isya’ 19:11

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved