Hikmah Ramadan 2026
Hikmah Ramadan: Halal bi Halal oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Halal bi Halal, tradisi khas Indonesia usai Lebaran, ternyata punya sejarah unik dan makna mendalam tentang persatuan dan saling memaafkan.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Nasaruddin-Umar.jpg)
Oleh Menteri Agama Prof Dr H Nasaruddin Umar, MA
TRIBUNGORONTALO.COM — Tradisi Islam paling unik di Indonesia ialah Halal bi Halal.
Tidak ada satupun negara muslim melakukan hal ini, bahkan Bahasa Arab yang dijadikan istilah ini tidak pernah dikenal di dunia Arab sekali pun.
Halal bi Halal memang bukan bahasa Arab normal.
Kata tersebut berasal dari akar kata halla-yahillu, berarti singgah, memecahkan, melepaskan, menguraikan, mengampuni.
Halal bi Halal kini menjadi istilah lain dari silaturrahim.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Kekuatan Ikhlas oleh Menteri Agama Nasaruddin Umar
Beda antara keduanya ialah halal bi Halal hanya digunakan untuk mengiringi kepergian bulan suci Ramadan sedangkan silaturrahim berlaku secara universal, menerobas batas waktu dan tempat.
Semula Halal bi Halal ini bermula ketika anak-anak muda masjid kauman Jogyakarta.
Mereka kebingungan mencari tema untuk mewadahi dua moment istimewa.
Satu sisi perayaan Idul Fitri sebagai wujud kemerdekaan spiritual dan sisi lain baru saja dilakukan Proklamasi Kemerdekaan RI.
Baca juga: Hikmah Ramadan: Kekuatan Doa Ramadan
Seperti diketahui, proklamasi kemerdekaan RI bertepatan dengan sayyidul ayyam: Jum’at dan sayyidus syahr: Ramadhan.
Bagaimana supaya kedua peristiwa ini terangkum menjadi satu, lalu diadakanlah sayembara kecil-kecilan untuk menemukan tema yang akan ditulis di dalam spanduk.
Saat itu muncul berbagai kreasi untuk memaknai suasana batin Idul Fitri.
Salah seorang seniman mengusung tema Halal bi Halal yang intinya saling memaafkan, saling merelakan, dan saling menghalalkan.