Universitas Negari Gorontalo
Penelitian UNG Soroti Bahaya Tersembunyi Diabetes bagi Kantung Empedu
Diabetes tak cuma ganggu gula darah, tapi juga bisa picu batu empedu. Risiko hampir 3x lebih tinggi pada penderita diabetes. Waspada!
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustrasi-Infografis-penelitan-UNG.jpg)
Dari 25 pasien yang memiliki riwayat diabetes, 18 orang di antaranya terdiagnosis kolelitiasis.
Analisis statistik menunjukkan nilai p = 0,008 (p < 0>
Bahkan, nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,799 menunjukkan bahwa pasien diabetes memiliki risiko hampir tiga kali lipat mengalami batu empedu dibandingkan mereka yang tidak menderita diabetes.
Baca juga: Festival Tumbilotohe UNG 2026, Mahasiswa Teknik Bawakan Lagu Hulondalo Lipu’u
Mengapa hal ini bisa terjadi?
Secara biologis, terdapat beberapa mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut:
- Resistensi insulin meningkatkan sekresi kolesterol ke dalam empedu
- Hiperglikemia kronis mengganggu kontraksi kantung empedu, sehingga empedu tidak dikeluarkan secara optimal
- Komposisi empedu menjadi lebih “litogenik” atau mudah membentuk batu
Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya batu kolesterol, yang diketahui menyumbang sekitar 90 % kasus kolelitiasis.
Baca juga: Wakil Rektor II Universitas Negeri Gorontalo Buka Festival Tumbilotohe 2026 di Kampus IV UNG
Implikasi bagi Kesehatan Masyarakat
Temuan ini menjadi semakin relevan mengingat meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia, yang dipicu oleh perubahan gaya hidup, pola makan tinggi lemak, serta kurangnya aktivitas fisik.
Jika diabetes meningkatkan risiko batu empedu hingga hampir tiga kali lipat, maka pendekatan pengelolaannya perlu diperluas.
Pengendalian diabetes tidak cukup hanya berfokus pada kadar gula darah. Pendekatan yang lebih komprehensif perlu dilakukan, antara lain:
- Mengontrol gula darah secara optimal
- Memantau profil lipid secara berkala
- Mengadopsi pola makan rendah lemak jenuh
- Meningkatkan aktivitas fisik