Selasa, 31 Maret 2026

Universitas Negari Gorontalo

Penelitian UNG Soroti Bahaya Tersembunyi Diabetes bagi Kantung Empedu

Diabetes tak cuma ganggu gula darah, tapi juga bisa picu batu empedu. Risiko hampir 3x lebih tinggi pada penderita diabetes. Waspada!

Tayang:
Editor: Tita Rumondor
zoom-inlihat foto Penelitian UNG Soroti Bahaya Tersembunyi Diabetes bagi Kantung Empedu
UNG
PENELITIAN UNG - Ilustrasi Infografis Hubungan Signifikan antara Riwayat Diabetes Melitus dan Kejadian Kolelitiasis - Diabetes tak cuma ganggu gula darah, tapi juga bisa picu batu empedu. Risiko hampir 3x lebih tinggi pada penderita diabetes. Waspada! 

Dari 25 pasien yang memiliki riwayat diabetes, 18 orang di antaranya terdiagnosis kolelitiasis.

Analisis statistik menunjukkan nilai p = 0,008 (p < 0>

Bahkan, nilai Odds Ratio (OR) sebesar 2,799 menunjukkan bahwa pasien diabetes memiliki risiko hampir tiga kali lipat mengalami batu empedu dibandingkan mereka yang tidak menderita diabetes.

Baca juga: Festival Tumbilotohe UNG 2026, Mahasiswa Teknik Bawakan Lagu Hulondalo Lipu’u

Mengapa hal ini bisa terjadi?

Secara biologis, terdapat beberapa mekanisme yang menjelaskan hubungan tersebut:

- Resistensi insulin meningkatkan sekresi kolesterol ke dalam empedu

- Hiperglikemia kronis mengganggu kontraksi kantung empedu, sehingga empedu tidak dikeluarkan secara optimal

- Komposisi empedu menjadi lebih “litogenik” atau mudah membentuk batu

Kombinasi faktor-faktor ini menciptakan kondisi ideal bagi terbentuknya batu kolesterol, yang diketahui menyumbang sekitar 90 % kasus kolelitiasis.

Baca juga: Wakil Rektor II Universitas Negeri Gorontalo Buka Festival Tumbilotohe 2026 di Kampus IV UNG

Implikasi bagi Kesehatan Masyarakat

Temuan ini menjadi semakin relevan mengingat meningkatnya prevalensi diabetes di Indonesia, yang dipicu oleh perubahan gaya hidup, pola makan tinggi lemak, serta kurangnya aktivitas fisik.

Jika diabetes meningkatkan risiko batu empedu hingga hampir tiga kali lipat, maka pendekatan pengelolaannya perlu diperluas.

Pengendalian diabetes tidak cukup hanya berfokus pada kadar gula darah. Pendekatan yang lebih komprehensif perlu dilakukan, antara lain:

- Mengontrol gula darah secara optimal

- Memantau profil lipid secara berkala

- Mengadopsi pola makan rendah lemak jenuh

- Meningkatkan aktivitas fisik

Halaman 2/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved