Senin, 30 Maret 2026

Universitas Negari Gorontalo

Penelitian UNG Soroti Bahaya Tersembunyi Diabetes bagi Kantung Empedu

Diabetes tak cuma ganggu gula darah, tapi juga bisa picu batu empedu. Risiko hampir 3x lebih tinggi pada penderita diabetes. Waspada!

Tayang:
Editor: Tita Rumondor
zoom-inlihat foto Penelitian UNG Soroti Bahaya Tersembunyi Diabetes bagi Kantung Empedu
UNG
PENELITIAN UNG - Ilustrasi Infografis Hubungan Signifikan antara Riwayat Diabetes Melitus dan Kejadian Kolelitiasis - Diabetes tak cuma ganggu gula darah, tapi juga bisa picu batu empedu. Risiko hampir 3x lebih tinggi pada penderita diabetes. Waspada! 

Ringkasan Berita:
  • Pasien diabetes memiliki risiko hampir 3 kali lipat mengalami batu empedu (kolelitiasis).
  • Batu empedu sering tanpa gejala, 50–75 persen kasus baru terdeteksi saat komplikasi muncul.
  • Pencegahan meliputi kontrol gula, lipid, pola makan sehat, aktivitas fisik, dan USG untuk pasien berisiko.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Selama ini, Diabetes melitus dikenal luas sebagai kondisi yang memengaruhi kadar gula darah dan menimbulkan komplikasi serius seperti penyakit jantung, kerusakan ginjal, hingga gangguan saraf.

Namun, penelitian terbaru mengungkap fakta baru: pengaruh diabetes tidak hanya berhenti pada organ-organ tersebut.

Ternyata, penyakit ini juga berpotensi mengganggu kesehatan kantung empedu, organ kecil yang sering terlupakan.

Sebuah studi yang diterbitkan oleh Peneliti Fakultas Kedokteran UNG melalui Medic Nutricia: Jurnal Ilmu Kesehatan (2025) menemukan hubungan yang signifikan antara riwayat diabetes melitus dan munculnya Kolelitiasis di RSUD Prof. Dr. H. Aloei Saboe.

Hasil ini menegaskan bahwa gangguan metabolik seperti diabetes tidak hanya memengaruhi gula darah, tapi juga dapat memicu pembentukan batu empedu.

PENELITIAN UNG - Ilustrasi Infografis Hubungan Signifikan antara Riwayat Diabetes Melitus dan Kejadian Kolelitiasis -
PENELITIAN UNG - Ilustrasi Infografis Hubungan Signifikan antara Riwayat Diabetes Melitus dan Kejadian Kolelitiasis - (UNG)

Baca juga: UNG Buka Peluang Emas untuk Calon Mahasiswa melalui UTBK-SNBT 2026

Batu Empedu: Sering Terjadi Tanpa Disadari

Kolelitiasis adalah kondisi munculnya batu dalam kantung empedu akibat penumpukan kolesterol atau pigmen empedu. Di seluruh dunia, diperkirakan sekitar 11,7 % populasi mengalami kondisi ini.

Masalahnya, banyak kasus yang tidak menimbulkan gejala sama sekali.

Sekitar 50–75 % pasien bahkan tidak menyadari keberadaan batu hingga komplikasi serius muncul, seperti peradangan kantung empedu (kolesistitis) atau pankreatitis.

Data RSUD Aloei Saboe menunjukkan bahwa dari 91 pasien yang diteliti sepanjang 2024, sebanyak 45 orang (49,5 % ) dicurigai mengalami kolelitiasis.

Angka ini menandakan hampir separuh pasien dengan keluhan empedu berpotensi memiliki batu sesuatu yang tidak bisa diabaikan begitu saja.

Baca juga: Halal Bihalal UNG: Rektor Tegaskan Refleksi Pasca-Ramadan dan Perkuat Sinergi Kampus

Siapa yang Paling Berisiko?

Hasil penelitian menunjukkan bahwa kolelitiasis cenderung lebih sering terjadi pada perempuan (72,5 % ) dan individu berusia 45–59 tahun (37,4 % ).

Secara medis, perempuan memiliki risiko lebih tinggi karena hormon estrogen berperan dalam meningkatkan kadar kolesterol dalam empedu. 

Di sisi lain, kelompok usia paruh baya hingga lanjut mengalami perubahan metabolisme lemak dan penurunan kemampuan kantung empedu untuk berkontraksi.

Meski begitu, faktor yang paling menonjol adalah diabetes melitus.

Baca juga: Rektor UNG Eduart Wolok Bakal Salat ID di Masjid Kampus, Lanjut Open House Bersama Sivitas Akademika

Diabetes dan Risiko Batu Empedu: Hampir Tiga Kali Lipat

Halaman 1/3
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

Berita Populer

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved