TNI Gorontalo Meninggal
Sahabat Menangis Histeris di Liang Lahat Serda Rein Pasau TNI Gorontalo Korban Longsor
Tangis pecah di liang lahat Serda Mar (Anumerta) Rein Pasau. Di tengah pelayat yang mengelilingi makam, seorang pemuda tampak
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/TNI-GUGUR-Rian-W-Abjul-25-sahabat-dekat-almarhum-yang-selama.jpg)
Ringkasan Berita:
- Serda Mar (Anumerta) Rein Pasau, prajurit TNI AL asal Gorontalo yang gugur akibat longsor di Bandung Barat, dimakamkan di Kelurahan Pauwo, Kecamatan Kabila, Bone Bolango.
- Suasana duka mendalam menyelimuti prosesi pemakaman, terutama dari sang ibu yang tak kuasa menahan tangis sejak jenazah diturunkan hingga prosesi berakhir.
- Almarhum dikenal sebagai tulang punggung keluarga dan salah satu dari 23 prajurit Marinir yang gugur dalam peristiwa tersebut.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo -- Tangis pecah di liang lahat Serda Mar (Anumerta) Rein Pasau.
Di tengah pelayat yang mengelilingi makam, seorang pemuda tampak paling terpukul.
Ia adalah Rian W. Abjul (25), sahabat dekat almarhum yang dikenal sebagai teman sebantal kepala Rein sejak masa sekolah.
Rian tak kuasa menahan histeris saat tanah mulai menutup jasad sahabatnya.
Tubuhnya gemetar, suaranya tercekat, dan pandangannya tak lepas dari liang lahat.
Bahkan setelah pelayat mulai meninggalkan area pemakaman, Rian masih terduduk di sisi makam, menangis sendirian di tempat Rein dimakamkan.
Rian datang jauh-jauh dari tempat kerjanya di kawasan industri IWIP, Ternate, Maluku Utara.
Ia pulang ke Gorontalo khusus untuk satu tujuan: mengantarkan sahabat yang telah ia anggap sebagai adik kandung sendiri ke peristirahatan terakhir.
“Kita dua tinggal sama-sama tiga tahun. Susah, senang, semua sama-sama. Dia itu bukan cuma teman, tapi sudah seperti adik kandung. Bahkan mama saya anggap dia anak sendiri,” ujar Rian dengan suara bergetar, usai pemakaman Rein di Kelurahan Pauwo, Kecamatan Kabila, Kabupaten Bone Bolango, Sabtu (31/1/2026).
Persahabatan Rian dan Rein terjalin sejak masa sekolah. Keduanya tinggal bersama di musala sekolah dalam kondisi serba terbatas.
Di tengah kesulitan ekonomi, mereka saling menguatkan dan bertahan bersama.
“Rein itu adik kelas. Kita tinggal di musala, pernah juga diusir. Sama-sama melarat, tapi kita saling kuatkan,” kenang Rian sambil menyeka air mata.
Bagi Rian, Rein bukan sekadar teman sekolah atau teman tidur. Rein adalah sosok yang selalu hadir dalam segala keadaan.
Saat lapar, mereka berbagi. Saat susah, mereka saling menguatkan. Semua fase kehidupan dijalani bersama.