Peran Saka Nasional Gorontalo
Nama Tiga Pelajar Gorontalo Jadi Petugas Upacara Pembukaan Peran Saka Nasional 2025 di Bongohulawa
Tiga pelajar asal Gorontalo mendapat kehormatan besar menjadi petugas upacara pada pembukaan Perkemahan Antar Satuan Karya (Peran Saka) Nasional 2025
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PERAN-SAKA-NASIONAL-Potret-tiga-pelajar-jadi-bertugas-di-pembukaan-acara-Peran-Saka.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo – Tiga pelajar asal Gorontalo mendapat kehormatan besar menjadi petugas upacara pada pembukaan Perkemahan Antar Satuan Karya (Peran Saka) Nasional 2025 di Bumi Perkemahan Bongohulawa, Kecamatan Limboto, Kabupaten Gorontalo, Senin (3/11/2025).
Mereka adalah Ni Putu Ayu Margareti (17) dari SMA Negeri 1 Limboto sebagai pembaca Undang-Undang, Rahmat Saputra J Rahman (17) dari MAN 1 Kabupaten Gorontalo sebagai pembaca Pancasila, dan Try Chintia Sari (16) juga dari MAN 1 Kabupaten Gorontalo sebagai pembaca Dasa Darma Pramuka.
Ketiganya berdiri di depan ribuan peserta dari 34 provinsi dalam suasana khidmat di bawah terik matahari Limboto.
Baca juga: 2 Remaja Gorontalo Tampil di Peran Saka Nasional 2025, Bangga Bawa Seni Daerah ke Panggung Nasional
Meski panas menyengat, suara ketiganya terdengar lantang saat membacakan naskah masing-masing di hadapan Ketua Kwartir Nasional (Kwarnas) Gerakan Pramuka, Komjen Pol (Purn) Budi Waseso, dan jajaran pejabat daerah.
Saat diwawancarai, ahmat Saputra J. Rahman mengaku proses menuju panggung utama itu tidak mudah. Ia dan rekan-rekannya menjalani latihan intensif selama tiga minggu di bawah bimbingan pembina.
“Saya pembaca Pancasila. Latihan kami kurang lebih tiga minggu,” ujar Rahmat dengan nada bangga.
Ia menambahkan, selain latihan vokal dan teks, mereka juga dilatih cara berdiri, gestur tubuh, hingga mengatur pernapasan saat tampil di depan tamu undangan.
Sementara itu, Ni Putu Ayu Margareti merasa kesempatan ini menjadi momen bersejarah dalam hidupnya.
Ia menilai, tidak semua pramuka bisa mendapat kepercayaan seperti ini.
“Dari ribuan penegak dan pandega di Gorontalo, hanya kami yang terpilih. Itu sangat membanggakan,” ucap Ni Putu Ayu.
Ia mengaku sempat gugup sesaat sebelum tampil, namun rasa bangga dan tanggung jawab membuatnya tetap percaya diri.
“Begitu kami dipanggil kami sempat gugup, saya cuma ingat satu, harus tampil terbaik untuk Gorontalo,” katanya.
Lain halnya dengan Try Chintia Sari. Gadis berusia 16 tahun itu menjadi pembaca Dasa Darma Pramuka.
Ia mengatakan hafalan dan pengendalian diri menjadi kunci utama agar tampil lancar di depan ribuan peserta.
“Yang pertama itu harus hafal mati, dan yang kedua tetap rileks,” katanya.