Berita Internasional
Tersangka Penembak Mati Charlie Kirk Tampil di Sidang Perdana, Jaksa Tuntut Hukuman Mati
Tyler Robinson, tersangka pembunuhan aktivis sayap kanan sekaligus penasihat dekat Donald Trump, Charlie Kirk, untuk pertama kalinya muncul
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/SIDANG-PERDANA-Tersangka-Penembak-Mati-Charlie-Kirk.jpg)
TRIBUNGORONTALO.COM – Tyler Robinson, tersangka pembunuhan aktivis sayap kanan sekaligus penasihat dekat Donald Trump, Charlie Kirk, untuk pertama kalinya muncul di hadapan publik sejak insiden penembakan di Utah.
Robinson mengikuti sidang perdana secara virtual dari penjara, tampak tidak bercukur dan mengenakan rompi pencegah bunuh diri.
Sepanjang persidangan ia hampir tanpa ekspresi, hanya menjawab singkat saat diminta mengonfirmasi identitasnya.
Jaksa Penuntut Umum Utah County menegaskan akan menuntut hukuman mati terhadap Robinson.
Keputusan itu disampaikan Jaksa Distrik Jeffrey Gray dalam konferensi pers, dengan alasan bukti dan sifat kejahatan yang dinilai sangat serius.
"Keputusan ini saya ambil secara independen, hanya berdasarkan bukti yang ada dan keadaan kasus," kata Gray.
Langkah ini sejalan dengan seruan sejumlah politisi, termasuk Donald Trump, yang secara terbuka menuntut agar pelaku dijatuhi hukuman mati.
Kronologi Penembakan
Robinson dituduh menembak Charlie Kirk dengan satu kali tembakan senapan dari atap gedung kampus Utah Valley University di Orem, sekitar 65 kilometer selatan Salt Lake City.
Peluru tersebut mengenai leher Kirk dan langsung menewaskannya.
Dalam dokumen pengadilan, jaksa mengungkap Robinson sempat mengirim pesan singkat kepada pasangan yang tinggal bersamanya.
“Berhenti apa pun yang kamu lakukan, lihat di bawah keyboard saya,” pesannya.
Rupanya, di bawah keyboar itu ada secarik kertas yang ditulis dengan mengutarakan maksudnya.
“Saya mendapat kesempatan untuk menyingkirkan Charlie Kirk dan saya akan melakukannya,” katanya.
“Saya sudah muak dengan kebenciannya. Ada kebencian yang tidak bisa lagi dinegosiasikan.”
Menurut jaksa, serangan ini sudah direncanakan lebih dari sepekan sebelumnya.
Bukti DNA dan Pesan Inkriminasi
Penyidik menemukan bukti DNA Robinson pada senapan yang digunakan dalam penembakan.
Senjata itu disebut milik kakeknya. Dalam pesan lain, Robinson bahkan mengaku menyesal tidak sempat mengambil kembali senapan tersebut.
“Saya khawatir apa yang akan dilakukan ayah jika saya tidak mengembalikan senapan kakek. Mungkin saya harus meninggalkannya dan berharap mereka tidak menemukan sidik jari,” tulisnya.
Robinson juga dituduh berupaya menghapus jejak dengan meminta pasangannya menghapus pesan-pesan digital yang memberatkan.
Ia menghadapi tujuh dakwaan, termasuk pembunuhan berencana dengan pemberatan, menghalangi proses hukum, serta mengintimidasi saksi.
Viral dan Picu Kekhawatiran Politik
Aksi penembakan yang terekam dalam video amatir dan menyebar luas di media sosial memicu gelombang kecaman dari berbagai pihak.
Insiden ini kembali membuka perdebatan tentang polarisasi politik di Amerika Serikat dan kekhawatiran bahwa kekerasan politik bisa semakin meningkat.
Usai penembakan, Robinson sempat buron lebih dari 30 jam sebelum akhirnya menyerahkan diri.
Kini ia ditahan di Washington County Jail tanpa hak bebas dengan pengawasan khusus.(*)
| Mojtaba Khamenei jadi Pemimpin Baru Iran, Amerika Emosi Sebut tak Bakal "Hidup" Lama |
|
|---|
| Perang Iran Meluas ke Banyak Negara, Lebih dari 1.300 Orang Tewas dalam Enam Hari |
|
|---|
| Konflik Iran Picu Lonjakan Harga BBM di Amerika Gara-gara Jalur Minyak Dunia Terganggu |
|
|---|
| Serangan Drone Iran Tewaskan Tentara Amerika, Washington Curiga Ada Bantuan Intelijen Rusia |
|
|---|
| Hari Keenam Perang Iran-Amerika: Kapal Perang Tenggelam, Rudal Hantam Banyak Negara |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.