Berita Sulutenggo
Kronologi Sakti Tangahu Warga Bolmut Terjebak di Kamboja, Alami Penyiksaan Sadis
Warga Desa Bolangitan II, Kecamatan Bolangitan Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara, Sakti Tangahu (33
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/ILUSTRASI-SCAM-Sakti-Tangahu-menjadi-korban-diduga-TPPO.jpg)
Ringkasan Berita:
- Warga Bolmut, Sakti Tangahu, mengaku menjadi korban TPPO setelah dijanjikan pekerjaan di Vietnam namun justru dibawa ke Kamboja.
- Ia dipaksa bekerja sebagai pelaku penipuan daring dan mengaku mengalami kekerasan selama berada di sana.
- Sakti akhirnya dipulangkan ke Indonesia dalam kondisi luka dan berharap pengalamannya menjadi peringatan bagi masyarakat.
TRIBUNGORONTALO.COM — Warga Desa Bolangitan II, Kecamatan Bolangitan Barat, Kabupaten Bolaang Mongondow Utara (Bolmut), Sulawesi Utara, Sakti Tangahu (33), mengaku menjadi korban tindak pidana perdagangan orang (TPPO) setelah dijanjikan pekerjaan di luar negeri.
Alih-alih memperoleh pekerjaan layak, Sakti justru mengaku terjebak dalam jaringan scam internasional di Kamboja dan mengalami berbagai bentuk kekerasan.
Kepada TribunGorontalo.com, Jumat (6/2/2026), Sakti memaparkan kronologi kejadian yang dialaminya melalui sambungan telepon WhatsApp.
Berawal dari Tawaran Kerja Kerabat
Sakti mengungkapkan, tawaran pekerjaan tersebut datang dari anggota keluarga dekatnya.
Karena berasal dari orang yang dikenal, ia mengaku tidak menaruh kecurigaan.
Saat itu, Sakti memang tengah mencari pekerjaan dengan penghasilan yang lebih baik.
“Saya sempat tanya kerja apa, tapi tidak pernah disebutkan Kamboja. Saya hanya diberitahu kerja di Vietnam,” ujarnya.
Baca juga: Wakil Kepala Intelijen Militer Rusia Ditembak di Moskow, Pelaku Masih Diburu
Setelah menyatakan bersedia, Sakti diberikan biaya perjalanan. Ia berangkat dari Bolmut menuju Gorontalo, kemudian melanjutkan perjalanan ke Jakarta.
Diarahkan Mengurus Paspor Wisata
Setibanya di Jakarta, Sakti diarahkan mengurus paspor. Ia mengaku paspor tersebut diurus dengan alasan perjalanan wisata.
Sebelum memasuki kantor imigrasi, ia juga mendapat arahan dari orang-orang yang diduga sebagai agen.
“Mereka bilang kalau ditanya petugas imigrasi, jawab saja mau liburan lima sampai tujuh hari, jangan bilang mau kerja,” katanya.
Paspor Sakti diterbitkan pada hari yang sama. Setelah itu, ia menunggu beberapa orang lain dari berbagai daerah, termasuk Medan. Mereka kemudian dimasukkan dalam satu grup komunikasi.
Perjalanan ke Vietnam Berujung Masuk Kamboja
Beberapa hari kemudian, rombongan diberangkatkan menggunakan penerbangan dini hari.
Perjalanan dimulai dari Jakarta menuju Kuala Lumpur, Malaysia, kemudian dilanjutkan ke Ho Chi Minh City, Vietnam.
“Di tiket memang tertulis Ho Chi Minh. Saya baru tahu itu Vietnam setelah bertanya ke teman,” ungkapnya.
Setibanya di Vietnam pada sore hari, rombongan dijemput oleh pihak yang tidak mereka kenal.
Mereka kemudian dibawa menggunakan kendaraan darat selama sekitar tiga hingga empat jam.
Dalam perjalanan, mereka melewati dua pos pemeriksaan. Saat itu, paspor seluruh rombongan dikumpulkan oleh pihak tertentu.
“Kami berhenti di satu imigrasi, paspor dikumpul. Tidak lama kemudian berhenti lagi di imigrasi lain. Saya tidak tahu kalau itu sudah masuk Kamboja,” tuturnya.
Sakti mengaku baru menyadari dirinya telah diselundupkan secara ilegal setelah kembali ke Indonesia.
Dipaksa Bekerja Menipu Korban
Setibanya di kawasan perusahaan di Kamboja pada malam hari, Sakti sempat dibawa ke tempat hiburan. Namun keesokan harinya, ia langsung dipaksa bekerja.
“Saya disuruh duduk di depan komputer dan diberi skrip. Setelah dibaca, ternyata itu untuk menipu orang,” ujarnya.
Ia menjelaskan, tugas mereka mencari korban melalui media sosial Facebook.
Target utama adalah tenaga kerja wanita (TKW) asal Indonesia yang bekerja di luar negeri, seperti di Malaysia, Singapura, Hong Kong, Taiwan, Thailand, hingga Timur Tengah.
“Kami diminta kirim pertemanan, membangun komunikasi, bahkan pura-pura menjalin hubungan asmara sampai korban percaya,” katanya.
Setelah korban percaya, mereka diarahkan melakukan panggilan video bermuatan intim.
Rekaman tersebut kemudian digunakan untuk mengancam korban agar mengirimkan uang.
Tidak Digaji dan Berujung Kekerasan
Selama sekitar tiga bulan bekerja, Sakti mengaku tidak pernah menerima gaji meskipun dijanjikan upah bulanan.
“Katanya ada gaji, tapi selalu dipotong dengan berbagai alasan, seperti biaya perjalanan dan target kerja. Saya tidak pernah memegang uang itu,” jelasnya.
Merasa tidak sanggup lagi, Sakti berusaha meminta dipulangkan ke Indonesia. Namun, permintaan tersebut justru berujung kekerasan.
Ia mengaku sempat menyatakan ingin meminta perlindungan di kantor perwakilan Indonesia.
Namun, menurut pengakuannya, ia justru mengalami penyiksaan.
“Saya dipukul, diinjak, diborgol. Tangan saya sampai berdarah. Saya disiksa. Saya pikir waktu itu saya sudah mau mati,” ungkapnya.
Sakti juga mengaku sempat ditahan dan dibawa ke penjara selama beberapa hari.
Ia menyebut melihat aparat dan petugas berseragam sebelum akhirnya kembali dibawa keluar.
Dipulangkan dalam Kondisi Luka
Beberapa hari kemudian, Sakti akhirnya dipulangkan ke Indonesia. Namun dalam proses pemulangan, ia mengaku kembali mengalami kekerasan.
“Saya diborgol pakai tali, dipukul di dalam mobil, dipaksa dibawa ke rumah sakit dan disuntik obat penenang,” katanya.
Sakti tiba di Indonesia dalam kondisi fisik lemah dan mengalami banyak luka.
Hikma, warga Gorontalo yang merupakan anggota keluarga Sakti, membenarkan kondisi tersebut.
“Waktu dia tiba di Gorontalo, kami melihat langsung banyak luka di tubuhnya. Dia juga bercerita sempat dipukul,” ujar Hikma.
Kasus yang dialami Sakti menambah daftar warga Indonesia yang diduga menjadi korban TPPO dengan modus penawaran kerja di luar negeri.
Ia berharap pengalamannya dapat menjadi peringatan bagi masyarakat agar lebih berhati-hati terhadap tawaran pekerjaan, termasuk yang datang dari orang terdekat. (*)
| ASN Diduga Gunakan Aplikasi GPS Palsu Kelabui Absensi Kerja Bakal Ditindak Tegas! |
|
|---|
| Dijanjikan Kerja di Vietnam, Sakti Tangahu Warga Bolmut Malah Terjebak Penipuan Online di Kamboja |
|
|---|
| Miris, Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Bolsel Didominasi Orang Terdekat |
|
|---|
| Buaya Terlihat di Selat Manado, Pemkot Imbau Warga Tak Beraktivitas di Laut |
|
|---|
| Diduga Lakukan Pelecehan, Staf Khusus Gubernur Sulut Resmi Diberhentikan |
|
|---|
Isi komentar sepenuhnya adalah tanggung jawab pengguna dan diatur dalam UU ITE.