Berita Sulutenggo
Miris, Pelaku Kekerasan Seksual Anak di Bolsel Didominasi Orang Terdekat
Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2025.
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/WOMAN-BACK-Sebanyak-30-anak-di-Kabupaten-Bolaang-Mongondow.jpg)
Ringkasan Berita:
- Sebanyak 30 anak di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan menjadi korban kekerasan seksual sepanjang 2025, dengan tren kasus yang terus meningkat dibanding tahun sebelumnya.
- Mayoritas pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban, seperti keluarga maupun tetangga.
- Pemerintah daerah melalui DPPKBP3A terus melakukan edukasi dan membentuk Forum Anak Daerah sebagai upaya pencegahan dan pelaporan kasus.
TRIBUNGORONTALO.COM – Kasus kekerasan seksual terhadap anak di Kabupaten Bolaang Mongondow Selatan (Bolsel), Sulawesi Utara, menunjukkan tren peningkatan sepanjang 2025.
Data dari Dinas Pengendalian Penduduk, Keluarga Berencana, Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (DPPKBP3A) Bolsel mencatat sedikitnya 30 anak menjadi korban dalam kurun waktu tersebut.
Jumlah itu disebut lebih tinggi dibandingkan tahun sebelumnya. Bahkan, angka sebenarnya diperkirakan bisa lebih besar karena masih banyak kasus yang tidak dilaporkan kepada pihak berwenang.
Kepala Bidang Perlindungan dan Pemenuhan Hak Anak DPPKBP3A Bolsel, Siti Mardatillah Van Gobel, mengungkapkan bahwa laporan kasus kekerasan seksual terhadap anak cenderung mengalami kenaikan setiap tahun.
Baca juga: KPAI Soroti Kasus Bullying Siswa yang Akhiri Hidup di NTT, Minta Polisi Selidiki Tuntas
“Berdasarkan data yang masuk ke kami, jumlah kasus terus bertambah setiap tahun,” ujar Siti saat dikonfirmasi, Rabu (4/2/2026).
Menurutnya, fenomena gunung es masih menjadi tantangan dalam penanganan kasus kekerasan terhadap anak.
Banyak korban maupun keluarga memilih tidak melapor karena berbagai faktor, termasuk rasa takut dan stigma sosial.
“Kalau ditelusuri lebih jauh, kemungkinan jumlahnya bisa lebih dari 30 kasus. Masih ada masyarakat yang enggan melapor,” jelasnya.
Fakta lain yang menjadi perhatian adalah mayoritas pelaku berasal dari lingkungan terdekat korban.
Kondisi tersebut dinilai sangat memprihatinkan karena pelaku justru berasal dari orang-orang yang seharusnya menjadi pelindung.
“Sebagian besar pelaku adalah orang dekat korban. Ada yang berasal dari lingkungan keluarga seperti kakek tiri, ayah angkat, bahkan tetangga,” ungkap Siti.
Sebagai langkah pencegahan, DPPKBP3A Bolsel terus menggencarkan edukasi dan sosialisasi terkait perlindungan anak.
Program tersebut menyasar lingkungan sekolah guna meningkatkan pemahaman siswa mengenai bahaya kekerasan seksual.
“Kami rutin melakukan sosialisasi di sekolah-sekolah agar anak-anak memahami bentuk kekerasan seksual dan cara menghindarinya,” katanya.