Berita Internasional
Trump Ancam Naikkan Tarif Produk Korea Selatan hingga 25 Persen, Apa Penyebabnya dan Dampaknya?
Pada Senin waktu setempat, Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor terhadap produk Korea Selatan, termasuk mobil, kayu,
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Para-pendukung-berkumpul-di-dekat-kediaman-resmi-Presiden-Korea-Selatan.jpg)
Ringkasan Berita:
- Presiden AS Donald Trump mengancam menaikkan tarif impor produk Korea Selatan dari 15 persen menjadi 25 persen dengan alasan kesepakatan dagang belum dijalankan parlemen Seoul.
- Jika diterapkan, kebijakan ini berpotensi memukul keras industri otomotif Korea Selatan yang sangat bergantung pada pasar Amerika Serikat.
- Ancaman ini juga memperpanjang daftar tekanan dagang Trump terhadap mitra-mitra utama AS dalam beberapa waktu terakhir.
TRIBUNGORONTALO.COM — Presiden Amerika Serikat Donald Trump kembali mengguncang peta perdagangan global.
Pada Senin waktu setempat, Trump menyatakan akan menaikkan tarif impor terhadap produk Korea Selatan, termasuk mobil, kayu, dan produk farmasi dari 15 persen menjadi 25 persen.
Langkah ini diambil dengan alasan Seoul dinilai tidak menjalankan kesepakatan dagang yang sebelumnya telah disepakati dengan Washington.
Pernyataan tersebut disampaikan Trump melalui akun Truth Social miliknya.
Ia secara terbuka menyebut parlemen Korea Selatan “tidak menepati” kesepakatan dagang yang telah dicapai dengan Amerika Serikat.
Baca juga: Bansos PKH dan BPNT Cair Februari 2026 untuk 18 Juta Keluarga, Ini Cek Penerima Bantuan
“Legislatif Korea Selatan tidak menjalankan kesepakatannya dengan Amerika Serikat,” tulis Trump.
Ia menambahkan, kenaikan tarif dilakukan karena parlemen Korea Selatan belum mengesahkan perjanjian dagang tersebut, meskipun ia mengakui hal itu merupakan kewenangan internal negara tersebut.
Ancaman tarif ini muncul beberapa bulan setelah Washington dan Seoul mencapai kesepakatan dagang dan keamanan yang mengakhiri periode negosiasi panjang dan penuh ketegangan.
Kesepakatan itu difinalisasi usai pertemuan Trump dengan Presiden Korea Selatan Lee Jae Myung pada Oktober lalu.
Dalam perjanjian tersebut, Korea Selatan berkomitmen melakukan investasi di Amerika Serikat, sementara Washington setuju menurunkan tarif impor untuk sejumlah produk utama Korea Selatan.
Salah satu poin krusialnya adalah penurunan tarif mobil Korea Selatan dari 25 persen menjadi 15 persen, sebuah kebijakan yang sangat menguntungkan industri otomotif Negeri Ginseng.
Namun, Trump kini menyebut kesepakatan itu belum dijalankan karena parlemen Korea Selatan belum mengesahkannya secara resmi.
Pemerintah Korea Selatan sendiri mengaku tidak menerima pemberitahuan sebelumnya terkait rencana kenaikan tarif tersebut.
Kantor Kepresidenan Korea Selatan menyatakan Menteri Perdagangan Kim Jung-kwan, yang tengah berada di Kanada, akan segera bertolak ke Washington untuk melakukan pembicaraan dengan Menteri Perdagangan AS Howard Lutnick guna meredam eskalasi.