Berita Internasional
AS Jatuhkan Tarif 25 Persen ke Negara yang Masih Berbisnis dengan Iran di Tengah Protes Berdarah
Amerika Serikat resmi menjatuhkan tarif sebesar 25 persen terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Iran
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PRESIDEN-Donald-Trump-yang-saat-itu-merupakan-calon-presiden-dari-Partai-Republik.jpg)
Ringkasan Berita:
- Amerika Serikat menjatuhkan tarif 25 persen kepada negara-negara yang masih melakukan bisnis dengan Iran di tengah eskalasi protes anti-pemerintah.
- Presiden Donald Trump menyatakan dukungan terhadap demonstran dan mengancam tindakan militer terhadap rezim Iran.
- Sementara itu, korban tewas terus bertambah dan dukungan internasional, termasuk dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky, mulai bermunculan.
TRIBUNGORONTALO.COM -- Amerika Serikat resmi menjatuhkan tarif sebesar 25 persen terhadap negara-negara yang masih menjalin hubungan bisnis dengan Iran, di tengah berlanjutnya gelombang protes anti-pemerintah di negara tersebut.
Kebijakan ini diumumkan langsung oleh Presiden AS Donald Trump pada 12 Januari.
“Berlaku segera, negara mana pun yang melakukan bisnis dengan Republik Islam Iran akan dikenakan tarif sebesar 25 persen atas setiap dan seluruh aktivitas bisnis yang dilakukan dengan Amerika Serikat. Perintah ini bersifat final dan mengikat,” tulis Trump melalui platform Truth Social miliknya.
Baca juga: Studi Baru Ungkap Efek Tersembunyi Obat Darah Tinggi, Disebut Penyebab Gangguan Usus
Trump secara terbuka menyatakan dukungannya terhadap para demonstran di Iran.
Ia juga kembali melontarkan ancaman akan mengambil tindakan militer terhadap rezim Iran jika terus melakukan penindasan terhadap massa aksi.
“Iran sedang melihat peluang menuju kebebasan, mungkin seperti yang belum pernah terjadi sebelumnya. Amerika Serikat siap membantu,” ujar Trump pada 10 Januari.
Gelombang protes di Iran bermula pada 28 Desember, ketika para pedagang pasar dan pemilik toko menutup usaha mereka sebagai bentuk protes terhadap melonjaknya inflasi dan anjloknya nilai tukar rial Iran.
Aksi tersebut dengan cepat berkembang menjadi demonstrasi besar-besaran bernuansa anti-pemerintah.
Dalam perkembangannya, para demonstran secara terbuka menyerukan pencopotan Pemimpin Tertinggi Iran, Ayatollah Ali Khamenei.
Situasi pun semakin memanas setelah aparat keamanan melancarkan penindasan keras terhadap massa.
Baca juga: Iran Peringatkan Amerika agar Tak Ikut Campur dalam Kerusuhan! Tegaskan Bakal Balas Keras
Menurut kelompok hak asasi manusia berbasis di Amerika Serikat, Human Rights Activists News Agency (HRANA), sedikitnya 544 orang dilaporkan tewas hingga 11 Januari akibat tindakan represif aparat.
Sementara itu, media independen Iran International pada 10 Januari melaporkan bahwa setidaknya 2.000 demonstran tewas hanya dalam kurun waktu 48 jam.
Dukungan terhadap demonstran Iran juga datang dari Presiden Ukraina Volodymyr Zelensky.
Ia menyerukan dukungan internasional dan menegaskan bahwa dunia tidak boleh melewatkan momen perubahan yang sedang terjadi di Iran.
| Mojtaba Khamenei jadi Pemimpin Baru Iran, Amerika Emosi Sebut tak Bakal "Hidup" Lama |
|
|---|
| Perang Iran Meluas ke Banyak Negara, Lebih dari 1.300 Orang Tewas dalam Enam Hari |
|
|---|
| Konflik Iran Picu Lonjakan Harga BBM di Amerika Gara-gara Jalur Minyak Dunia Terganggu |
|
|---|
| Serangan Drone Iran Tewaskan Tentara Amerika, Washington Curiga Ada Bantuan Intelijen Rusia |
|
|---|
| Hari Keenam Perang Iran-Amerika: Kapal Perang Tenggelam, Rudal Hantam Banyak Negara |
|
|---|