Berita Internasional
Harga Minyak Dunia Stabil, Pasar Dibayangi Risiko Geopolitik dan Kelebihan Pasokan
Harga minyak dunia cenderung stabil pada perdagangan Kamis (11/9/2025), di tengah tarik-menarik antara kekhawatiran melemahnya
TRIBUNGORONTALO.COM -- Harga minyak dunia cenderung stabil pada perdagangan Kamis (11/9/2025), di tengah tarik-menarik antara kekhawatiran melemahnya permintaan di Amerika Serikat, risiko kelebihan pasokan global, serta meningkatnya ketegangan geopolitik di Timur Tengah dan perang Rusia–Ukraina.
Kontrak berjangka Brent tercatat turun 21 sen atau 0,3 persen menjadi US$67,28 per barel pada pukul 09.11 GMT.
Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat merosot 26 sen atau 0,4 % ke level US$63,41 per barel.
Sehari sebelumnya, kedua acuan harga minyak itu sempat menguat lebih dari US$1 per barel setelah serangan Israel terhadap pimpinan Hamas di Qatar, serta pengerahan pertahanan udara Polandia dan NATO untuk menembak jatuh drone Rusia yang masuk ke wilayah udara Polandia ketika menyerang Ukraina barat.
Namun, laporan bulanan International Energy Agency (IEA) memperingatkan bahwa pasokan minyak dunia akan meningkat lebih cepat dari perkiraan sepanjang tahun ini.
Hal itu dipicu kenaikan produksi negara-negara anggota OPEC+ serta tambahan pasokan dari produsen di luar kelompok tersebut, sementara pertumbuhan permintaan diperkirakan terbatas.
“Pasar sedang terombang-ambing antara persepsi kekurangan pasokan akibat memanasnya situasi di Timur Tengah dan Ukraina, dengan kenyataan adanya kelebihan pasokan dari lonjakan produksi OPEC+ dan peningkatan stok minyak yang terlihat dari laporan mingguan dan bulanan EIA,” kata analis PVM Oil Associates, Tamas Varga.
Selain itu, ketidakpastian terkait kemungkinan sanksi sekunder terhadap pembeli minyak Rusia di China dan India turut menopang harga.
Namun, menurut Varga, harga minyak berpotensi kembali melemah apabila tensi geopolitik mulai mereda.
Data dari Energy Information Administration (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah AS meningkat 3,9 juta barel pada pekan yang berakhir 5 September.
Angka ini berbanding terbalik dengan ekspektasi pasar yang memperkirakan penurunan 1 juta barel.
Dari sisi makroekonomi, pelemahan ekonomi AS memicu spekulasi bahwa Federal Reserve akan menurunkan suku bunga pada pekan depan.
“Pelaku pasar kini cenderung berhati-hati menunggu rilis laporan inflasi AS, karena data CPI yang lebih tinggi dari perkiraan bisa mengganggu ekspektasi pemangkasan suku bunga yang lebih agresif,” ujar analis pasar IG, Tony Sycamore.
Sementara itu, pada Minggu lalu, OPEC+ resmi memutuskan untuk meningkatkan produksi mulai Oktober mendatang. OPEC dijadwalkan merilis laporan pasar minyak bulanannya pada Kamis ini.
(*)
| Intelijen Korea Selatan Sebut Kim Jong Un Siapkan Putrinya Jadi Pewaris Kepemimpinan Korea Utara |
|
|---|
| WhatsApp Diblokir Total di Rusia, Kremlin Dorong Warga Gunakan Aplikasi Pesan Nasional |
|
|---|
| Iran Sebut Amerika Ajukan Empat Syarat untuk Hindari Perang, Negosiasi Nuklir Masih Berlangsung |
|
|---|
| Analisis Geopolitik Jika Amerika Berani Serang Iran, Kapal Induk USS Abraham Lincoln Bisa Tenggelam |
|
|---|
| Dituduh Amerika Uji Coba Nuklir, China Bantah Sebut Trump Sebarkan Narasi Palsu |
|
|---|
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/080422-kilang-minyak.jpg)