Ramadan 2026

Muhammadiyah, Pemerintah, dan BRIN Punya Prediksi Ramadan 2026, Ini Perbedaannya

Penetapan resmi awal Ramadan berada di tangan Kementerian Agama Republik Indonesia melalui sidang isbat. Walaupun keputusan final belum diumumkan

Editor: Wawan Akuba
TribunGorontalo.com/WawanAkuba
PEMANTAUAN HILAL -- Tim BMKG melakukan pemantauan hilal Ramadan 1445H. Foto diambil saat pemantuaan dilakukan di rooftop Polairud Polda Gorontalo 2023 lalu. 

Ringkasan Berita:
  • Awal Ramadan 2026 diperkirakan berlangsung pada 18 atau 19 Februari berdasarkan perhitungan sejumlah lembaga dan organisasi Islam. 
  • Pemerintah, BRIN, dan Nahdlatul Ulama cenderung memprediksi puasa dimulai 19 Februari, sedangkan Muhammadiyah menetapkan 18 Februari 2026. 
  • Perbedaan tersebut disebabkan variasi metode penentuan hilal yang digunakan masing-masing pihak.

 

TRIBUNGORONTALO.COM -- Antusiasme masyarakat dalam menyambut bulan suci Ramadan 2026 mulai terasa.

Salah satu hal yang paling banyak dicari adalah perkiraan waktu dimulainya ibadah puasa. 

Meski penetapan resmi masih menunggu keputusan pemerintah, sejumlah lembaga riset dan organisasi keagamaan telah merilis proyeksi waktu yang bisa menjadi gambaran awal bagi umat Muslim.

Perkiraan awal Ramadan di Indonesia umumnya ditentukan melalui dua pendekatan, yakni metode hisab (perhitungan astronomi) dan rukyat (pengamatan hilal).

Baca juga: Nambah Pinjaman Rp229 Triliun Hingga Akhir 2025, Kini Total Utang Indonesia Capai Rp9.637 Triliun

Kedua metode tersebut digunakan secara berbeda oleh pemerintah maupun organisasi masyarakat Islam, sehingga sering menimbulkan kemungkinan perbedaan tanggal awal puasa.

Gambaran Penentuan Awal Ramadan Versi Pemerintah

Penetapan resmi awal Ramadan berada di tangan Kementerian Agama Republik Indonesia melalui sidang isbat.

Walaupun keputusan final belum diumumkan, kalender Hijriah nasional tahun 2026 memberikan sinyal bahwa 1 Ramadan berpeluang jatuh pada Kamis, 19 Februari 2026.

ILUSTRASI -- Pemantauan Hilal Ramadan di Gorontalo. FOTO: Wawan Akuba
ILUSTRASI -- Pemantauan Hilal Ramadan di Gorontalo. FOTO: Wawan Akuba (TribunGorontalo.com/WawanAkuba)

Dasar pertimbangan ilmiah dalam penetapan tersebut turut melibatkan data astronomi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika.

Berdasarkan analisis BMKG, fenomena konjungsi, yakni saat posisi Bulan dan Matahari sejajar secara ekliptika, menjadi titik awal perhitungan kemunculan hilal.

Penghitungan menunjukkan pada 17 Februari 2026, posisi hilal di Indonesia masih berada di bawah horizon sehingga tidak memungkinkan untuk diamati.

Baca juga: Lowongan Kerja Daily Worker KAI Services untuk Masa Angkutan Lebaran 2026 Resmi Dibuka

Kondisi berbeda terjadi sehari setelahnya, ketika posisi Bulan sudah berada cukup tinggi di atas ufuk dan dinilai memenuhi syarat visibilitas hilal.

Perhitungan tersebut juga mengacu pada kesepakatan regional MABIMS, yang menetapkan hilal dianggap layak terlihat jika mencapai ketinggian minimal tiga derajat dengan elongasi 6,4 derajat.

Proyeksi Berdasarkan Kajian Astronomi Nasional

Pendapat senada juga disampaikan oleh Badan Riset dan Inovasi Nasional. Lembaga ini memperkirakan awal Ramadan 1447 Hijriah kemungkinan besar berlangsung pada 19 Februari 2026.

Ahli astronomi BRIN, Thomas Djamaluddin, menjelaskan potensi perbedaan awal Ramadan bukan hanya dipengaruhi posisi Bulan, tetapi juga pendekatan penentuan hilal yang digunakan.

Halaman 1/2
Rekomendasi untuk Anda

Ikuti kami di

Berita Terkini

© 2026 TRIBUNnews.com Network,a subsidiary of KG Media.
All Right Reserved