Kecelakaan Maut Minsel
FULL Wawancara Eksklusif Tribun Gorontalo Bersama Ibu dan Adik Korban Kecelakaan Maut di Minsel
Duka mendalam menyelimuti keluarga korban kecelakaan maut di Desa Sapa, Kecamatan Tenga
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Farida-Walangadi-ibu-Fanny-Anelsia-Mustaki-bersama-Reza-Mustaki.jpg)
Reza Mustaki:
"Kalau saya jujur, saya coba tenang. Karena kalau saya tidak tenang, bagaimana dengan mama saya.
Saat saya dengar kabar itu, saya langsung matikan handphone, lalu bilang ke mama untuk sabar. Insya Allah sabar itu di awal, saat pertama dengar kabar buruk itu kita harus tahan diri.
Menangis, iya menangis. Tapi jangan sampai meratapi berlebihan atau menyalahkan takdir."
Di tengah duka, Reza memilih mengambil peran dalam proses pengurusan jenazah sebagai bentuk penghormatan terakhir bagi kedua kakaknya.
Apa yang Anda lakukan sebagai bentuk penghormatan terakhir?
Reza Mustaki:
"Saya minta izin ke keluarga untuk bantu urusan jenazah kedua kakak saya.
Saya hubungi teman-teman untuk siapkan pengurusan jenazah.
Saya juga minta izin untuk menjadi imam salat jenazah. Itu sebagai persembahan terakhir untuk mereka sebelum dimakamkan."
Menurut Reza, kedua kakaknya dikenal sebagai sosok yang baik dan penuh kepedulian di lingkungan sekitar.
Baca juga: Keluarga Fanny dan Yessi Mustaki di Gorontalo Buka Opsi Jalur Hukum: Supaya Tidak Ada Lagi Korban
Seperti apa sosok kedua kakak Anda di mata keluarga?
Reza Mustaki:
"Kalau tetangga saja bilang mereka sosok yang baik. Mereka sampai mencatat ulang tahun tetangga di kalender dan berusaha merayakan, walaupun sederhana.
Kalau ada yang meninggal di sekitar, mereka bantu dari awal sampai hari ke-40, bahkan dalam pembiayaan. Kebaikan mereka itu berlipat-lipat."
Reza juga mengungkapkan adanya momen yang kini terasa sebagai firasat sebelum kepergian sang kakak.
Apakah ada tanda-tanda sebelum kejadian?
Reza Mustaki: