Siswi Gorontalo Dikeroyok
Siswa SMA Gorontalo Korban Penganiayaan Alami Trauma Berat, Takut Keluar Rumah dan Sering Menangis
Kabut pilu menyelimuti perasaan seorang siswi kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustarasi-Penganiayaan-gdfhghbvbdvcdsc.jpg)
Interaksi sosial yang dulunya biasa dilakukan, kini menjadi hal yang menakutkan bagi remaja kelas XI ini.
Pihak sekolah sebenarnya telah mencoba memediasi pertemuan antar orang tua untuk menyelesaikan masalah ini secara kekeluargaan.
Namun, harapan akan adanya itikad baik justru berujung kekecewaan bagi ibu korban karena tidak adanya permintaan maaf yang tulus.
Mirisnya, salah satu orang tua pelaku yang berprofesi sebagai pendidik justru disinyalir melakukan pembelaan berlebihan terhadap anaknya.
Hal ini memicu kemarahan R, yang merasa keadilan bagi anaknya tidak akan tercapai jika hanya melalui jalur damai di sekolah.
R kini telah memantapkan hati untuk menempuh jalur hukum demi mencari keadilan yang seadil-adilnya bagi putrinya.
"Saya tidak ingin ada damai karena harus ada efek jera agar kejadian serupa tidak terulang," tegasnya.
(TribunGorontalo.com/Jefry Potabuga)