Siswi Gorontalo Dikeroyok
Siswa SMA Gorontalo Korban Penganiayaan Alami Trauma Berat, Takut Keluar Rumah dan Sering Menangis
Kabut pilu menyelimuti perasaan seorang siswi kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustarasi-Penganiayaan-gdfhghbvbdvcdsc.jpg)
Nahas, di lokasi yang dijanjikan, korban ternyata sudah ditunggu oleh tiga remaja perempuan yang siap melampiaskan amarah.
Satu dari ketiga pelaku tersebut diketahui merupakan teman sekelas korban sendiri, sosok yang seharusnya menjadi rekan belajar di sekolah.
Korban sempat berupaya bernegosiasi agar pembicaraan dilakukan secara baik-baik di dalam rumah tersebut.
Bahkan, pemilik rumah yang menjadi lokasi pertemuan sempat melarang rombongan remaja itu untuk pergi keluar karena hari sudah gelap.
Namun, tekanan dari para pelaku membuat korban tidak berdaya dan akhirnya terpaksa mengikuti kemauan mereka menuju sebuah lapangan di jalan eks Agussalim.
Di lokasi yang sepi dan minim penerangan itulah, tindakan tidak manusiawi mulai dilancarkan kepada korban yang tak berdaya.
Ponsel milik korban disita secara paksa agar ia tidak bisa menghubungi siapapun untuk meminta pertolongan.
Adu mulut yang dipicu oleh masalah asmara itu dengan cepat berubah menjadi aksi kekerasan fisik yang brutal.
Rambut korban ditarik dengan kasar, ia dipukul berkali-kali, dan bagian perutnya ditendang oleh para pelaku secara bergantian.
Kekejaman tidak berhenti di situ; korban bahkan dibanting ke tanah hingga kepalanya terasa pening luar biasa.
"Saat dia berusaha bangun, wajahnya disenter lalu dipukul lagi," cerita R, menggambarkan betapa traumatisnya momen yang dialami anaknya.
Kekerasan yang terencana ini meninggalkan bekas luka lebam di sekujur tubuh, namun yang lebih parah adalah hancurnya rasa percaya diri korban.
Setelah kejadian, korban yang dalam keadaan syok sempat bersembunyi di rumah temannya karena merasa takut dan malu untuk pulang.
Keluarga yang akhirnya mengetahui kejadian tersebut langsung membawa korban untuk menjalani visum dan pemeriksaan medis malam itu juga.
Hasil pemeriksaan psikiater menyimpulkan bahwa korban mengalami guncangan jiwa yang masuk dalam kategori trauma berat.