Siswi Gorontalo Dikeroyok
Siswa SMA Gorontalo Korban Penganiayaan Alami Trauma Berat, Takut Keluar Rumah dan Sering Menangis
Kabut pilu menyelimuti perasaan seorang siswi kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Gorontalo.
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Fadri Kidjab
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/Ilustarasi-Penganiayaan-gdfhghbvbdvcdsc.jpg)
Ringkasan Berita:
- Korban mengalami guncangan jiwa yang sangat dalam hingga takut keluar rumah, menolak makan, dan sering menangis histeris
- Insiden dipicu masalah asmara di mana korban dibawa ke lapangan sepi, ponselnya disita
- Ibu korban (R) secara tegas menolak mediasi dan memilih menempuh jalur hukum
TRIBUNGORONTALO.COM – Kabut pilu menyelimuti perasaan seorang siswi kelas XI di salah satu SMA Negeri di Kota Gorontalo.
Remaja yang seharusnya menghabiskan waktu dengan belajar dan bercengkerama bersama teman sebaya, kini justru terpuruk dalam trauma mendalam.
Pasca menjadi korban dugaan pengeroyokan oleh tiga remaja perempuan, kondisi psikologis korban dilaporkan merosot tajam. Ia kini menarik diri sepenuhnya dari lingkungan sosial.
Ketakutan yang luar biasa kini membayangi keseharian korban. Rumah yang seharusnya menjadi tempat istirahat, kini menjadi satu-satunya benteng perlindungan karena ia merasa dunia luar tak lagi aman.
Berdasarkan keterangan pihak keluarga, korban mengalami perubahan perilaku yang sangat drastis sejak peristiwa kelam pada Senin malam (19/1/2026) tersebut.
Tangisan yang pecah secara tiba-tiba menjadi pemandangan menyedihkan bagi sang ibu, R, yang terus mendampingi putrinya dalam kondisi hancur.
"Anak saya trauma berat. Dia tidak mau makan berhari-hari, takut keluar kamar, dan sering menangis sendiri," ungkap R kepada TribunGorontalo.com, Sabtu (24/1/2026).
Luka fisik mungkin bisa mengering seiring waktu, namun luka batin yang dialami siswi SMA ini tampaknya butuh waktu jauh lebih lama untuk sembuh.
Setiap kali teringat akan kejadian di lapangan minim cahaya itu, tubuh korban dilaporkan kerap gemetar hebat karena rasa takut yang belum hilang.
Baca juga: Siswi SMA Gorontalo Diduga Dikeroyok 3 Remaja Perempuan hingga Trauma, Ortu Korban Tolak Damai
Upaya untuk memulihkan kondisi mentalnya pun menghadapi jalan terjal. Saat dibawa ke Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPA), sesi asesmen tidak berjalan mulus.
Psikiater yang menangani korban terpaksa menghentikan pemeriksaan karena korban terus-menerus menangis histeris dan tidak sanggup mengeluarkan sepatah kata pun.
Kondisi ini menegaskan betapa dalamnya dampak kekerasan yang diterima korban, baik secara fisik maupun verbal dari para pelaku.
Kronologi Kejadian
Pengeroyokan ini bermula ketika korban berpamitan pada Senin malam (19/1/2026) sekitar pukul 18.30 Wita untuk berkumpul di rumah seorang teman.
Sebagai anak yang dikenal pendiam dan tertutup, sang ibu sama sekali tidak memiliki firasat buruk saat mengizinkan putrinya pergi.