Human Interest Story
Curhat Pedagang Pasar Rakyat Jajan 'PRJ' Kota Gorontalo yang Kini tak Dilirik Pembeli
Begitu gigih perjuangan para pedagang Pasar Rakyat Jajan (PRJ) Kota Gorontalo. Meski tak dilirik pembeli, pedagang di pasar ini
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PRJ-Potret-Pasar-Rakyat-Jajan-atau-PRJ-Kota-Gorontalo.jpg)
Ia mengatakan beberapa pengunjung datang hanya karena menunggu penumpang kendaraan.
“Mereka datang tunggu mobil, beli minum sedikit, habis itu pergi,” katanya.
Hasni mengaku tetap bertahan karena tidak punya pilihan lain.
“Kalau tutup, mau kerja apa lagi? Jadi kami tetap buka saja, walaupun hasil sedikit,” ujarnya.
Beberapa pedagang juga mengeluhkan kebijakan pemindahan kios saat penataan dilakukan.
Seorang pedagang perempuan menceritakan bahwa sebelumnya ia berada di depan pasar, namun setelah penataan dipindahkan ke belakang semakin sepi.
“Kami dipindahkan ke bagian belakang. Katanya supaya rapi. Tapi ternyata di belakang lebih sepi lagi,” katanya.
Ia mengatakan penjualan langsung turun drastis setelah pindah.
“Barang dagangan lama habis. Ada yang sampai dua bulan tidak laku. Modal habis, usaha tidak berkembang,” ujarnya.
Menurutnya, banyak pelanggan malas masuk ke bagian belakang pasar.
“Mereka tidak mau naik ke atas atau masuk ke dalam. Jadi lebih banyak yang lewat di depan saja,” katanya.
Harapan Pedagang
Para pedagang berharap pemerintah tidak hanya membangun fisik pasar, tetapi juga menghidupkan aktivitas.
Mereka menyarankan agar pemerintah membuat coffee street seperti di Pasar Sentral untuk menarik pelanggan.
Amat di lapangan juga terlihat bangunan Pasar Jajan Kota Tua didominasi warna kuning, hijau muda, dan hijau tua.
Beberapa kios memiliki atap seng dengan rangka besi hitam.
Di beberapa sudut, cat mulai mengelupas, memperlihatkan lapisan semen di bawahnya.
Di depan kios, ember plastik, termos, dan etalase kecil tertata rapi, namun tidak banyak hasil jualan yang berkurang hingga sore hari.
Di sisi luar pasar, bangunan tua berdinding tebal dengan jendela tinggi masih berdiri, menjadi penanda kawasan bersejarah Kota Tua.
Namun di dalam pasar, suasana terasa kontras, warna cerah bangunan tidak sejalan dengan aktivitas yang minim.
Para pedagang mengaku tidak menuntut banyak, hanya ingin pasar kembali hidup seperti dulu. (*)