Human Interest Story
Curhat Pedagang Pasar Rakyat Jajan 'PRJ' Kota Gorontalo yang Kini tak Dilirik Pembeli
Begitu gigih perjuangan para pedagang Pasar Rakyat Jajan (PRJ) Kota Gorontalo. Meski tak dilirik pembeli, pedagang di pasar ini
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PRJ-Potret-Pasar-Rakyat-Jajan-atau-PRJ-Kota-Gorontalo.jpg)
Ringkasan Berita:
- Para pedagang Pasar Rakyat Jajan Kota Gorontalo tetap bertahan meski omzet menurun drastis dan kios terlihat lengang, karena berdagang menjadi satu-satunya penghasilan mereka.
- Perbaikan pasar dan penataan kios belum mampu menarik pengunjung, bahkan beberapa pedagang terpaksa menutup lapak karena sepi dan biaya sewa tinggi.
- Pedagang berharap pemerintah tidak hanya fokus pada pembangunan fisik, tetapi juga menciptakan aktivitas yang bisa menghidupkan kembali pasar, seperti konsep coffee street.
TRIBUNGORONTALO.COM, Gorontalo — Begitu gigih perjuangan para pedagang Pasar Rakyat Jajan (PRJ) Kota Gorontalo. Meski tak dilirik pembeli, pedagang di pasar ini, memilih tetap bertahan.
Alasannya sederhana, mereka tak punya tempat jualan. Sementara berdagang jadi satu-satunya keahlian yang mereka miliki.
Saat didatangi TribunGorontalo.com siang tadi, Senin (19/1/2026), para pedagang ini setia menggelar lapak.
PRJ berada di kawasan Kota Tua Gorontalo. Secara administratif lokasinya di Kelurahan Biawao, Kecamatan Kota Selatan, Kota Gorontalo, Provinsi Gorontalo.
Mayoritas pedagang mengeluhkan omzet yang merosot tajam dalam beberapa tahun belakangan.
Bahkan, kata mereka ada yang hanya membawa pulang belasan ribu rupiah dalam sehari, sementara biaya sewa ruko dengan harga tinggi.
Pantauan TribunGorontalo.com, Senin (19/1/2026), lorong pasar terlihat lengang sejak sore hari itu.
Baca juga: Susi Air Buka Lowongan Kerja Januari 2026: Terbuka untuk Lulusan SMA atau SMK
Kursi plastik warna hijau dan oranye tersusun rapi di depan kios, tetapi hampir semuanya kosong.
Dari sisi kiri pintu masuk, tiang bangunan bercat hijau muda menopang atap seng dengan cat yang mulai kusam dan mengelupas di beberapa bagian.
Lantai keramik terlihat retak di sudut-sudut lorong, sebagian warnanya memudar karena jarang terinjak pengunjung.
Di sisi kanan, meja panjang berlapis plastik merah berjajar tanpa pembeli. Beberapa kios tampak gelap dengan rolling door setengah tertutup.
Di depan salah satu kios, termos air panas masih mengepul tipis, tetapi pemilik warung hanya duduk menunggu sambil sesekali menatap pintu masuk pasar.
Lorong tengah pasar nyaris tanpa suara tawar-menawar. Yang terdengar hanya langkah pedagang yang mondar-mandir, serta bunyi kendaraan dari jalan utama yang melintas di luar kawasan Kota Tua.
Apalagi sangat ironis di bagian belakang sama sekali tak ada pembeli hanya pedagang yang menunggu dalam ketidak pastian.