Human Interest Story
Curhat Pedagang Pasar Rakyat Jajan 'PRJ' Kota Gorontalo yang Kini tak Dilirik Pembeli
Begitu gigih perjuangan para pedagang Pasar Rakyat Jajan (PRJ) Kota Gorontalo. Meski tak dilirik pembeli, pedagang di pasar ini
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PRJ-Potret-Pasar-Rakyat-Jajan-atau-PRJ-Kota-Gorontalo.jpg)
Beberapa lapak pun nampak kosong ditinggal pedagang karena mencari penghidupan di tempat lain.
Salah satu pedagang, Iin Idi (43), menceritakan kondisi yang ia alami selama beberapa tahun terakhir.
Ia sudah berjualan di kawasan Kota Tua ini sejak 2014. “Sekarang ini pendapatan sudah jauh sekali turun. Kadang cuma dapat Rp15 ribu, kadang juga tidak dapat apa-apa sama sekali. Pernah buka dari pagi sampai sore, tidak ada satu pun yang beli,” kata Iin lirih.
Ia awalnya menjual barang kebutuhan harian. Namun karena makin sepi, ia beralih menjual makanan ringan dan gorengan agar bisa bertahan.
“Dulu saya jual barang harian, tapi makin lama makin tidak laku. Orang jarang masuk ke pasar. Jadi saya pindah jual makanan, harapannya bisa lebih cepat laku. Tapi ternyata sama saja, tetap sepi,” ujarnya.
Iin mengatakan biaya sewa ruko di Pasar Jajan Kota Tua mencapai Rp120 ribu per bulan. Angka itu menurutnya berat jika dibandingkan dengan pendapatan saat ini.
“Kalau sepi begini, mau tutup juga bingung, karena sudah terlanjur di sini. Tapi kalau buka juga, sering tekor. Kadang uang hasil jualan tidak cukup untuk bayar sewa, hanya cukup untuk sehari-hari, ” katanya.
Ia mengaku sempat berharap pasar akan ramai setelah dilakukan perbaikan dan penataan.
“Waktu pasar ini diperbaiki, kami semua senang. Pikir kami, mungkin setelah ini banyak orang datang. Tapi sampai sekarang, yang datang tetap sedikit. Banyak orang cuma lewat saja,” ujarnya.
Di kios tak jauh dari tempat Iin berjualan, tepatnya di bagian belakang, ada lapak milik Agus Mohammad yang sudah kosong.
Pria ini sebelumnya menjual es dan minuman dingin.
“Saya sudah tutup beberapa bulan lalu. Tidak kuat lagi,” kata Agus saat ditemui kembali di kawasan itu.
Menurut Agus, ia sempat mencoba bertahan setelah pandemi, namun jumlah pembeli terus menurun.
“Setiap hari buka, tapi paling cuma dapat beberapa gelas. Kadang tidak cukup untuk beli bahan lagi. Lama-lama rugi terus, jadi saya putuskan berhenti,” katanya.
Ia mengatakan banyak pedagang lain mengalami hal serupa.