Human Interest Story
Curhat Pedagang Pasar Rakyat Jajan 'PRJ' Kota Gorontalo yang Kini tak Dilirik Pembeli
Begitu gigih perjuangan para pedagang Pasar Rakyat Jajan (PRJ) Kota Gorontalo. Meski tak dilirik pembeli, pedagang di pasar ini
Penulis: Jefry Potabuga | Editor: Wawan Akuba
:quality(30):format(webp):focal(0.5x0.5:0.5x0.5)/gorontalo/foto/bank/originals/PRJ-Potret-Pasar-Rakyat-Jajan-atau-PRJ-Kota-Gorontalo.jpg)
“Ada juga yang tutup diam-diam. Awalnya buka, lalu sepi, akhirnya tidak buka lagi. Tinggal kios kosong,” ujarnya.
Pedagang makanan lainnya, Teti Abdullah, sudah berjualan sejak 2015. Di sela-sela menunggu pembeli, Ia mengatakan kondisi pasar memang terlihat lebih rapi setelah perbaikan, tetapi tidak berdampak besar pada jumlah pengunjung.
“Kalau soal bangunan, memang sudah diperbaiki. Tapi ukuran kios kecil-kecil. Tidak semua orang nyaman duduk lama di sini,” ujarnya.
Menurut Teti, orang yang datang ke kawasan Kota Tua kebanyakan hanya ingin lewat atau hanya sopir yang menunggu penumpang ke Bome Pantai Bone Bolango.
“Mereka jarang singgah makan. Paling beli satu dua, lalu pergi. Tidak seperti di tempat lain yang ada tempat nongkrong, orang bisa duduk lama,” katanya.
Ia menilai lokasi pasar kurang strategis untuk menarik keramaian.
“Di kota sekarang banyak tempat yang lebih estetik. Orang lebih pilih ke sana. Kalau di sini, suasananya sepi, malam juga cepat habis,” ujarnya.
Seorang pedagang lain menceritakan bahwa sebelum pandemi, kondisi pasar jauh berbeda.
“Dulu kalau lagi ramai, saya bisa dapat sampai Rp2 juta sehari. Sekarang kalau dapat Rp500 ribu saja sudah bagus sekali,” katanya.
Ia mengatakan penurunan terjadi perlahan. Dari mulai corona, banjir bandang hingga perbaikan pasar.
“Awalnya masih lumayan. Tapi lama-lama makin turun. Sekarang hari biasa paling cuma puluhan ribu sampai seratus ribuan,” ujarnya.
Hasni Abdullah, pedagang makanan dan barang harian lebih miris. Dia mengaku tetap membuka warung setiap hari meski pengunjung sedikit.
“Kadang ada orang mampir, tapi paling satu dua. Tidak menentu,” katanya.
Menurut Hasni, jam ramai hampir tidak ada lagi. Bahkan yang laku hanya rokok tiga batang.
“Kalau dulu masih ada jam ramai, sekarang tidak jelas. Kadang pagi sepi, siang sepi, sore juga sepi,” ujarnya.